
Halo, semua!
Terima kasih sudah selalu menyempatkan membaca novelku ❤
Buat yang komen nyariin Adrian melulu, tenang aja nanti bakal ada kok porsinya Adrian mungkin di 2 bab setelah ini.. Tapi sekarang dia ngumpet dulu yaa
.
.
.
Aku sedang memilih-milih sayuran di supermarket saat seseorang yang tidak asing muncul di hadapanku, sedang membawa keranjang belanja berwarna merah yang masih kosong, belum diisi apapun.
Nathan.
Entah sudah berapa kalinya kami saling bertemu tanpa disengaja seperti ini. Kadang di tempat yang paling tidak terduga seperti di taman tempat jogging di dekat rumahku. Aku sampai berpikir.. apa ia memata-mataiku? Tapi rasanya tidak mungkin.
Kadang saat kami tidak sengaja bertemu seperti ini, kami hanya saling bertegur sapa tidak sampai satu menit. Kadang pula, aku pura-pura tidak melihatnya dan langsung pergi berlawanan arah. Tapi sekarang sepertinya tidak mungkin. Ia sudah melihatku.
Ia tersenyum padaku.
Ia bagaikan magnet, yang berusaha menarikku ke arahnya. Ia tampak begitu sempurna dari sini. Beberapa ibu-ibu menoleh ke arahnya, tampak terpesona.
Aku terpaksa membalas senyumnya.
"Lula.."
"Nathan?" Aku memutuskan untuk tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Pak, karena ia bukan lagi atasanku.
"Kamu disini? Kok bisa ya.. Kebetulan banget.." ujarnya.
Aku mengernyit. Kok bisa CEO seperti dia ada disini? Bahkan asisten pribadinya saja pernah disuruh untuk membeli banyak pakaian untukku saat aku dirumahnya, tapi apa dia tidak punya siapapun untuk disuruh belanja?
"Ya.. Kamu mau beli apa?" tanyaku memancing.
"Hmm.. Hmm.." Ia terlihat gelagapan dan menoleh kesana kemari.
"Ini, aku mau beli ini." tunjuknya.
What?
"Hahaha.." Oke. Harus kuakui bahwa ia sangat lucu. Ini tawa pertamaku sejak.. entah sejak kapan.
"Hmm? Kenapa tertawa?" Ia terlihat bingung. Kemudian ia menatap benda yang ia tunjuk dan.. ia mengamati benda berbentuk bujur sangkar berbahan plastik berwarna merah muda cerah itu.
"Kamu mau beli pembalut?" tanyaku.
"Ah.. Ini.. Ya.. Aku sepertinya harus membelinya untuk.. pegawai-pegawai ku di rumah.." Ia menggaruk tengkuknya. "Kalau kamu.. beli apa?" tanyanya.
Aku melirik isi troli ku yang hampir penuh dengan berbagai macam barang.
"Oh, oke.. By the way, apa kabar?" tanyanya.
__ADS_1
"Baik, baik banget. Kamu gimana?"
"Baik juga. Oh ya, La.. Denger-denger kamu kerja di Bank A, ya?" tanyanya.
Aku mengangguk, meskipun heran darimana ia bisa tahu.
"Kebetulan besok sore aku ada meeting sama CEO nya, Pak Richard. Kalau kamu ada waktu luang.. Boleh ngopi bentar? Paling after office hours."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tentu saja penolakan akan terdengar sangat tidak sopan.
"Boleh.."
"Oke. Besok, jam lima ketemu di kantor kamu, ya?"
Aku mengangguk. Kemudian ia tersenyum dan meletakkan kembali keranjang kosong itu ke tempatnya, lalu keluar tanpa membeli satu barang pun.
.
.
.
Sudah hampir pukul lima sore saat aku baru menyelesaikan pekerjaanku hari itu. Aku melirik ke ruangan seberang. Nathan sedang bersama Pak Richard sejak satu jam terakhir. Aku baru tahu mereka saling kenal. Tiba-tiba telepon di ruanganku berdering.
"Lula? Tolong ke ruangan saya.."
"Baik, Pak."
Aku menghela nafas. Apa lagi ini? Aku merapikan kemejaku agar tetap masuk dengan rapi ke dalam rok hitamku, kemudian bangkit dan mulai berjalan ke ruangan Pak Richard.
"Lula, kamu tidak bilang kalau kamu sebelumnya bekerja di perusahaan Nathan?" tanya Pak Richard.
"Oh.." Aku hanya tersenyum sopan. Tentu saja aku pernah bilang. Tertulis di CV ku juga, kok. Mungkin Pak Richard saja yang pelupa.
"Jadi.. Nathan ini sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Saya sudah berteman lama dengan orang tuanya. Ayahnya itu mentor bisnis saya dulu. Sayang sekarang mereka lebih betah di Singapura, ya?" ujar Pak Richard. Nathan hanya mengangguk-angguk sopan.
Oh jadi orang tuanya di Singapura, toh..
"Oke, Lula.. Jadi Nathan sudah info saya bahwa perusahaan dia itu benar-benar kehilangan kamu. Sekarang, perusahannya sedang mengalami masalah. Jadi, saya harap kamu bisa membantu dia."
Apa?
"Oh, baik Pak.."
"Jadi, Nathan.. Kapanpun kamu butuh Lula.. Suruh saja datang ke kantor kamu. Lula disini kan banyak asisten dan bawahan yang bisa mengerjakan pekerjaan dia. Tenang saja, Lula.. Akan dihitung sebagai lembur kok oleh akunting." ujar Pak Richard. Aku melirik ke arah Nathan yang tersenyum.
Astaga..
"Oke, Lula.. Kamu boleh pulang sekarang." Akhirnya ada juga berita baik yang keluar dari mulut Pak Richard.
"Baik, Pak."
"Baik, Om kalau begitu saya juga permisi dulu, ya." ujar Nathan. Pak Richard mengangguk-angguk.
__ADS_1
Aku berbalik badan dan segera keluar menuju ruanganku. Beberapa langkah di belakangku, ada Nathan. Aku bisa mendengar suara sepatunya.
"Aku tunggu di parkiran." bisiknya tanpa berhenti melangkah. Ia menuju lift dan turun, sedangkan aku kembali ke ruanganku untuk mengambil tas.
.
.
.
Aku menengok ke kiri dan kanan, mencari mobil Ferrari.
"Bu Lula? Silahkan.. Mobilnya disitu." Aku kenal pria ini. Supir Nathan. Ia menunjuk sebuah mobil McLaren berwarna abu-abu.
"Terima kasih.." ucapku.
"Oh ya, apa Ibu membawa mobil? Saya akan antarkan ke rumah Ibu. Di jalan X, kan?"
Sungguh khas Nathan. Penuh persiapan.
"Ya, ini Pak kuncinya. Terima kasih." ucapku. Supir itu segera menuju mobilku dan menghilang.
Jarakku sekitar lima meter dari mobil Nathan ketika ia turun dari bangku kemudi dan membukakan pintu untukku.
Astaga ini orang..
Karena ia berjalan tepat di hadapanku, aku jadi bisa memperhatikannya. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru tua, rambutnya yang cokelat gelap tertiup angin. Harus kuakui bahwa ia memang tampan.
"Thank you.." ucapku saat masuk ke dalam mobil.
Ia memutari mobil dan kembali masuk ke kursi pengemudi.
"Kamu gak perlu ngelakuin itu.." ujarku pelan sambil memasang sabuk pengaman.
"Ngelakuin apa?" tanyanya sambil melakukan hal yang sama.
"Buka pintu untukku.."
"Oh, tapi aku mau. Gimana dong?"
Aku terdiam. Huft.. Ni orang nyebelin banget.. Tiba-tiba aku teringat lagi padanya. Adrian. Pria yang dulu menjadi suamiku. Pria yang masih misterius bagiku. Pria yang dingin, jauh dari bercanda, 180 derajat berbeda dari pria yang ada di sampingku. Aku merasa canggung, tak terbiasa dengan adanya kehadiran laki-laki di hidupku. Apalagi laki-laki seterbuka Nathan.
"Kok diem?"
"Gapapa.." ujarku singkat tanpa menatap ke arahnya.
"Terus.. mau kemana?" Ia melirikku.
"Hmm? Terserah?"
"Kok terserah? Ada tempat yang mau kamu datengin?"
Kenapa ini orang jadi super sksd gini, ya?
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu bilang ada masalah sama perusahaan kamu? Gimana kalo kita cari tempat untuk ngobrolin itu?" usulku.
"Wah, ide bagus. Tapi kayanya sekali pertemuan ga akan cukup deh.." gumamnya. Aku sudah terlalu lelah jadi aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya.