Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Masa Lalu Adrian


__ADS_3

ADRIAN'S POV


Sudah tiga hari Lula tinggal di rumah Mama. Lula. Lula. Lula. Itu saja yang ada di pikiranku. Apalagi setelah kemarin, aku melihatnya lagi-lagi diantar jemput oleh bos nya yang tidak tahu diri itu. Apa Lula sengaja? Ia keluar dari rumah agar bisa berselingkuh dengan pria itu? Aku menghela nafas sembari menyetir menuju rumah sakit.


Oke, Adrian. Fokus. Sebentar lagi waktunya bekerja, bukan saatnya memikirkan hal itu.


Tepat jam delapan pagi aku sudah tiba di rumah sakit. Aku keluar dari mobil dan segera menuju ruanganku. Tiba-tiba, seorang perawat menghampiriku.


"Pagi, dokter.." Sapanya.


"Pagi.." Aku mengangguk padanya sambil tetap berjalan.


"Ehm, ini, dok.. tadi.. ada kurir yang mengantarkan dokumen ini." Aku melirik tangan perawat itu. Ia memegang sebuah map cokelat, lalu memberikannya padaku.


"Oh, oke. Terima kasih." ujarku. Aku kembali berjalan menuju ruanganku dan ia kembali ke ruangan khusus perawat.


Di dalam ruanganku, aku meletakkan tas kerjaku di atas kursi. Kemudian, aku membuka map itu dan membaca judulnya..


.


.


.


.


.


.


.


.


SURAT GUGATAN CERAI


Aku membaca cepat isi lembaran-lembaran kertas itu, lalu kembali lagi pada halaman pertama. Kembali lagi pada judulnya. Melihat namaku. Melihat nama Lula. Saat itulah aku tersadar. Lula telah menggugat ceraiku.


Tok tok tok..


Ketukan pintu membuyarkan lamunanku.


"Dok, hanya mengingatkan.. Sebentar lagi dokter ada operasi."


Aku mengangguk. "Ya, saya kesana sekarang." jawabku singkat.


.


.


.


Di depan ruang operasi, aku mencuci tangan dan seorang perawat memakaikanku pakaian operasi, sarung tangan, dan penutup kepala yang terbuat dari lateks. Semua itu berlangsung begitu membosankan, sudah ribuan kali kulakukan.


Aku masuk ke dalam ruang operasi dengan gontai. Aku mengingat-ingat histori pasien ku ini, apa saja yang harus kulakukan. Di ruang operasi, ada sekitar sepuluh orang yang terdiri dari beberapa perawat dan beberapa dokter muda. Jantung pasien sudah terlihat, beberapa dokter muda yang membukanya. Aku sebagai dokter senior hanya tinggal menyelesaikan masalahnya saja, dan nanti dokter-dokter muda itu pula yang akan menutup jantung pasien dan menjahitnya kembali.

__ADS_1


Seorang dokter muda mengulang histori pasien pada kami semua. Kami mendengarkan dalam hening. Hanya ada suara monitor detak jantung yang memekakan telinga.


Seorang perawat meletakkan sebuah pisau bedah kecil di tanganku. Aku menerimanya dan mendekati jantung pasien yang sudah terbuka. Untuk pertama kalinya, tanganku bergetar. Tiba-tiba aku terpikirkan Lula. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Kamu, gantikan saya." Aku menunjuk seorang dokter yang paling senior di ruangan ini.


Ia tampak tergagap sebentar lalu mengambil pisau bedah dari tanganku. "Baik, dok." ujarnya.


Aku seperti kekurangan oksigen. Tiba-tiba pakaian bedah ini membuatku sesak. Aku buru-buru keluar dari ruangan operasi. Aku membuang sarung tanganku ke tempat sampah. Seorang perawat mengikutiku. "Dokter tidak apa-apa?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, sus." Aku bergegas kembali ke ruanganku. Begitu sampai di ruanganku, aku mengambil kunci mobil. Aku masih bebas praktek hingga siang ini. Aku harus bertemu Lula.


"Fuckk.. Fuckk.." Aku memukul setir mobilku. Jalanan begitu macet pagi ini.


Kenapa, Lula? Kenapa?


.


.


.


Sesampainya di rumah Mama..


Aku memakirkan mobilku asal. Mobil Lula juga terparkir tak jauh dariku.


Aku mengetuk pintu. Bi Siti membukakan pintu tak lama kemudian.


"Bi, Lula ada?" tanyaku.


Aku merasa tidak sabar, tapi aku tetap menunggunya menyelesaikan kalimatnya.


"Non Lula.. Tadi pergi sama.." ujarnya.


"Sama?" tanyaku.


"Itu, atasannya Non Lula di kantor." ujar Bi Siti.


DEG


Nathan? Pria itu lagi?


Aku diliputi amarah. Aku segera membalik badan, menekan tombol di ponselku, kemudian menghubungi Lula. Tapi aku sudah tahu, ia tidak akan mengangkatnya.


.


.


.


Aku mencoba menghubungi Lula lebih dari dua puluh kali hari itu. Tapi tak kunjung ada jawaban. Aku kembali ke rumah sakit dan tetap bekerja melayani belasan pasien hari itu, tapi pikiranku melayang entah kemana.


Aku kecewa pada Lula. How could she do that to me? Bagaimana bisa ia melakukannya? Setelah apa yang kulakukan untuknya? Ia mengkhianatiku selama ini? Oke. Perselingkuhan itu satu hal. Tapi perceraian? Apa ia akan mengurus anaknya tanpa aku? Hmm.. Anaknya? Mengapa sulit untuk mengucap kata "anak kami"? Apa itu semua karena aku meragukan anak itu adalah anakku? Atau.. aku saja yang memang terlalu pengecut untuk memiliki anak?


Pikiranku melayang pada masa laluku. Masa kecilku. Aku meringis. Ibu kandungku yang bahkan aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat rambutnya yang panjang dan ikal, wangi parfum murah yang ia pakai, dan pakaiannya yang selalu acak-acakan.

__ADS_1


"Dok?" seorang perawat membuyarkan lamunanku.


Di hadapanku, seorang pasien paruh baya tampak kebingungan.


"Ah, sampai dimana kita tadi?" tanyaku.


"Jadwal operasi Bapak ini. Minggu depan, oleh dokter sendiri."


"Iya, iya tentu saja." ujarku.


.


.


.


Sepulang kerja, aku kembali menghubungi Lula. Tidak diangkat. Tiba-tiba ada panggilan masuk.


Papa Lukas.


Aku mengangkatnya dalam dering pertama.


"Adrian? Bisa tolong ke rumah?" ujar Papa tegas.


"Oh.. Bisa, Pa. Saya kesana sekarang." ujarku.


Sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya. Apa Papa akan memarahiku karena masalah pernikahan kami ini? Apa Lula sudah terbuka dengan keluarganya mengenai hubungannya dengan pria itu? Apa orang tua Lula lebih senang jika Lula bersama pria itu? Pikiran-pikiran buruk datang bertubi-tubi tanpa bisa kucegah.


Tanpa sadar aku menyetir begitu cepat hingga tiba di rumah orang tua Lula dalam beberapa menit. Aku memakirkan mobilku asal. Pintu depan sudah terbuka. Bi Siti menyambutku. Kali ini sedikit berbeda dengan tadi pagi. Ia tampak.. ketakutan.


"Tuan disuruh masuk sama Tuan Besar.." ujar Bi Siti menundukkan kepala.


Aku mengangguk ke arahnya dan setengah berlari masuk ke dalam.


"Pa, tapi Lula tadi bilang kalau dia gak mau ketemu sama.." Mama dan Papa tampaknya sedang berbicara dengan suara lantang di ruang tamu.


"Ma, Pa.." Aku mengangguk ke arah mereka.


"Adrian.. Papa dan Mama ngga tahu apa yang terjadi sama kamu dan Lula. Yang jelas, Papa ga setuju kalau kalian lama-lama bertengkar." ujar Papa.


"Iya, Pa. Saya ngerti. Saya kesini tadi pagi untuk cari Lula. Tapi dia ga ada."


Papa mengangguk-angguk. "Ya sebaiknya selesaikan lah masalah kalian itu. Sana.. Lula ada di atas."


Baru saja aku hendak mengiyakan, Mama tampak tidak setuju. "Tapi, Pa.." ujarnya.


"Sudahlah, Ma. Mau sampai kapan kita ikut campur.. Adrian, naik sana.." suruh Papa.


Aku mengangguk dan setengah berlari menuju kamar Lula.


Aku membuka pintu kamarnya. Gelap. Hanya ada sebuah lampu tidur yang menyala redup di atas nakas.


"Lula?" panggilku.


Ribuan pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Apa aku harus marah atau sedih? Aku tidak tahu. Yang jelas, aku harus menyelesaikan masalah kami ini.

__ADS_1


__ADS_2