
NATHAN'S POV
"Perceraian yang terjadi antara aktor dan aktris era 90an Wina Starleen dan Ethan Dawson sungguh mengejutkan. Pernikahan mereka yang telah berlangsung selama hampir tiga puluh tahun itu telah dikaruniai seorang putra, pendiri Dawson's Entreprise, Nathan Daw.."
Aku mematikan televisi dan melempar remot asal ke atas sofa. Tidak ada apapun yang kurasakan. Pernikahan kedua orang tuaku memang sudah berakhir sejak dulu, hanya saja.. mereka masih menikah di atas kertas. Aku menghela nafas. Kenapa, Ma? Kita sama-sama tidak beruntung dalam urusan cinta?
Aku menelepon Mama. Tidak diangkat. Mungkin ia sibuk minum-minum dengan teman-temannya. Sedangkan Papa? Entahlah. Aku tidak ingin apa yang terjadi pada mereka menghancurkan suasana hatiku. Sejak kecil, aku terbiasa sendiri. Hanya ada para pembantu di rumah. Kedua orang tuaku selalu disibukkan dengan pekerjaan, kegiatan amal, dan kegiatan sosial mereka. Hal itulah yang membuatku juga menjadi anak yang pembangkang dan masa mudaku bisa dikategorikan sedikit liar. Aku berangsur-angsur berubah saat mendirikan perusahaanku sendiri. Aku sibuk. Tidak ada lagi yang benar-benar kupedulikan, hingga Lula hadir dalam hidupku.
.
.
.
LULA'S POV
"Huek.. Huek.." Aku menyeka dahiku dengan punggung tangan. Ini tidak seperti yang kubaca di internet. Kenapa baru sekarang aku mengalami morning sickness? Aku harap aku sudah mengunci pintu kamarku. Aku harap Mama tidak mendengarnya.
Ketika aku keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarku, Mama sudah berdiri di balik pintu. Astaga. Aku lupa mengunci pintu kamar.
Aku tidak berani menatap mata Mama, dan aku rasa hal itulah yang membuatnya bertanya..
"Kamu kenapa?" ada nada tidak percaya dalam suaranya. Jantungku berdegup kencang. Inikah saatnya, Tuhan?
Aku menatap kedua mata Mama. Aku bisa melihat jelas ketidaksukaan darinya untukku. Rasanya seperti tercabik. Mengetahui bahwa ibu kandungku sendiri memiliki rasa tidak suka padaku. Ia menatap perutku yang sedikit lebih berisi dari yang ia tahu, dan itu sudah cukup. Itu sudah lebih daripada penjelasanku.
Ia berbalik dengan cepat. Aku tidak mampu melihat pandangannya yang sudah pasti penuh rasa benci. Aku hanya bisa menunduk dan menangis.
Sedetik kemudian, ia berbalik dan mengangkat satu tangannya ke udara. Seolah-olah semua ini terlalu berat untuknya. Aku ingin sekali menenangkannya, tapi aku merasa tak pantas. Perasaan jijik pada diriku sendiri yang ada pada awal kehamilanku pun kembali. Apakah Mama juga merasakan hal yang sama padaku? Aku akan melakukan apapun saat itu, agar tidak perlu memiliki bayi ini.
Aku meraih tangan Mama, walaupun aku tidak dapat berkata-kata. Aku hanya tidak ingin ia meninggalkanku sendiri.
__ADS_1
Mama menghempaskan tanganku. Wajahnya terlihat emosi.
"Siapa?" ujarnya lirih.
Aku terdiam. Aku tidak ingin.. Mama menghubungi Adrian. Aku hanya ingin membesarkan anak ini sendirian. Aku akan melakukan apapun agar tidak ada seorangpun yang tahu.
"Kamu bahkan tidak bisa memberitahu Mama?" Mama setengah berteriak. Aku berlutut di hadapannya, seolah memohon ampunan. Saat Mama menggerakkan tangannya, aku menutup kedua mataku. Aku tahu bahwa apapun yang ia akan lakukan padaku, aku pantas menerimanya. Tapi aku salah, Mama tidak memukulku. Ia memegang dadanya.
.
.
.
Aku yang melihat Mama kesakitan, segera menelepon ambulans. Aku menyesali segala perbuatanku. Aku harusnya tahu Mama memiliki kondisi jantung yang lemah. Aku memang hanyalah anak yang tidak berbakti.
Aku membawa Mama untuk bersandar.
Tak berselang lama, ambulans tiba. Dua orang perawat pria berpakaian serba hijau datang dan membawa Mama dengan tandu. Aku tak berani menatap Mama yang seperti kehabisan nafas. Aku takut. Aku benar-benar takut kehilangan satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.
.
.
.
ADRIAN'S POV
Tempat ini gelap seperti biasanya. Gelap dan lembab. Satu-satunya meja di rumah ini penuh dengan alat-alat yang aku tidak paham fungsinya. Ada juga beberapa jarum suntik seperti yang sering aku lihat di televisi. Biasanya, orang dewasa yang sudah selesai bermain dengan alat ini akan tertidur, atau setengah tertidur. Entahlah. Yang kupedulikan hanya Chewie.
Aku menengkurapkan tubuhku di lantai. Dingin, tapi nyaman. Aku terus fokus pada Chewie, satu-satunya mainanku. Chewie adalah sebuah mobil berwarna biru. Bentuknya sudah sangat jelek karena Mommy pernah membantingnya hingga pintunya terlepas.
__ADS_1
Aku hanya bisa mendengar samar-samar suara aneh yang dibuat oleh dua orang dewasa. Salah satunya, milik perempuan yang paling kusayangi, Mommy. Mereka terdengar kesakitan. Tapi aku tidak akan membuka pintu kamar. Tidak lagi.
Aku memegang perutku. Lapar. Apa sebaiknya aku pergi ke ujung jalan? Aku suka pergi kesana karena ada sebuah restoran. Aku biasanya mencari makanan di sebuah tempat sampah hijau besar yang terbuat dari besi. Kadang bila beruntung, aku bisa menemukan sedikit milkshake yang tidak habis diminum pemiliknya. Beberapa kali aku juga menemukan potongan burger terenak yang pernah kumakan.
Yang jelas, aku tidak mau membuka pintu kamar. Aku tidak boleh mengganggu Mommy lagi. Aku tidak ingin teman Mommy yang besar itu memukuliku lagi hanya karena aku meminta makanan.
"Bayar dulu, bodoh!" Bentak Mommy pada teman laki-lakinya.
Aku merapatkan tubuhku pada tembok di kolong meja. Aku tahu, laki-laki itu akan segera keluar. Aku tidak ingin bertemu dengan salah satu dari mereka. Mereka jahat. Mereka sering menyakitiku.
BUG..
Suara apa itu? Apakah ada benda yang jatuh di kamar Mommy?
"Aaaahhh!" Teriak Mommy.
"Bayar dulu hutangmu padaku, jal*ng! Kurasa kau tidak akan bisa melunasinya meskipun aku m**idurimu ratusan kali!" Pria itu keluar dari kamar Mommy. Ia membanting pintu kamar Mommy sehingga pintu itu terbuka sedikit. Aku bisa melihat Mommy dari sini. Ia menutup matanya.
Pria itu menunduk, mendekatiku. Ia menghembuskan asap rokok padaku lewat mulutnya. Aku terbatuk. Tiba-tiba aku merasakan rasa panas pada pundakku.
"Aaaahhh, Mommy!"
Pria itu menempelkan ujung rokoknya pada pundakku, membuat bajuku bolong dan kulitku seperti terbakar.
"Pergi sana sebelum kuhaja* kau!" teriaknya di depan wajahku. Aku tidak akan bisa melupakannya. Pria dengan bau asap rokok itu. Mommy memiliki banyak teman, tapi hanya dia yang selalu melakukan itu padaku. Aku beruntung hari ini, ia tidak memukuliku habis-habisan.
.
.
.
__ADS_1
Aku segera bangun dari tidur. Aku kehabisan nafas. Aku baru saja bermimpi rupanya. Mimpi yang sangat nyata. Aku tahu itu merupakan potongan dari masa kecilku. Masa yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun sebelumnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu dihantui mimpi buruk. Setiap memejamkan mata, aku pasti melihat anak itu. Anak laki-laki bermata biru itu.