Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Malaikat


__ADS_3

Aku menutup kedua mataku. Aku hanya ingin melupakan rasa sakitku. Meskipun dengan cara bodoh. Meskipun dengan harus melukai fisikku. Tapi.. sepasang tangan kekar menarikku. Cahaya dari lampu mobil yang mengklaksonku tadi sepertinya sudah sirna. Yang kurasakan sekarang hanya.. hangat. Bahkan rintik hujan yang tadinya mengguyur sekarang seperti terhalang oleh sesuatu, atau seseorang.


Aku sadar bahwa aku sedang berada di dekapan seseorang. Seseorang yang telah menarikku dari marabahaya. Tapi aku terlalu letih dan tidak peduli untuk membuka mata. Siapa orang baik hati ini? Malaikatkah? Apakah aku sudah mati? Kupertajam telingaku dan aku masih mendengar suara bising lalu lintas. Aku masih dapat mencium samar-samar wangi hujan yang menenangkan. Dan anehnya, samar-samar parfum laki-laki.


Aku membuka mata dan mendongakan kepala. Yang pertama kali kulihat adalah wajahku tepat berada dibawah leher seorang laki-laki. Ia mengenakan kemeja hitam. Wangi parfum nya lah yang sedari tadi kucium. Aku memperhatikannya lebih seksama. Wajah yang samar karena aku melihat dari bawah, selain itu, tetesan hujan juga menghalangiku untuk membuka kedua mataku lebar-lebar.


Aku memberontak, sadar bahwa orang ini telah menggagalkan upayaku.


Pria ini mencengkram sikuku lalu memundurkan tubuhku kasar, seolah memastikan agar aku bisa melihatnya dengan jelas.


Nathan.


Seketika aku diliputi perasaan malu.


"Apa yang kamu pikirkan, hah?" ujarnya setengah berteriak. Aku tidak yakin apa ia melakukannya karena ia kesal padaku atau karena hujan semakin deras dan ia ingin aku dapat mendengar kata-katanya.


"Lepas!" ujarku. Aku tahu rencanaku sudah seratus persen gagal. Aku hanya ia melepasku karena aku terlalu memalukan.


"Tidak akan!" Suaranya tidak sekeras tadi.


Aku tak menjawab, namun malah memalingkan wajahku darinya. Aku merasa malu. Harus berapa kali lagi ia memergokiku melakukan sesuatu yang memalukan?


"Berhentilah bertindak bodoh!" bentaknya.


Aku menangis mendengarnya. Bukan karena bentakannya. Tapi karena.. aku sungguh merasa bodoh. Bukannya merasa lebih baik, tapi semakin aku merasa bodoh, semakin aku merasa bahwa aku tidak layak hidup.


Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya. Aku tidak peduli. Aku berharap suara hujan menyamarkan tangisanku.


Ia memelukku lagi. Kali ini, untuk waktu yang lebih lama.


.


.

__ADS_1


.


"Sudah?" ujarnya di telingaku ketika tangisku sudah mulai mereda. Posisi kami masih sama. Berpelukan.


"I'm so sorry that you lost your father.." ujarnya. Aku semakin sedih mendengarnya. Ia malah mengingatkanku pada kehilanganku. Tapi.. darimana ia tahu?


"Kita ke mobil, oke?" suaranya tenang dan penuh keyakinan bahkan saat aku tidak berkata apapun.


Aku rasa aku tidak punya pilihan. Aku diam saja ketika ia membimbingku ke Ferrari nya.


Aku juga diam saat ia melewati rumah orang tuaku. Ia membawa Ferrari nya melesat. Sebelumnya ia tak pernah mengebut seperti ini. Aku tidak tahu dan tidak peduli akan dibawa kemana.


Kami memasuki sebuah gedung apartemen mewah. Tak lama kemudian, kami memasuki parkiran. Saat selesai memakirkan mobilnya, ia juga masih diam. Tapi aku tidak begitu memperhatikan, pikiranku kosong.


Ia membuka pintu mobil untukku. Ada banyak pertanyaan berkecamuk di benakku, tapi aku diam. Aku tidak mempedulikan dimana aku berada, untuk apa ia mengajakku kesini.


Kami memasuki sebuah apartemen yang sangat mewah. Ia menyuruhku duduk di sebuah kursi tinggi di meja marmer dekat dapur. Kemudian, ia sibuk dalam dunianya sendiri. Membuka kulkas, lemari penyimpanan, menyalakan kompor, memasak sesuatu.


"Makan." perintahnya sambil menyajikan dua piring steak. Satu diletakkan di hadapannya dan satu di hadapanku.


"Saya sudah makan tadi.." jawabku pelan.


"Aku tahu kamu belum. Makan." suaranya terdengar acuh. Aku berusaha menghormatinya, jadi aku memotong steak itu perlahan. Aku memang kelaparan. Ia juga makan di seberang tempat dudukku. Ia tak memperhatikanku, sibuk dengan makanannya.


Saat aku sedang makan dalam diam, ia seperti teringat sesuatu. Kemudian ia berjalan ke ujung dapur, dimana aku melihat terdapat sebuah rak wine kecil. Ia memilih satu botol wine, dan membukanya. Ia menuang wine itu ke dalam dua gelas, meletakan satu gelas di sebelahku.


"Terima kasih," ucapku.


Ia tak menjawab. Ia meletakan botol wine itu asal dan kembali makan. Seperti déja vu. Aku teringat masa-masa ketika aku masih berumah tangga dengan Adrian. Ketika kami makan bersama, semuanya begitu.. membuatku kesepian. Tapi aku tidak begitu memusingkan ini. Hanya ada satu yang ada di pikiranku, perasaan bersalah kepada orang tuaku.


Aku menghabiskan makananku saat ia sudah selesai mencuci piringnya dan menghabiskan setengah botol wine sendirian.


Tiba-tiba saat aku hendak bangkit untuk mencuci piring, tangannya menahanku.

__ADS_1


"Aku saja.." ujarnya.


Aku melotot. Bagaimana mungkin aku membiarkannya mencuci piring bekas ku?


Ia tersenyum kecil. "Please, kamu tamu di apartemen ini." Ia tampak yakin, tak bisa dibantah. Aku membiarkannya. Ia mencuci piringku cepat. Aku memutuskan untuk menyesap wine, mencegah kecanggungan di antara kami.


"Ternyata harus begitu, ya?" ujarnya. Ia membalik tubuhnya, menghadapku. Jarak kami sekitar dua meter, terpisahkan kitchen island yang terbuat dari marmer tempat kami makan tadi.


"Maksud kamu?" Aku bingung.


"Iya, mungkin saya harus jadi orang yang dingin, acuh, cuek sama kamu hanya agar kamu mau menuruti semua perintah saya."


Aku mengernyitkan alis, kehilangan kata-kata. Jujur, aku malas menanggapinya.


"Ehm.. mungkin sebaiknya kita mandi." gumamnya lagi. Nathan yang sebenarnya sudah kembali. Nathan yang ekstrovert dan suka bicara. Aku tersenyum kecil.


"Kenapa? Mau mandi bareng?" tanyanya.


"What?"


Ia terkekeh. "Saya cuma becanda kok.."


"Saya sebaiknya pulang." ujarku serius. Aku bangkit dari duduk, dan tangannya menahanku lagi.


"Kamu.. yakin? Kamu yakin kamu baik-baik saja?" Kedua bola matanya menyelidikiku, seolah mencari keraguan di diriku.


Pertanyaannya membuatku tersadar. Kalau aku keluar dari tempat ini, kemana kah tujuanku? Aku tidak ingin semakin menyakiti Mamaku dengan menunjukkan diriku di hadapannya. Aku tahu ia hancur. Aku takut kalau ia berpikir bahwa semua ini terjadi karenaku. Aku menyadari bahwa.. mungkin sebaiknya aku tidak pulang ke rumah Mama.


Aku menangis. Tersedu-sedu. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, merasa malu di depan orang asing ini. Kemudian, hal yang terjadi tadi siang terjadi lagi. Ia menarikku ke dalam pelukannya.


"It's going to be okay, La.." Ia mengelus rambutku pelan.


"Breathe. Aku akan selalu ada disini." bisiknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2