
Hari itu pagi-pagi sekali aku mengemas pakaianku. Aku hendak menginap di rumah Mama. Aku tidak bisa lagi berada disini lebih lama lagi. Aku dan bayiku tidak diinginkan disini. Aku perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Pintu kamarku dibuka..
"Mau kemana?"
"Ke rumah Mama.." jawabku pelan tanpa menoleh padanya.
Ia menghela nafas.
"Kenapa bawa baju segala?"
"Aku butuh waktu sendiri. Aku juga mau kasih kamu waktu sendiri." Aku menahan tangis agar tidak pecah. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya.
"Kamu marah?" Adrian menarik sikuku pelan.
"Lepas!"
"Kamu kenapa, sih?"
Air mataku jatuh tak tertahan.
"Kenapa? Kamu yang kenapa! Kamu lupa semalem kamu ngapain! Please, biarin aku pergi! Aku capek, Adrian.. Aku selalu lakuin apa yang kamu minta! Tapi kayanya kamu ga akan pernah anggep aku.."
"Ga pernah anggep kamu? Maksud kamu apa?" Ia tidak berteriak sama sekali padaku, malah semakin melembut. Hal itu membuatku makin emosi, seolah ia menganggapku bodoh dan tidak tahu apa-apa.
"Aku tahu semalem kamu pergi ketemu Syena!" teriakku.
Ia terdiam. Ia terlihat merasa bersalah dan aku sudah muak.
Aku menyeleting tas ku dan segera keluar kamar.
Ia mengikutiku pelan.
Aku hendak membuka pintu utama ketika aku berbalik menghadapnya. "Soal pertanyaan kamu kemarin.. Aku akan selalu memilih bayi ini, daripada kamu."
.
.
.
Mama dan salah seorang ART nya yang bernama Bi Siti sedang menyiram bunga anggrek di halaman ketika aku tiba di rumah Mama.
"Lula?" Aku turun dari mobil begitu Mama mendekat. Aku membuka pintu belakang dan mengambil tas besarku. Mama makin terkejut. Bi Siti juga kaget. Bi Siti refleks mengambil tasku dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Kamu.. mau nginep?" tanya Mama penuh curiga.
Aku mengangguk.
"La, kamu berantem sama Adrian?" selidik Mama.
Aku malah melengos masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhku di atas sofa.
"Lula.. Jawab Mama!" ujar Mama tidak sabaran.
"Ma, aku baru sampe pagi-pagi kaya gini.. Please, jangan cecar aku terus. Udah ah aku mau ke kamar.." aku bangkit berdiri dan masuk ke kamarku sewaktu masih tinggal di rumah ini. Kamar ini memang selalu dibersihkan oleh para ART. Meski begitu, sejak menikah aku tidak pernah menghabiskan malam disini. Aku tahu aku pasti akan dimarahi Mama jika aku kesini. Ia tidak ingin aku meninggalkan Adrian. Apakah Mama akan tetap membelanya jika tahu apa yang ia lakukan?
.
__ADS_1
.
.
Tok tok tok..
Hoaamm.. Aku terbangun dari tidurku.
"Masuk.." ujarku.
Mama masuk ke kamarku.
"Kenapa, Ma?" tanyaku.
"Apa Adrian sudah tau kalau kamu.."
"Udah, Ma." jawabku.
"Dia tahu tapi.. dia biarin kamu kesini?"
Hmmm.. Mama ga tau kan kalau dia aja benci sama bayi ini.
"Seharusnya kamu ga pergi dari rumah.. Kamu ga boleh lama-lama ya nginep disini.." ujar Mama lagi. Mama pasti terkejut kalau tahu aku suka pergi dari rumah Adrian dan nginep di hotel. Tapi aku memilih diam, daripada diceramahi.
"Yaudah, makan yuk.. Kamu belum makan kan dari pagi? Kamu gak mual, kan?" cerocos Mama. Aku hanya menggeleng dan menggeleng.
.
.
.
Dua hari kemudian..
Aku tahu pernikahan kami bukanlah pernikahan bahagia, tapi menyakitkan rasanya begitu membayangkan Adrian semakin membenciku karena ingin mempertahankan bayi ini. Aku ingin bertanya pada Ibu tentang masa kecil Adrian tapi tidak sekarang. Aku tidak ingin Ibu curiga bahwa Adrian tidak menginginkan anak ini.
Aku sedang mengendarai mobilku menuju kantor pagi itu saat aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Aku melihat kaca spion dan benar saja, salah satu ban mobilku kempes total. Padahal kantorku tinggal berjarak sekitar tiga ratus meter lagi. Aku turun dari mobil dan meratapi kesialanku.
Huff.. Ada meeting lagi. Bisa-bisanya aku ga ada ban cadangan!
Aku berdiri di pinggir jalan sambil berusaha menghubungi bengkel. Aku melihat puluhan kendaraan melewatiku. Jalanan Jakarta pagi ini sangat ramai, seperti biasanya.
Tiba-tiba sebuah mobil Ferrari hitam berhenti di hadapanku.
Seorang pria berjas turun.
Nathan.
"Lula? Mobil kamu kenapa?" tanya Nathan.
"Ehm.. Kempes, Pak."
"Yaudah bareng saya, yuk?" ajak Nathan.
"Gausah, Pak, saya.."
"Masih sungkan?" tanya Nathan lagi.
Tiiiinnnn tiiiinnn... Beberapa mobil di belakang mobil kami mengklakson. Hal itu membuatku tidak enak hati. Sampai kapan kami akan berdebat disini? Sampai semua orang terjebak macet gara-gara kami?
__ADS_1
"Ehm.. Boleh deh, Pak.." Aku buru-buru mengunci mobilku. Nathan membukakan pintu penumpang dan aku pun masuk ke mobilnya.
Di mobil Nathan..
Ia menyetir sambil menekan-nekan tombol di layar mobilnya. Ternyata untuk menelepon seseorang.
"Pak? Tolong urus mobil teman saya.. Kempes.. Iya black Mercedes di Jalan Angsana dekat kantor.. Oke nanti begitu selesai antar ke kantor ya? Oke.." Nathan berbicara pada wireless earphone nya sehingga aku tidak bisa mendengar balasan orang di seberang telepon.
"Pak.. Ga perlu.." aku membuka suara ketika ia memutus telepon.
"Ga perlu apa? Repot-repot? Hehe.." Ia terkekeh sambil sesekali melihatku.
"Maaf, Pak saya ngerepotin Ba.."
"Emang saya tua banget, ya?"
"Hmm?" Aku melirik ke arahnya.
"Iya kamu panggil saya Bapak terus.." ujarnya sambil tertawa kecil.
"Ehmm.." aku membiarkan kalimatku menggantung.
"Oke, sampe deh.." ujar Nathan.
"Makasih, ya.. Nathan.." ujarku pelan.
"You're most welcome.." sahut Nathan.
"Kalau gitu, saya duluan?" ujarku.
Nathan mengangguk. Aku pun turun dari mobilnya. Mataku menyapu sekeliling mencari keberadaan karyawan kantorku yang kukenal. Aku tidak ingin digosipkan dengan Nathan. Begitu terkejutnya aku ketika aku melihat seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah datang ke kantorku.
Adrian.
Mataku berhenti saat melihatnya. Kurasa jantungku juga. Aku melempar pandanganku ke arah Nathan, atau mobilnya, entahlah. Nathan baru saja keluar dari mobil. Ia menatapku dan kemudian menatap Adrian.
"Adrian, kamu.." aku mendekat ke arahnya, lalu menariknya sejauh mungkin dari Nathan. Aku tidak ingin siapapun mendengar pembicaraan kami. Aku menariknya ke dalam gedung parkiran yang tak jauh dari tempat aku turun dari mobil Nathan tadi.
"Lepas.." ujar Adrian.
Apa? Ini lagi? Mau sampai kapan kami terus begini ya Tuhan..
"Kamu kesini hanya untuk marah?" tanyaku.
"Kayanya aku nyesel dateng kesini.. Aku aja yang bodoh percaya sama kamu."
Air mataku jatuh mendengar kata-kata Adrian.
"Ini ga seperti yang kamu lihat." Aku menarik tangannya agar ia mau melihatku.
"Aku datang kesini karena aku pikir aku udah keterlaluan sama kamu. Tapi apa? Kamu malah sama pria lain? Sekarang aku rasa kita gak usah ketemu dulu.."
Kenapa Tuhan.. Kenapa kami seolah selalu bertengkar dan bertengkar..
"Adrian.." aku menarik tangannya pelan.
Ia menghentakan tanganku keras sehingga aku terdorong dan pinggangku membentur dinding.
"Aakkhh.."
__ADS_1
Adrian membalik tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkanku.
Aku berharap sesaat saja agar ia berbalik dan melihatku lagi. Tapi tidak. Ia berjalan terus hingga tak tampak lagi.