
LULA'S POV
Aku tak sadar sudah berapa lama aku berbaring. Mungkin satu hari. Atau dua hari. Entahlah. Lapar dan haus tidak cukup untuk memotivasiku untuk bangkit dari tempat tidur ini. Sudah lama sekali aku hanya menangis dan tidur. Bangun lalu menangis lagi dan tidur lagi. Aku sudah terlalu lelah baik psikis maupun fisik.
Bali. Aku tidak memiliki alasan khusus mengapa aku kesini. Setelah pergi dari rumah Nathan, aku pergi ke bandara dan memesan tiket apa saja yang paling cepat jadwal keberangkatannya. Aku sudah tidak sanggup lagi jika urusanku dan hidupku dicampuri siapapun. Di Jakarta, semuanya memuakkan. Aku akan selalu teringat pada bayiku yang sudah tidak ada. Adrian. Kedua orang tua dan mertuaku. Teman-temanku. Bahkan Nathan. Semuanya hanya membawa kenangan buruk untukku.
Aku menyewa villa satu kamar dengan satu kolam renang, yang lagi-lagi kusewa bukan karena alasan apapun. Aku hanya asal memilihnya. Aku hanya ingin cepat-cepat lari dari Jakarta. Aku berharap aku dapat sendirian di tempat ini.
Tok tok tok..
Pintu kamarku diketuk. Siapa? Setahuku tidak ada pelayan ataupun room service disini.
Aku bangkit dan berjalan pelan menuju pintu sambil memegang perutku yang sakit. Mungkin karena lapar. Bukannya aku tidak memiliki uang untuk membeli makanan, tapi hatiku terlalu hancur untuk melakukan aktifitas sederhana seperti makan.
Aku membuka pintu. Tidak ada siapapun. Ketika aku hendak menutup pintu, aku melihat sebuah bungkusan makanan dari sebuah restoran.
Perutku berbunyi.
Tapi siapa yang memberikanku ini?
Aku membawa bungkusan itu ke dalam. Aku hendak membuangnya ke tempat sampah, tapi aku benar-benar lapar. Aku tidak bisa lagi berpikir. Aku membuka bungkusan itu dan memakannya perlahan di atas ranjang.
.
.
.
Deburan ombak menabrakkan raganya dan hancur oleh tebing. Aku menatap laut sendu. Sudah dua minggu aku berada di Pulau Bali. Aku masih tidak melakukan apapun. Tapi sekarang aku makan, meskipun kadang hanya sehari sekali. Sesekali aku pergi ke pantai. Kehidupanku selama dua puluh sembilan tahun ini berkelebat di hadapanku.
Ponselku berbunyi. Ada notifikasi dari aplikasi mobile banking ku.
Adrian Wijaya telah mentransfer uang sebesar Rp. 30.000.000.
Aku tersentak membaca nama itu. Nama yang berusaha kulupakan dengan kuat. Tiga puluh juta? Untuk apa? Tiba-tiba aku teringat. Hari ini tanggal satu. Dan jumlah itu.. Ia selalu mengirimiku uang bulanan sejumlah itu pada tanggal satu setiap bulannya. Tapi sekarang untuk apa? Bukankah kami sudah berpisah?
Aku menekan-nekan ponselku cepat. Aku mentransfernya balik. Aku tidak mengiriminya pesan apapun atau mencoba menghubunginya, karena ia pun begitu. Yes, sudah berhasil. Aku tidak ingin memiliki utang pada siapapun. Aku tidak lagi memiliki hubungan dengan Adrian jadi sebaiknya aku langsung mengembalikannya. Selama ini pun uang bulanan darinya hampir tak pernah kusentuh kecuali saat hendak mengisi rumah kami dengan furnitur atau peralatan baru, karena gajiku masih sangat cukup untuk membiayai diriku sendiri.
Aku kembali melanjutkan lamunanku, menikmati hembusan angin laut di wajahku. Ponselku berbunyi lagi. Adrian mengirimiku kembali uangnya. Oke. Aku tahu ia menyebalkan, tapi aku tidak tahu ia bisa sekeras kepala ini. Ia mau jadi sok benar? Sok bertanggung jawab? Ia pikir aku tidak bisa menghidupi diriku sendiri?
Aku menghela nafas. Oke. Apapun yang terjadi. Aku tidak boleh menghubunginya. Sebenarnya dengan keengganan kami satu sama lain untuk berkomunikasi, sudah jelas bahwa hubungan kami berjalan dengan sangat disfungsional. Tapi biar bagaimanapun, nanti ketika aku di Jakarta, aku akan mencairkan uang ini dan mengembalikannya langsung padanya, jika itu perlu.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk tidak membesar-besarkan masalah itu dan meletakkan ponselku untuk kembali menyatu dengan alam.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, aku menerima pesan dari pengacaraku.
Selamat siang, Nona. Hakim telah memutuskan bahwa mulai hari ini anda resmi bercerai dari Tn. Adrian. Saya telah mengirim akte perceraian ke email anda. Terima kasih.
Aku senang membacanya. Aku memang melimpahkan semua urusan perceraian ini kepada pengacara. Semua proses menyakitkan ini. Aku senang semua berjalan cepat.
Tunggu.. Senang? Benarkah itu?
Aku menutup mata, hampir membayangkan wajahmu. Membuatku semakin teringat padamu. Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu makan teratur? Tidak kulewatkan sedetikpun tanpa memikirkanmu, yang tak bisa kuhapus dari hatiku. Tidak kulewatkan sedetikpun juga tanpa menyiksa diriku sendiri dengan perasaan bersalah yang teramat besar ini.
Apa aku egois karena merindukanmu?
Harusnya aku membencimu. Dengan sungguh-sungguh. Harusnya kamu lebih membenciku. Seribu kali lipat. Tapi tampaknya tidak. Kamu bahkan masih menafkahiku. Tolong.. Benci aku. Agar semuanya ini menjadi lebih mudah.
Aku membuka pintu kaca lebar-lebar. Aku merasa sesak. Kini aku baru menyadarinya. Aku telah resmi bercerai. Aku benar-benar sendirian sekarang. Benar-benar sendirian. Kami telah melepas tanggung jawab kami kepada satu sama lain. Tanpa sadar air mataku jatuh. Aku memang masih mencintainya. Benar-benar mencintainya. Mungkin ini yang disebut tak selamanya yang kita inginkan itu baik untuk kita. Lihat saja bagaimana pernikahan kami. Dingin. Penuh pertengkaran.
Aku sedikit menyesal menikahinya. Mungkin saja kalau kami memutuskan tidak menikah, aku tidak akan selalu menuntutnya untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Aku cukup bersyukur jika diberi kesempatan dua kali seminggu bertemu dengannya semasa pacaran.
.
.
.
Beberapa hari kemudian..
Ponselku berdering.
Aku membuka mata dan menatap jam. Baru pukul enam pagi. Aku melihat nama di layar ponsel.
Mama.
Aku mengangkat panggilannya.
"Lula?" Mama terisak.
__ADS_1
"Ya, Ma?" ujarku.
"Cepat pulang, Nak.." ujarnya masih terisak.
"Ada apa, Ma? Mama kenapa?" tanyaku.
"Pulang saja. Sekarang."
Panggilan diputus.
Perasaanku tidak enak. Ada apa? Apa mungkin.. sesuatu terjadi pada Mama? Atau.. Adrian? Entah kenapa aku malah memikirkan Adrian. Kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi menimpanya, pasti aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.
Aku mengambil barang-barangku seadanya dan berlari keluar villa. Aku memberhentikan taksi yang lewat.
"Ke bandara, Pak." ujarku.
.
.
.
Siang itu, di Jakarta..
Aku tiba di rumah kedua orang tuaku. Aku menggedor pintu utama.
"Loh? Non Lula?" Bibi membuka pintu dan tampak terkejut melihatku. Ia seperti habis menangis.
"Mama mana, Bi?" teriakku panik.
"Nyonya.. Nyonya.."
"Dimana, Bi??"
"Di Pemakaman X, Non.."
"Apa?? Siapa yang.."
Bibi tampak enggan untuk menjelaskan. Raut wajahnya berubah sedih. Aku berlari lagi keluar. Aku memberhentikan taksi lagi dan menyuruh supir untuk menyetir dengan cepat.
.
.
__ADS_1
.
Pemakaman tampak ramai siang itu. Aku bisa melihat puluhan orang mengenakan pakaian serba hitam. Aku tidak bisa melihat Mama. Aku membayar dan turun dari taksi. Aku berjalan takut-takut mendekati makam. Aku mendekat dan semakin mendekat. Aku dapat mendengar tangisan Mama. Aku dapat melihat Bapak dan Ibu Adrian di sisi makam berseberangan denganku. Lalu aku melihatnya. Nisan itu bertuliskan nama Papa, Lukas Abraham.