
Aku baru saja selesai mandi. Aku sedang menata rambutku dengan pengeriting rambut ketika Adrian bangkit dari kasur dan mengecupku sekilas.
"Mereka datang jam enam?" tanya Adrian sambil memelukku dari belakang. Rasanya seperti mimpi. Sudah lama rasanya kami bertengkar bahkan pisah ranjang, sehingga sekarang benar-benar seperti mimpi. Seolah kami tidak pernah bertengkar. Seolah kami selalu mesra seperti ini.
"Lula.." Adrian mendekatkan wajahnya di leherku dan hembusan nafasnya membuyarkan lamunanku.
"Ehmm.. Iya.. Jam enam."
Adrian menatap jam tangannya. "Sebentar lagi. Aku mandi dulu, ya?" ujarnya. Aku mengangguk. Ia mengecupku lagi sekali dan segera pergi ke kamar mandi.
Astaga Adrian. Berhentilah membuatku semakin mencintaimu. Entahlah. Mungkin itu sederhana bagi banyak orang. Tapi tidak bagiku. Adrian adalah pria yang sulit mengungkapkan dirinya dengan kata-kata sehingga sedikit saja sikap manisnya bagiku sangat berarti.
Tok tok..
"Non, Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah datang." ujar Tina dari balik pintu.
"Oh, oke. Saya turun sekarang." Ujarku sambil buru-buru merapikan rambutku. Aku turun ke lantai dasar. Ayah, Ibu, Mama, dan Papa sudah datang. Mereka bergantian memelukku.
"Lula, Papa senaaang sekali kamu sudah.." ujar Papa ketika memelukku.
"Sssttt.. Pa, nanti aja ya waktu ada Adrian." ujarku. Aku membimbing mereka ke ruang makan.
Setelah kami duduk, Mama membuka pembicaraan. "Lula, kamu kok bisa sih ga kasih tahu Mama. Mama kan bisa antar makanan kesini setiap hari. Mama akan suruh Bibi nginep sini, ya. Kamu ga boleh capek-ca.."
"Iya, Ma. Kalo soal Bibi, Tina udah nginep sini kok. Aku ga pernah capek."
Tiba-tiba Adrian datang dari belakang dan mengusap pundakku sekilas.
"Capek kenapa?" ujar Adrian padaku setelah menyapa keempat orang tua kami.
"Ehmm.. Engga, gapapa." ujarku sambil membalas mengusap punggung tangannya.
Adrian duduk di sebelahku. Aku mengambilkan makanan di piring untuknya. Kami pun mulai makan.
"Adrian, gimana? Kerjaan lancar?" tanya Mama.
"Lancar, Ma. Tapi kayanya Lula yang kecapekan, Ma. Dia seharian mual terus. Aku kasih obat gak mau." ujar Adrian sambil menyantap makanannya.
Aku menatap Adrian, begitu pula Mama, Papa, Bapak, dan Ibu.
__ADS_1
"Ehm.. Sayang, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu.." ujarku ragu-ragu.
Drrrrttt.. drrrrttt..
Ponsel Adrian berbunyi.
"Sebentar, dari rumah sakit."
"Oh, oke.." ujarku pelan, aku yakin tidak ada seorang pun mendengarnya.
Adrian pamit ke belakang untuk mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian, ia kembali dan terlihat terburu-buru. Aku sudah hafal adegan ini, sudah ratusan kali aku melihatnya.
"Maaf.. Ada emergency. Aku harus.." Adrian menatap orang tua kami. Mereka berempat mengangguk-angguk tanda mengijinkan. Adrian mendekatiku. "Lula, maaf." Ia mengecup pipiku sekilas dan setengah berlari menuju garasi untuk menuju ke rumah sakit.
Kami melanjutkan makan malam. Orang tua kami tampak kecewa karena aku tidak jadi memberitahu kabar bahagia ini pada Adrian, namun mereka juga tampaknya berusaha mengalihkan perhatianku dengan selalu mengajakku berbicara.
"Padahal sudah Bapak bilang berkali-kali.. Janganlah kerja terlalu keras seperti itu. Bapak tahu dia itu dokter. Tapi masa, tidak punya kehidupan pribadi seperti ini.." keluh Bapak.
"Mungkin kalau Adrian tahu Lula hamil, dia akan sedikit-sedikit mengurangi aktifitasnya, Pak Alexander." ujar Mama, entah hanya sedang bersikap sopan di depan besan atau gemar saja membela menantunya.
"Ya, saya sudah bilang.. Bangun rumah sakit sendiri. Banyak pun saya akan biayai. Dia yang jadi Direkturnya. Tetap saja maunya melayani orang banyak seperti itu. Ya sampai kapan.." lanjut Bapak lagi. Ibu hanya tersenyum kecut di sebelahnya. Aku tidak pernah tahu hal ini.
"Makannya, Lula. Bapak ini mencari penerus untuk memimpin perusahaan Bapak. Jadi, kapan kamu resign? Enak jadi bos, kan? Apalagi kamu diberi rezeki oleh Yang Diatas yaitu anak yang ada di dalam kandunganmu. Kamu bebas saja kerja di perusahaan Bapak. Tidak datang sama sekali juga tidak apa-apa. Yah begitu nanti anakmu sudah besar... baru kamu ke kantor, seminggu sekali, atau apa.." Ujar Bapak panjang lebar.
"Sudahlah, Pak.. Nanti saja begitu Lula ingin. Toh Bapak juga masih sibuk kan di kantor." ujar Ibu.
.
.
.
"Nanti cek kandungan berikutnya, Mama ikut ya?" tanya Mama ketika aku sedang mengantar mereka semua keluar, hendak pulang.
"Ibu juga?" tanya Ibu ikut-ikutan.
"Hehe, ya boleh kok.." ujarku. Papa dan Bapak hanya menggelengkan kepala.
"Sampai ketemu, Ma, Pa.. Ibu, Bapak, terima kasih sudah datang.." Aku melambai pada mobil mereka yang dibuka kaca jendelanya. Mereka melambai dan mengucapkan kata-kata perpisahan padaku.
__ADS_1
Setelah mobil mereka tak terlihat, aku kembali masuk. Tina sedang membereskan meja makan.
Aku memutuskan untuk tidur saja di kamar, menunggu Adrian pulang seperti biasa.
.
.
.
Aku merasakan sesuatu sedang bergerak-gerak di leherku. "Aaahh.." erangku. Aku membuka mata.
Adrian.
"Kamu baru pulang?" tanyaku.
Ia sedang berada di atasku, menciumi leherku. Ia mengangguk menjawab pertanyaanku.
"Mau makan? Aku masakin yah?" Aku berusaha bangkit dari posisi berbaring. Ia menahan tubuhku, menggeleng. "Aku capek. Mau tidur." ujarnya. Aku tidak ingin berdebat dengannya hanya karena urusan sepele, jadi aku membiarkannya.
"Gimana operasinya?"
"All good, hun." jawabnya.
Aku tersipu saat ia memanggilku dengan manis seperti itu.
"Aku mandi dulu.." ujarnya kemudian bangkit berdiri.
Selama ia mandi, aku tidak bisa kembali tidur. Beberapa menit kemudian, Adrian keluar dengan menggunakan handuk dililitkan di pinggangnya. Bukannya memakai baju, ia malah ke kasur, mendekatiku.
"Kamu masih sakit?" tanyanya sambil menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
Aku menggeleng.
Ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengenakan pakaian tidur dengan cepat. Ia melemparkan tubuhnya di sebelahku. Aku mematikan lampu tidur, berusaha membuatnya cepat lelap.
Ia memelukku dari samping. Kakinya dinaikkan satu ke atas kakiku. Aku tersenyum. Kadang ia bersikap seperti anak kecil. Mungkin karena ia kurang kasih sayang dari seorang Ibu? Ibu kandungnya maksudku. Aku tidak ingin hal yang sama terjadi pada anak kami. Aku mengelus perutku. Aku ingin ia tidak kekurangan suatu apapun.
"Sayang.. Aku mau kita terus seperti ini." ujar Adrian pelan. Aku kira ia mengiggau. Matanya tertutup. Tak lama aku mendengar nafasnya yang teratur. Ia sudah tidur.
__ADS_1
Terus seperti ini? Apa maksudnya? Jika maksudmu adalah terus bersama selamanya, ya.. aku akan berusaha untuk itu.
Apa kau akan senang jika aku bilang bahwa ada anak di dalam perutku? Apa kau akan menyayanginya?