Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pasien VVIP


__ADS_3

NATHAN'S POV


Aku memberhentikan SUV ku di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Jakarta. Entah sejak kapan aku selalu kesini, mengamati dari jauh. Jika aku beruntung, aku bisa melihatnya dari balik jendela melakukan banyak hal. Minggu lalu, aku bisa mengamatinya sedang memasak. Sekarang, aku mengedarkan pandanganku. Ia tidak ada dimana-mana. Hari ini Sabtu pagi, mungkin ia masih tidur.


Beberapa saat kemudian, saat aku hendak beranjak dari tempat itu, aku melihatnya. Lula dengan rambutnya terikat. Ia tampak seperti sedang membawa sesuatu yang berat. Ia tampak lelah. Aku iba sekaligus kesal melihatnya seperti itu. Aku menaikkan leherku, berusaha mendapat pengelihatan lebih jelas. Ia sedang mengepel lantai rupanya, dengan perut sebesar itu. Aku sudah tidak tahan lagi.


Aku keluar dari mobil, setengah berlari.


Kedua matanya mengikutiku heran.


"Lula! Stop!" ujarku.


Ia kaget.


Aku benar-benar harus memutar otak. Ibunya di rumah sakit. Ia sedang hamil besar. Selain bekerja di kantor, ia juga mengurus rumah ini sendirian. Ia berjuang untuk melunasi hutangnya padaku. Setiap hari ia bekerja, lalu mengunjungi ibunya di rumah sakit, menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Aku jamin seratus persen ia tidak akan mau meninggalkan rumah ini tanpa alasan yang kuat.


Maaf, Lula. Ini semua demi kebaikanmu.


"Kita harus pergi dari sini." ujarku.


Mata indahnya terbelalak. Ia mengusap peluh di dahinya dengan cepat, wajahnya berubah panik.


"Ada apa?"


"Para wartawan itu.. Mereka tahu kantorku. Mereka menanyai beberapa karyawan dan rupanya.. ada kemungkinan mereka menyebut namamu. Intinya, kamu tidak bisa lagi tinggal disini untuk sementara waktu. Ayo ikut aku." Aku berusaha memasang wajah sedemikian rupa agar tak terbaca.


Percayalah dengan karanganku..


"Aku akan mengemas pakaianku." Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian segera masuk ke rumah, meninggalkanku.


Aku bersyukur dalam hati. Aku hanya ingin membantunya.


.


.


.


Kami tiba di penthouse ku siang itu. Lula sudah membawa sebuah koper kecil berisi keperluannya. Kami akan kembali mengunjungi ibunya sore ini. Namun, sejak tadi ia terlihat cemas.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyaku sambil membimbingnya masuk ke apartemen.


"Aku.. tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa.." ujarnya.


Aku hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


Aku kemudian meletakkan koper miliknya di kamar utama, setelah itu kembali ke ruang tengah tempat ia berada.


"Aku tidak akan tinggal disini, jika itu yang kamu khawatirkan. Selain itu, disini juga ada Gloria yang akan melayani semua kebutuhanmu. Kamu tidak perlu bekerja keras lagi." ujarku panjang lebar.


"Apa mereka.. tidak akan tahu aku tinggal disini?" ia mengerjapkan matanya dengan lembut. Aku menahan diri untuk tidak merengkuhnya.


"Tidak. Tidak ada yang akan tahu kamu disini. Oh ya, kapan kamu cuti?" tanyaku sambil memperhatikan perutnya yang sudah besar.


"Entahlah. Apa aku bisa menjenguk mamaku sekarang?" tanyanya, sudah hendak bersiap-siap.


Aku menghitung di dalam kepalaku. Usia kandungannya sudah hampir delapan bulan, tapi ia sama sekali belum membeli keperluan bayi. Saat aku bertanya mengenai bayi nya pun, ia seperti tidak ingin memikirkannya. Aku tahu rasanya pasti menyakitkan, memiliki seorang anak yang tidak diinginkan. Aku akan membantumu, Lula.. untuk menyayanginya.


"Sebelum itu.. Bagaimana kita pergi makan dulu ke mall?" tanyaku. Aku bersyukur karena hari ini aku sudah mengosongkan jadwalku.


Ia tampak ragu sejenak. "Aku bisa sendi.."


Aku menarik tangannya lembut agar ia memperhatikan apa yang akan ku katakan selanjutnya. "Kita akan ke rumah sakit, setelah kamu makan."


.


.


.


"Apa.. kamu sudah menyiapkan nama?" tanyaku ketika kami baru selesai makan.


Lula sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. Aku tahu ia benar-benar belum memikirkan nama.


"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, oke?"


Setitik air mata jatuh ke pipinya.


"Pasti kamu berpikir.. bahwa aku ibu yang jahat, kan?" ujarnya pelan.


"Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya berpikir bahwa kamu seorang ibu yang kuat. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa.. kamu tidak sendirian dalam membesarkannya. Kalau kamu mengizinkan.. Aku akan selalu berada di sisi anak itu, menyayanginya, memberikan apa yang ia butuhkan. Kamu.. memiliki masalah yang saat ini membuat kamu tidak fokus pada calon anakmum Jadi jangan pernah merasa bahwa kamu ibu yang jahat." Aku terus mengamatinya sepanjang aku berbicara.


"Terima kasih, Nathan. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu." ujarnya.


Aku tersenyum, mempercayai setiap kata yang baru saja keluar dari lisanku.


.


.


.

__ADS_1


Setelah makan, aku mengajaknya melihat-lihat keperluan bayi. Awalnya, ia enggan. Tapi setelah dibujuk, ia mau. Kami membeli banyak sekali barang sehingga aku harus memanggil beberapa bodyguard ku untuk membawakan barang-barang kami. Aku tidak membiarkan Lula membawa sedikit barang pun. Kami membeli pakaian bayi, mainan, keperluan menyusui, car seat, hingga stroller. Seperti biasa, Lula bersikeras membayar. Tapi aku lebih bersikeras lagi. Anggap saja ini kado dari Uncle kesayangannya, ujarku. Kata-kataku itu membuatnya tersenyum.


Kami hampir selesai berbelanja ketika ponsel Lula berbunyi.


"Halo?" Wajahnya berubah pucat pasi.


"Baik, kami segera kesana." jawabnya lalu segera menutup telepon.


Matanya berkaca-kaca ketika menatapku.


"Mama kritis."


.


.


.


ADRIAN'S POV


Ponselku berdering. Aku melihat jam di atas nakas. Siapa yang pagi-pagi buta begini meneleponku?


"Halo?" jawabku.


"Maaf, mengganggu sebelumnya. Apakah ini Dokter Adrian Spesialis Jantung?" tanya suara laki-laki di seberang bertanya dengan bahasa indonesia.


"Ya, benar. Ada apa?"


"Saya Dokter Jonathan, diberikan nomor anda oleh Prof. Sandi. Begini, di rumah sakit kami ada seorang pasien jantung yang membutuhkan penanganan anda. Apakah.."


"Apa anda tahu saya sudah tidak melakukan operasi lagi?" Aku memotong perkataan dokter itu.


"Ya, saya tahu, Dok. Tapi.. Di Indonesia, belum ada yang bisa menandingi kehebatan anda untuk menangani kasus langka seperti ini, Dok. Jadi pasien ini memiliki bawaan jantung sejak lahir. Ia sudah berkali-kali melakukan operasi. Hanya dokter satu-satunya harapan kami. Kami sudah menghubungi para ahli di Amerika dan jadwal mereka sudah penuh hingga tahun depan. Tak sedikit dari mereka yang mereferensikan nama Dokter Adrian. Karena memang hanya Dokter Adrian yang ahli di bidang ini di seluruh Asia." ujar Dokter Jonathan panjang lebar.


"Apa kamu tahu saya sedang berada di Afrika?"


"Kami akan melakukan penanganan seperlunya untuk menyelamatkan nyawa pasien ini. Tapi, Dokter Adrian lah satu-satunya ahli yang dapat melakukan operasi. Kami rasa kami dapat menunggu hingga Dokter tiba di Indonesia."


Aku terdiam. Aku belum pernah melakukan operasi lagi sejak lama. Haruskah aku datang dan melakukan operasi pada orang ini?


"Kami akan mengirimkan berkas pasien dan mengurus kedatangan anda, Dokter. Karena beliau merupakan pasien VVIP, anda akan dijemput dengan private jet. Anda bisa kembali ke Bujumbura setelah operasi selesai dan pasien sudah stabil."


Pasien VVIP? Siapa?


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2