
ADRIAN'S POV
Aku membuka file pasien yang baru saja kuterima dari Dokter Jonathan di laptopku. Kemudian aku membaca data pasien secara asal, hanya fokus pada riwayat medis pasien. Aku menekan-nekan tombol mouse komputer untuk melihat halaman selanjutnya, kadang juga untuk kembali pada halaman sebelumnya.
Tapi tunggu, riwayat medis ini tidak asing. Aku sudah pernah melihatnya.
Sudut mataku menangkap nama dan tanggal lahir yang kukenal.
Luna.
Nafasku tertahan. Mama.
Aku membuka situs pembelian tiket pesawat. Aku menekan tombol mouse dengan sangat cepat.
Bujumbura Jakarta.
Bujumbura Jakarta.
Bujumbura Jakarta.
Hanya itu yang kupikirkan. Aku membeli tiket untuk penerbangan paling cepat ke Jakarta, yaitu empat jam lagi. Aku berdoa dalam hati agar Mama mampu bertahan hingga aku sampai di ruang operasi. Aku menahan akal sehatku agar tidak memikirkan seseorang yang seharusnya tidak kupikirkan, tapi gagal.
Bagaimana Lula?
Apa ia baik-baik saja?
Mama satu-satunya anggota keluarga yang ia punya.
Dan aku.. Aku tidak pernah menghubunginya. Aku tidak pernah mencari tahu lagi tentangnya, setelah pertemuan terakhir kami. Setelah, aku menyakitinya lagi. Ia telah mengganti nomor ponselnya, bahkan juga akun bank nya. Seolah ia tidak ingin lagi memiliki urusan apapun denganku. Aku pantas mendapatkan ini. Hukuman yang akan kujalani selama sisa hidupku. Hidup tanpa dirinya.
Emosi mengalahkan akal sehatku. Aku tahu aku tidak baik untuk Lula. Tapi kenapa aku menyesal tidak berada di sampingnya sekarang? Aku bahkan tidak lagi memikirkan betapa aku sudah tidak melakukan operasi lagi. Aku tahu bahwa aku harus melakukannya. Aku harus menyelamatkan Mama. Lula tidak boleh kehilangan siapapun lagi. Tidak setelah semua derita yang kusebabkan.
Aku bangkit berdiri dan berlarian mengisi ranselku. Aku bisa membeli barang-barang lain yang kubutuhkan di Jakarta.
Ting tong..
Bel apartemenku berbunyi. Aku berlari dan membuka pintu.
Syena.
__ADS_1
Kami memang tinggal di dalam satu gedung apartemen yang sama. Ia tinggal di lantai atas. Biasanya, kami berangkat ke rumah sakit bersama-sama. Jarak rumah sakit dan apartemen kami terbilang cukup dekat, sehingga kami bisa berjalan kaki kesana.
"Tumben kamu sudah rapi? Ini.. Aku bawain makanan untuk.." belum selesai Syena menjelaskan, aku sudah mengangkat tanganku, menyela.
"Syen, maaf aku harus ke Jakarta sekarang." Aku kembali masuk ke apartemenku dan berkemas.
Syena mengikutiku dari belakang.
"Apa? Ada apa?" tanyanya cemas.
"Mama mertuaku, ia harus segera dioperasi. Situasinya urgent sekali. Flight ku empat jam lagi."
Syena seperti kehilangan kata-kata. Aku selesai berkemas beberapa menit kemudian.
"Syen, aku titip rumah sakit." ujarku sambil menyampirkan ransel di pundak.
"Ya, tentu saja. Kabari aku ketika kamu sudah tiba. Aku harap semua akan baik-baik saja."
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa dokter senior menyambutku. Aku bergegas menuju ruang operasi. Para dokter tampak begitu bersyukur karena aku tiba tepat waktu.
Aku menghabiskan beberapa jam berikutnya di ruang operasi. Aku tahu tingkat keberhasilan operasi ini sangat kecil, pasien hanya memiliki kurang dari lima persen kesempatan untuk hidup. Selama operasi, pasien harus dipasangkan mesin jantung-paru. Resiko yang akan dilalui sangatlah besar. Meskipun begitu, aku akan berusaha sebaik-baiknya.
"Scalpel?" pintaku pada Dokter Jonathan.
Ia memberikan scalpel padaku. Aku melakukan apa yang harus kulakukan. Sudah lama aku tidak melakukan hal ini, tapi rupanya kedua tanganku masih ingat tugas mereka.
Entah sudah berapa jam kami di ruangan operasi ini. Mungkin sudah lebih dari lima jam. Disini dingin, tapi keringat kami bercucuran. Aku sangat cemas, bukan hanya karena ini operasi pertamaku setelah sekian lama, tapi juga karena siapa yang sedang terbaring disini.
"I think it's done." (Aku rasa sudah selesai) ujarku setelah pekerjaan yang membutuhkan fokus dan ketelitian sangat tinggi itu. Aku menatap mesin elektrokardiogram, memastikan seluruh alat vital pasien dalam kondisi stabil.
"Baik, Dok. Kami akan melakukan penutupan jantung pasien." ujar Dokter Jonathan. Penutupan organ biasanya memang dilakukan oleh dokter yang lebih junior.
"Mari berharap yang terbaik." ujarku. Aku mengangguk ke arah Dokter Jonathan dan berjalan ke arah pintu. Seorang perawat membantuku melepas sarung tangan.
__ADS_1
Seorang dokter muda lainnya mengikutiku.
"Dokter, apa Dokter berkenan berbicara dengan keluarga pasien?" tanya Dokter itu.
Lula.
Tidak ada keraguan dalam benakku. Aku sangat ingin bertemu dengan Lula dan menguatkannya. Aku mengangguk dan dokter itu mempersilahkanku untuk masuk ke ruang tunggu.
Aku merangkai kata-kata di kepalaku.
Membayangkan wajahnya, suaranya, tubuhnya.
Aku ingin bertanya apa saja yang terjadi selama kepergianku.
Aku ingin menjelaskan operasi Mama yang bisa terbilang berhasil.
Menjelaskan padanya istilah-istilah kedokteran yang pasti membuatnya bingung.
Dan yang terlebih lagi, aku ingin memeluknya.
Aku membuka masker dan penutup kepalaku, ketika aku tiba di sebuah pintu yang menghubungkan kami dengan ruang tunggu. Di pintu itu, terdapat sebuah jendela kecil setinggi dada sehingga aku bisa melihat siapa yang berada di sisi sebelah sana.
Aku melihatnya.
Lula.
Ia duduk di kursi di ruang tunggu. Wajahnya terlihat begitu lelah. Matanya sembab. Aku tidak bisa melihat seluruh tubuhnya dari sini, hanya bisa melihat wajahnya. Tapi itu cukup untuk menghilangkan rasa letihku.
Tinggal selangkah lagi aku membuka pintu itu ketika seseorang menyentuh wajah Lula dan menariknya agar bersandar di bahu orang itu. Orang yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Orang yang tak kusadari berada disana sejak tadi, karena mataku hanya fokus menatap Lula.
Entah apa yang kurasakan. Sakit, ataupun kecewa. Tapi anehnya, ada sedikit perasaan lega. Lega karena ia tidak sendirian menunggu disana. Lega karena ada bahu untuk tempatnya bersandar. Seluruh orang di dunia bisa berkata bahwa aku seorang pecundang, karena aku lebih rela melihatnya seperti itu daripada menyakitinya lebih lagi.
Aku seperti tersadar. Mungkin ia sudah melupakanku. Mungkin ia tidak kekurangan suatu apapun sekarang. Mungkin sebaiknya, aku tidak mengacaukan apapun lagi.
"Sebaiknya nanti Dokter Jonathan yang menemui keluarga pasien." ujarku cepat pada dokter muda itu.
"Tapi, Dok.."
Aku pikir aku sudah merelakannya. Tapi kenapa rasanya menyakitkan saat melihat ia bersama laki-laki lain?
__ADS_1
Aku bergegas pergi dari sana, karena aku tidak sanggup lagi melihat pemandangan di ruangan itu.
BERSAMBUNG..