
ADRIAN'S POV
Aku membanting tubuhku ke sofa. Lelah. Hanya itu yang kurasa. Mungkin aku terlalu banyak meminum obat penenang. Atau alkohol. Atau obat penenang yang kuminum dengan alkohol?
Antidepresan adalah jenis obat yang digunakan untuk orang yang mengalami gangguan depresi. Obat ini bekerja dengan meningkatkan bahan kimia di otak yang berhubungan dengan emosi dan suasana hati. Aku meminum obat ini kadang-kadang saja, saat aku terlalu lemah untuk berfungsi seperti manusia normal. Obat ini membuatku.. merasa bahagia dan bersemangat. Dan aku benar-benar tidak ingin merasakannya.
Sedangkan obat penenang berguna untuk memperlambat aktivitas otak, tujuannya adalah agar penggunanya menjadi lebih santai. Biasanya diberikan untuk orang yang mengalami gangguan kecemasan. Aku sering dilanda kecemasan beberapa bulan terakhir ini, jadi aku meminumnya seolah ini adalah penyembuhku.
Aku sadar bahwa keduanya, jika digunakan berlebihan bisa menyebabkan kecanduan dan bahkan kematian. Haha.. Kematian.. Membuatku teringat betapa begitu banyak manusia di dunia ini yang takut mati. Sungguh pemikiran yang memuakkan. Atau mungkin.. aku saja yang tidak memiliki keinginan untuk hidup? Bisa terlihat dari betapa aku kecanduan dengan obat penenang. Rasanya seperti.. Aku jatuh ke dalam sebuah jurang yang sangat dalam dan tidak memiliki keinginan untuk bangkit.
Aku sudah bersiap memejamkan mataku, ketika aku mendengar ketukan di pintu. Satu kali. Dua kali. Entah itu kenyataan atau halusinasiku saja. Aku sering berhalusinasi akhir-akhir ini.
.
.
.
Aku membuka mataku. Sial. Efek obat-obatan itu sudah habis. Aku kembali mendengar pintu diketuk. Apa itu pelayan-pelayan Ibu? Tidakkah mereka semua mengerti aku tidak ingin diganggu?
Aku berjalan pelan menuju pintu utama. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Terlalu banyak alkohol, obat, hampir tidak pernah memberikan nutrisi yang diperlukan oleh tubuhku adalah diagnosaku.
Aku menopang berat tubuhku pada tanganku yang bersandar ke dinding yang dingin saat aku membuka pintu.
Saat itulah mata kami bertemu.
Cintaku.
.
.
.
Oke. Aku berhalusinasi lagi.
Tapi tidak seperti halusinasiku yang biasanya. Kali ini, matanya berkaca-kaca. Ia seperti dipenuhi oleh berbagai macam perasaan yang siap meledak begitu saja.
__ADS_1
Aku tak kuat melihatnya. Tak akan ada jumlah morfin yang cukup di dunia ini untukku dapat menahan rasa sakit ini. Rasa sakit karena telah melukaimu.
Aku menutup pintu dengan sekuat tenagaku. Aku mengunci pintu. Aku tidak akan menemuinya. Aku tahu aku hanya akan menyakitinya lebih lagi.
"Adrian!" Serunya. Suaranya bagaikan lonceng di telingaku. Indah dan memabukkan. Aku rela menyerahkan seluruh hidupku agar bisa mendengarnya menyebut namaku satu kali lagi.
Tapi, aku pengecut. Terlebih lagi, aku sangat kacau. Aku tidak ingin ia melihatku seperti ini. "Untuk apa kesini? Pergilah!"
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu mengizinkanku masuk."
Aku mendengar suara pakaian beradu dengan pintu. Ia sedang bersandar. Aku mendekat, tanganku menyentuh pintu, berusaha meraihnya.
.
.
.
Entah sudah berapa lama aku bersandar pada pintu. Punggung kami hanya terpisahkan satu helai pintu mahoni ini. Tiba-tiba berjuta pecahan kenangan kami berdua berkelebat dalam benakku.
Lula..
Aku salah telah mengacuhkanmu. Sampai kamu akhirnya lelah sendiri dan memilih untuk pergi.
Sekarang aku baru tahu. Aku sungguh tersesat tanpamu. Aku tak bisa jauh darimu. Kamu yang sudah tidak lagi disisiku. Sekarang baru ku tahu. Aku benar-benar membutuhkanmu. Tapi, semuanya sudah terlambat. Aku yang bodoh. Aku dan pengalaman masa laluku yang selalu menghantuiku. Bagaimana aku tidak pernah memiliki contoh bagaimana harusnya mencinta, seperti apa suami yang kau dambakan itu.
"Apa yang kamu sebut pernikahan, Adrian? Apa?!" Kalimat Lula itu kembali menggema di pikiranku. Saat terakhir kali kami bertemu. Saat paling menyedihkan dalam hidupku.
Kilat yang tampak dari jendela mengejutkanku. Aku berjalan cepat menuju ruang kerjaku. Aku menyalakan komputer dan mengecek cctv, berharap semoga Lula sudah pergi.
Aku salah. Dia masih disana. Bersandar pada pintu, memeluk dirinya sendiri. Sepertinya ia kedinginan. Aku menyentuh layar komputerku, berharap dapat menyentuhnya. Tak sampai beberapa detik kemudian, aku setengah berlari menuju pintu utama, menggunakan segenap kekuatanku. Suara petir menggelegar. Aku memutar kunci pintu. "Masuk." Ujarku pelan.
.
.
.
__ADS_1
Aku memperhatikannya dari cctv saat ia sibuk merapikan rumah. Aku merasa begitu lemah, bahkan untuk menemuinya saja tak sanggup. Aku merebahkan tubuhku di sofa, berusaha menahan diriku yang ingin berlari memeluknya.
Entah apa Tuhan itu baik atau memang sedang menguji imanku. Beberapa saat kemudian, ia masuk ke ruang kerjaku, mengajakku makan.
"Tega kamu, Adrian.."
Aku setengah sadar saat membalas ucapannya. Aku terpaku menatapnya. Wajah cantiknya yang sangat kurindukan. Tapi kata-kataku malah membuatnya semakin sedih.
"Kamu telah menyiksaku dengan melihatmu seperti ini. Kamu pikir.. aku akan diam saja melihat kamu seperti ini? Tidakkah kamu kasihan sama Ibu?"
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis. Aku ragu untuk sesaat. Tapi aku menarik tangannya dan memeluknya. Darahku panas serasa mendidih, menahan sesuatu yang bergelora di bawah sana. Rupanya ketergantungan obat tidak membuatku mati rasa untuk Lula.
"Ssshhh.. Aku sudah janji nggak akan bikin kamu nangis lagi." ujarku pelan. Aku menghirup aroma rambutnya yang masih sama seperti dulu. Mabuk di dalamnya. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa pria beruntung yang bebas melakukan ini dengannya. Melakukan ini, atau lebih. Rahangku mengatup, seketika emosiku meningkat. Namun, ia terisak lagi. Hal itu membuatku kembali larut dalam masa sekarang. Aku yang detik ini sedang memeluknya dan ia memelukku.
Jangan pernah, menangis lagi.
Cintaku.
.
.
.
Kami akhirnya makan bersama, aku tidak ingin ia kelaparan. Ia harus makan. Kami makan dalam hening hingga akhirnya ia memecah kesunyian dengan bertanya alasan kenapa aku resign.
Aku kecewa karena Ibu memberitahukan hal ini padanya. Aku tidak ingin membuat Lula sedih, lebih dari apapun.
Ia menatap kedua tanganku yang penuh luka.
****. Tolong jangan sadar akan hal ini.
Ia menyentuh tanganku.
"Dan juga.. kenapa ini.."
Sial. Aku menyembunyikan kedua tanganku di bawah meja.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu lagi.. Oke?" katanya lembut.
Aku menatapnya. Jatuh cinta padanya untuk yang ke sekian ratus kali hari ini, dan mengangguk. Aku akan melakukan apapun untukmu, Lula.