Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3


Adrian memberhentikan mobilnya di parkiran di sebuah dermaga di kawasan Jakarta Utara.


"Oh My God.. Kita mau ngapain kesini?" tanyaku, excited.


"Nanti kamu juga tahu.." Ia melempar senyum padaku.


Ia membukakan pintu untuku, menggandeng tanganku dan membimbingku menuju dermaga. Disana, ia berbicara dengan seorang pria berumur yang tampak hormat padanya.


Ia naik ke atas sebuah yacht. "Sini, aku bantu." Ia mengulurkan tangannya, membantuku menaiki tangga.


"Ini.. yacht siapa?" tanyaku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tempat ini begitu mewah, seperti tempat untuk berpesta di film-film. Di tengah, terdapat sebuah mini bar yang penuh dengan minuman.


"Punya Bapak." Aku mengangguk-angguk.


Tak lama kemudian, kami berada di cockpit. Aku baru menyadari tidak ada seorang pun disini.


"Jangan bilang kamu yang nyetir?" tanyaku terkejut.


Adrian mengangguk. Oke, sekarang aku benar-benar panik.


"Adrian.. Kamu tahu kan, kalau aku takut laut?" tanyaku.


Adrian mengangguk lagi. Ia kemudian menyalakan mesin kendaraan besar yang entah akan membawa kami kemana.


"Tenang aja.. Ada aku." ujarnya lembut.


Aku menggenggam tangan Adrian takut. Satu tangannya di atas kemudi. Yacht ini pun mulai bergerak membelah lautan. Aku bisa merasakan hembusan angin di wajahku, wangi laut yang unik dan memabukkan.


Adrian memelankan jalannya kapal, dan menarikku ke sisinya. Sekarang, kepalaku bersandar di bahunya. Aku tersenyum, merasa bahagia dan betapa ini semua terasa seperti mimpi.


Kami berhenti tak lama kemudian di sebuah pulau kecil. Pepohonan hijau tampak kontras bersebelahan dengan pasir putih yang tampak lembut dari kejauhan.


"Yuk.." Ia menarik lembut tanganku.


Aku dibantunya turun dari yacht. Aku tersipu. Rasanya bukan seperti Adrian. Ia benar-benar memperlakukanku dengan baik akhir-akhir ini.


.


.


.


Aku sedang larut dalam pemandangan yang begitu indah ketika cipratan air mengenai pakaianku dari belakang. Aku menoleh. Adrian tertawa melihatku. Ternyata.. ia bisa mengerjaiku juga. Kami berbalas-balasan mencipratkan air.


"Ahh, Lula! Stop?" Ia berjalan mendekat, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan memelukku.


.


.


.


Baju kami sudah basah karena seharian bermain air. Aku tidak pernah melihat sisi kekanakan pada dirinya seperti hari ini. Ia terus mengajakku bercanda.


Sekarang kami sedang duduk bersebelahan, di pinggir pantai. Deburan ombak melebur begitu mengenai kaki kami. Suara ombak dan kicauan burung adalah satu-satunya musik kami.

__ADS_1


"Capek?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Terima kasih, sudah ajak aku kesini." ujarku.


Ia tersenyum dan mengacak rambutku. "Makan, yuk? Aku masakin kamu di yacht. Tapi, sebelum itu.. mandi dulu." ujarnya. Ia menarikku kembali ke yacht. Aku menurutinya.


.


.


.


Ia menciumku begitu kami kembali menginjakkan kaki kami di lantai parkit yacht. Ia tidak melepas ciumannya sambil memeluk pinggangku. Aku memeluk tengkuknya, membuat pergulatan kami semakin panas dan dalam.


"Mandi duluan.." ujarnya di sela-sela kegiatan kami.


Aku menyentuh dadanya yang bidang, berharap ia mengerti maksudku.


Ia tersenyum kecil. "Kenapa?" Ia menyentuh tanganku yang berada di dadanya.


Apa dia sedang menggodaku dengan berpura-pura tidak tahu?


"Mau bareng?" tanyanya.


Aku mengangguk.


Ia membuka kemejanya, melemparnya pelan ke sofa. Kemudian ia menurunkan celana dan **********, kemudian melakukan hal yang sama.


"Memang.. gak akan ada yang liat?" bisikku sambil menahan diri tidak menatap miliknya.


"Kamu cantik." ujarnya di telingaku.


Aku tersenyum malu. Kami mengulang penyatuan kami lagi hari itu.


.


.


.


Kami berganti pakaian dengan pakaian yang ada di lemari. Mungkin.. karyawan Bapak yang menyiapkannya. Kami sudah berada di meja makan beberapa saat kemudian. Adrian memasak salmon panggang dan sayuran sebagai pelengkapnya. Aku sedikit terkejut. Ia hampir tidak pernah memasak seumur hidupnya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Adrian menggodaku.


"Gapapa.. Aku.. senang aja hari ini." ucapku.


Aku mencuci piring bekas kami, kemudian aku kembali menemaninya ke cockpit untuk pulang. Ia mengemudi dengan lebih santai kali ini, walaupun ombak sudah jauh lebih besar dari tadi pagi.


Ia mengecup tanganku.


"I'm gonna miss you.." *Aku akan merindukanmu


Mataku terbelalak mendengarnya. "Apa? Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanyaku.


Adrian menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Kamu tahu aku akan pergi ke Afrika, kan?" Ia mengelus rambutku.


Oh, Tuhan. Tidak. Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Aku tahu ia akan pergi ke Afrika. Tapi itu dulu! Sebelum kemarin terjadi. Sebelum.. Aku kembali membuka hati padanya.

__ADS_1


Aku kehilangan kata-kata. Berbagai macam perasaan hinggap di hatiku. Tapi yang benar-benar kurasakan adalah perasaan kecewa dan marah.


Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku tidak jatuh lagi ke lubang yang sama. Apa yang aku harapkan darinya?


"Kita masih punya beberapa hari lagi.." Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Apa? Beberapa hari lagi? Yang aku mau itu tidak sesebentar itu!


Aku benar-benar sudah muak berada disini, mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku teringat.. pada kata-katanya saat kami baru saja selesai bercinta kemarin. Betapa ia meminta maaf dan bahwa itu hanya sebuah kesalahan. Aku adalah sebuah kesalahan.


Aku mendorong tubuhnya, agar ia menjauh dariku.


"Lula? Please, bicaralah padaku."


Ia menghentikan mesin yacht.


"Bicara? Kamu pikir.. yang terjadi di antara kita ini apa?" Nadaku meninggi.


"Kamu tidak berpikir bahwa.. kita akan kembali bersama, kan?"


Aku terdiam. Itu adalah hal yang kupikirkan.


"Kita.. tidak bisa, La." ujarnya setelah susah payah memilih kata-kata. "Aku tidak mau.. menyakitimu lagi. Aku pikir.. kamu juga memikirkan hal yang sama?"


Aku mengangkat tangan kananku ke arahnya, tidak bisa mendengar satu kata pun lagi darinya.


"Lupakan saja. Oke? Sebaiknya.. kita pulang." Aku berdiri dan berjalan menuju satu-satunya kamar di kapal ini. Aku mengunci pintu dan berusaha keras agar tangisanku tidak terdengar dari luar.


Tok tok tok..


"Lula? Bisakah kita bicara?" Suaranya terdengar sendu, membuatku semakin benci pada keadaan ini. Kami benar-benar bahagia beberapa menit yang lalu. Haruskah perasaanku dihancurkan setelah dilambungkan begitu tinggi? Semua ini seperti permainan roller coaster.


"Biarkan aku sendiri!" ujarku setengah berteriak.


Aku tidak akan membuat ini menjadi lebih sulit lagi. Biarlah ini menjadi perpisahan kami. Aku tidak akan memghalangi impiannya. Pergilah, bantulah semua orang yang perlu kau bantu.


Tidak lama kemudian, aku mendengar mesin kapal sudah menyala kembali. Aku lega ia tidak memaksaku untuk bicara dengannya.


.


.


.


Pintu kamar diketuk lagi.


"Kita sudah sampai, La.."


"Aku akan keluar sendiri. Pergilah!" Aku hanya tidak ingin ia melihat wajahku yang habis menangis.


Begitu aku keluar dari kamar, tidak ada siapapun. Aku bergegas keluar dengan membawa tasku. Saat itulah aku melihatnya, mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari kapal. Tapi aku tidak menerima uluran tangannya. Aku turun sendiri dan berjalan terus keluar dari dermaga.


"Lula.." Ia berjalan cepat mengikutiku.


Aku berbalik. "Stop. Lupakan. Lupakan apa yang sudah terjadi satu minggu terakhir ini. Pergilah. Apa yang kita lakukan memang hanya sebuah kesalahan. Well, dua buah." Aku sengaja menyindirnya. Kesalahan? Kesalahan yang kau lakukan berulang kali? Teganya kamu membiarkanku sendirian berpikir bahwa apa yang kita punya itu nyata?


"Pergilah. Tolong, biarkan aku sendiri. Aku mohon.." Aku tidak melihat matanya, sejujurnya aku hanya menatap ke sembarang arah, ke pakaiannya, sepatunya, ke laut. Apapun, asal bukan matanya. Aku berbalik secepat kilat, berharap bisa menghilang dengan cepat dari sini, menyesali kebodohanku.

__ADS_1


__ADS_2