Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Dua Tahun


__ADS_3

Author's Note: Hello maaf aku baru update.. Sibuk bangett.. Makasih yang udah sabar, like, vote, dan komen yang membangun.. Bagi yang ga sabar tolong SKIP aja.. Thanks


.


.


.


Aku mematikan alarm ponselku. Sudah pukul lima pagi. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Biasanya, aku tidak bangun sepagi ini. Tapi, aku harus pergi ke rumah Adrian sebelum kerja. Aku ingin memasak untuknya. Kemarin, pertemuan pertama kami setelah kami berpisah. Pertama kali aku melihatnya menangis. Pertama kali juga ia bercerita mengenai ibu kandungnya.


"Lula? Pagi banget?" Mama yang sedang menyemprot tanaman tampak kaget.


"Eh, iya, Ma.. Lula berangkat dulu, ya.."


Mama menatap tanganku yang penuh dengan paper bag berisi bahan makanan.


"Ma, ini aku mau masak di rumah teman, dia lagi sakit. Gak sempet ke supermarket jadi aku ambil dulu ya yang di rumah. Nanti malem aku belanja, deh.."


Mama menatapku curiga. "Gak usah. Sebentar lagi juga Mama ke pasar sama Bibi. Ya sudah, hati-hati ya kamu.."


Aku masuk ke dalam mobilku, merasa lega. Aku tidak sanggup berbohong pada Mama. Tapi tidak mungkin aku bilang mengenai keadaan Adrian. Aku tidak ingin membuat Mama sedih. Aku tahu ia begitu menyayangi Adrian.


.


.


.


Aku tiba di rumah Adrian. Dengan cepat, aku menurunkan barang-barang. Pintu utama tidak dikunci. Aku segera ke dapur dan mulai memasak. Aku akan membuat nasi dan sup daging untuk pagi ini dan spaghetti bolognaise yang akan kumasukkan ke dalam kulkas. Jika Adrian ingin makan, ia cukup menghangatkannya di microwave saja.


Adrian tidak kelihatan dimana pun, tapi aku benar-benar sibuk di dapur. Aku masak dengan terburu-buru. Tidak terasa sudah hampir pukul delapan. Aku harus masuk kantor setengah jam lagi. Aku menata sup di meja dan menutupnya dengan tudung saji. Spaghetti juga sudah siap di kulkas.


Apa dia tidak di rumah? Batinku.


Aku memutuskan untuk naik ke lantai dua. Aku membuka kamar utama. Ia sedang tidur rupanya. Tubuhnya bergerak naik turun seirama dengan napasnya. Melihat itu saja sudah membuatku lega. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya. Sepertinya ia belum makan sejak kemarin malam bersamaku. Apa ia akan makan hari ini jika aku tidak datang?


Aku mengendap-endap dan keluar kamar. Aku mencuci semua peralatan dapur yang kotor, memasukkan semua bahan makanan ke kulkas, dan bersiap pergi ke kantor.


.


.


.


Sore itu, masih di hari yang sama, aku dan Nissa berencana untuk hang out bersama. Ini akan menjadi pertemuan pertama kami sejak aku resign dari kantor lama, dan juga sejak aku bercerai.

__ADS_1


Nissa hanya tahu garis besarnya. Aku tidak pernah menceritakan kehidupanku secara detil pada orang lain.


Aku sudah tiba di sebuah kafe dengan interior indah di Jakarta Selatan.


"Lula! Kangen.." Nissa memelukku.


"Astaga.. Baby nomor dua?" Aku melirik perut Nissa yang sudah besar. Yang ditanya hanya mengangguk senang.


"Oh, Nis.. I'm so happy for you!" ujarku.


Kami duduk di meja di sudut kafe. Kami memesan minuman dan camilan. Tiba-tiba aku teringat pada bayiku. Pasti usia kandungan kami tidak begitu jauh beda, jika bayiku masih ada. Tapi aku tidak ingin berlarut-larut. Aku tahu ini sudah takdir dari Tuhan.


"Kapan due date nya, Nis?" *due date \= Hari Perkiraan Lahir


"Dua bulan lagi, La." ujar Nissa sambil memakan camilannya.


"So?" Nissa menggodaku.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Lo belom baca majalah Insider yang baru?"


Aku menggeleng.


Aku mengernyitkan alis. "Ya, gue tau ini bos lo.. Terus?"


"OMG, La.. Lo tuh pura-pura ngga ngerti atau gimana yaa..? Mending lo baca aja deh langsung halaman 23.."


Aku membalik majalah itu cepat.


Ketika aku melihat foto-foto Nathan, aku berhenti. Kisah dan foto-foto Nathan dimuat berlembar-lembar, seolah-olah ia selebriti atau semacamnya. Well, ia memang seperti selebriti di kalangan pebisnis.


Nissa menunjuk bagian wawancara Nathan.


Insider: Sukses, muda, dan tampan. Apa anda sudah menemukan wanita pilihan?


Nathan: (tertawa) Ah.. Saya rasa saya sudah menemukannya. Tapi, entahlah. Ia sepertinya tidak menyukai saya.


Insider: Bagaimana bisa?


Nathan: Dia baru saja berpisah dengan pasangannya. Saya tidak ingin memaksakan perasaan saya, tapi saya hanya ingin selalu ada untuknya.


Jantungku berdetak lebih kencang, bukan karena ge-er bahwa kata-katanya ditujukkan untukku. Aku hanya takut. Takut bahwa kata-kata itu memang untukku. Aku benar-benar belum siap untuk membuka hati.


Suara Nissa membawa kesadaranku kembali. "Gue nggak nyangka.. Pak Nathan sampai segitunya ke lo.."

__ADS_1


Aku menggeleng cepat. "Please, deh Nis. Emang yang baru pisah, cuma gue? Gue nggak sedeket itu sama dia, Nis."


"Jadi auditor buat dia dan rutin ketemu tuh nggak deket, ya? Hehe.. We'll see aja, ya.." ujar Nissa tanpa membiarkanku membalas.


.


.


.


Setelah selesai bertemu Nissa, aku memutuskan untuk datang ke rumah Adrian. Apa aku berlebihan? Perlukah datang sehari dua kali? Tapi aku hanya ingin memastikan ia makan.


Aku tidak bilang pada siapapun mengenai ini. Tidak kepada Mama. Tidak kepada Nissa. Aku hanya tidak ingin Mama khawatir. Aku juga tidak ingin Nissa semakin meracuniku dengan pemikiran-pemikirannya.


Aku membuka pintu rumah Adrian. Keadaan rumah sudah berbeda dari awal pertama aku datang. Sekarang rumah lebih rapi, dan semua lampu dinyalakan.


"Astaga.." Aku mengelus dadaku saat aku melihat Adrian sedang berdiri menghadapku. Entah ia sedang mengerjakan apa.


Melihatku kaget, ia tertawa kecil. Hal itu saja membuatku senang. Aku ingin ia kembali seperti dulu. Bahagia, seperti sebelum bersamaku.


"Kamu sudah makan?" tanyaku.


"Ya, terima kasih. Masakan kamu enak." ujarnya.


Ia kembali melanjutkan kegiatannya, yang setelah kucermati ternyata ia sedang sibuk dengan laptopnya. Adrian yang dulu telah kembali.


"Lagi lanjutin tesis?" tanyaku.


Ia menggeleng. "Aku sedang membangun Organisasi Non Profit. Sebenarnya, sudah sejak lama. Tapi, mungkin sekarang akan aku seriusin." ujarnya cepat.


Apa?


"Aku akan ke Afrika, La." ujarnya lagi.


Apa? Apa dia bilang?


Sepertinya keterkejutan jelas tampak di wajahku, tapi ia tak berusaha menghiburku. Aku lupa betapa payahnya ia dalam bersosialisasi.


"Aku pikir.. ini jalan hidupku. Untuk membantu orang banyak. Kamu tahu.. Disana, aku akan bertemu dengan banyak anak sepertiku dulu, kekurangan.. Dan aku berharap aku bisa membantu mereka."


"Oke. Berapa lama?" tanyaku, hanya karena penasaran.


"Dua tahun."


Aku berusaha bersikap biasa saja. Toh tidak ada apa-apa lagi di antara kami. Aku hanya tersenyum ke arahnya dan bergegas menuju dapur untuk mengambil vacuum cleaner, mencari sesuatu untuk dikerjakan.

__ADS_1


__ADS_2