Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Hamil


__ADS_3

LULA'S POV


Beberapa hari kemudian..


Aku baru saja membuka mataku saat tiba-tiba aku merasakan mual yang teramat sangat. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutku. Huek.. Huek..


Setelah selesai, aku menghela nafas dan menyandarkan tubuhku di tembok wastafel. Aku baru saja hendak mengambil obat pereda mual ketika bel apartemenku berbunyi. Aku bergegas ke arah pintu dan membuka pintu.


Ibu. Ia berdiri dengan anggun di hadapanku.


"Ibu.." Aku kaget. Tahu darimana ia aku tinggal disini? Pasti dari anak buah Bapak.


"Ibu harap kamu ga keberatan Ibu datang?" ujarnya.


"Ga, Bu. Sama sekali engga. Silahkan, Bu." Aku mempersilahkan ia masuk.


Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemenku.


"Maaf, Bu. Tempatnya sederhana." ujarku merendah. Apartemen ini sebenarnya termasuk apartemen mewah, hanya saja ukurannya saja yang kecil dan hanya memiliki satu kamar. Benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding rumah Ibu.


"Gapapa." Ibu duduk di sebuah sofa one seater. Aku duduk di hadapannya.


"Kok kamu pucat. Kamu gapapa?" tanya Ibu.


"Gapapa, Bu. Mungkin cuma kecapean aja." jawabku.


Ibu mengangguk-angguk. "Kamu libur kan, hari ini?"


"Ya, Bu. Aku libur hari Sabtu. Oh ya, sebentar. Aku buatin Ibu minuman." ujarku sambil berjalan ke arah dapur. Karena apartemenku kecil, jadi kami bisa saling berbicara meskipun aku di dapur dan ia duduk di ruang tamu, jarak kami hanya tiga meter.


Aku memutuskan untuk membuat teh chamomile untuk Ibu. Aku bertanya-tanya apa yang menyebabkan Ibu kesini. Apa ia datang untuk menyuruhku kembali ke rumah Adrian?


Aku meletakkan secangkir teh di hadapan Ibu. Ia berterima kasih dan menyesapnya dengan keanggunan yang tak pernah kulihat di diri perempuan manapun.


"Jadi.. tujuan Ibu kesini itu cuma mau lihat bagaimana keadaan kamu. Ibu khawatir sama kamu." ujarnya.


"Aku baik-baik kok, Bu.." jawabku tak tahu harus menjawab apa lagi.


"Mama kamu tahu?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng.


Ibu menghela nafas. "Ya.. Sama lah seperti Adrian. Dia juga takut Bapak tahu." ujar Ibu.


"Ehmm.. tapi, Bu. Ibu tahu aku disini itu dari pekerjanya Bapak, kan?" tanyaku.


Ibu menggeleng. "Dari Adrian."


"Apa, Bu?" tanyaku terkejut. Jadi dia tahu aku dimana tapi sama sekali tidak mencariku?

__ADS_1


"Iya.. Tunggu.. Jangan-jangan.. Dia ga pernah kesini buat jemput kamu?" selidik Ibu.


Aku terdiam, tapi Ibu tahu jawabanku. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ibu mengambil ponselnya di tas dan terlihat seperti menghubungi seseorang.


"Kamu.. Jemput Lula hari ini juga!" ujar Ibu setengah berteriak pada seseorang di telepon yang aku yakin seratus persen itu Adrian.


Aku memegang erat satu tangan Ibu, berusaha menenangkannya. Sedangkan satu tangannya yang lain memegang ponsel di telinganya.


"Apa? Kamu.." Ibu diam sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau kamu ga mau Bapak tahu, lakukan apa yang Ibu suruh!" ujarnya lagi dan ia kemudian mematikan telepon.


"Anak itu.. Keterlaluan.. Yang diurus cuma rumah sakiiit aja.." ujar Ibu padaku. "Maaf, La. Ibu pikir Adrian sudah sering coba bujuk kamu.."


Aku menutup mulutku tiba-tiba dan secepat kilat berlari ke arah kamar mandi. Aku muntah lagi.


Ibu menghampiriku dan mengelus-elus punggungku. "Kamu sakit?"


Aku menyentuh kepalaku yang pening. Aku mengangguk.


"Sejak kapan kamu muntah-muntah begini?" tanya Ibu lagi.


"Ehm.. Dua hari ini, Bu." ujarku.


"Ayo kita ke rumah sakit." Ajak Ibu. Ibu mengeluarkan minyak angin dari dalam tasnya dan mengoleskannya ke tengkukku.


"Gausah, Bu.." Aku bangkit berdiri dan mencari obat sakit kepala di lemari di atas wastafel.


"Yuk, ke rumah sakit." Aku menatap wajah Ibu yang tiba-tiba berseri-seri. "Siloam aja." ujarnya. Siloam adalah nama rumah sakit tempat Adrian bekerja. Mungkin ia berpikir kami akan bertemu dengan Adrian disana. Apa ini cara ia untuk menyatukan kami kembali?


.


.


.


Tiga puluh menit kemudian..


"Loh, Bu.. Kok kita ke obgyn?" tanyaku heran saat kami menunggu di depan ruang dokter kandungan.


"Iya.. Yuk, masuk kita udah dipanggil." kata Ibu lagi.


Kami masuk ke ruang dokter.


"Tante?" Sapa dokter perempuan itu.


Aku seperti pernah melihatnya.


"Syena?" ujar Ibu.


Syena? Itu kan.. Mantan Adrian? Oh jadi mereka satu rumah sakit? Rasa nyeri menjalar hatiku. Adrian lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Apa mereka sering bertemu?

__ADS_1


"Tante ga ngeh kalo kamu dokternya. Oh ya, ini kamu udah kenal, kan? Istri Adrian, Lula. Lula, ini Syena, temen Adrian waktu kuliah di New York dulu." ujar Ibu. Huh, teman? Ibu ga tau atau jaga perasaanku, sih?


Aku hanya mengangguk-angguk. Syena tersenyum dan memperhatikanku dari atas hingga bawah. Ingin rasanya aku keluar dari ruangan ini.


"Oh iya, Tante. Ada keluhan apa?" tanya Syena menatap kami bergantian.


"Ini.. ehm.. sepertinya Lula hamil." Aku terkejut mendengar pernyataan Ibu. Hamil? Namun sepertinya bukan hanya aku yang terkejut. Syena di hadapanku juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia sempat menatapku tidak suka sebelum akhirnya mengubah wajahnya menjadi ramah kembali.


"Oke. Boleh tahu jadwal terakhir menstruasi?" tanya Syena padaku.


"Ehm.. Sudah telat dua minggu." ujarku sambil mengingat-ingat.


"Oke. Kita USG, ya.." ujar Syena lagi.


Setelah di USG..


"Selamat, ya.. Kamu mengandung. Sepertinya usia kehamilannya sudah lima minggu." ujar Syena sambil menyerahkan hasil USG.


"Wah.. Terima kasih, Tuhan.." ujar Ibu sambil memelukku.


Aku masih tak bisa berkata-kata. Hamil? Aku kan.. Oh, tidak! Tidak! Tidak! Aku mengingat pil KB yang seharusnya kuminum setiap kali kami berhubungan. Aku dijambret beberapa minggu lalu. Tasku. Pil KB itu ada disana!


Aku dan Ibu keluar dari ruangan dokter setelah Syena memberiku resep vitamin. Aku hanya bisa tertunduk lesu.


"Akhirnya, La.. Ibu dan Bapak punya cucu. Orang tuamu juga. Pokoknya kamu harus makan yang sehat. Sekarang kita ke Adrian, yuk mumpung disini.."


Aku menggeleng.


"Kenapa?" ujar Ibu.


"Adrian kayanya ga suka diganggu deh, Bu. Oh ya, Bu. Kalau boleh, tolong jangan kasih tahu Adrian dulu, ya."


Ibu menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?"


Aku terdiam.


"La, kamu kenapa?" tanya Ibu lagi.


"Bu.. Aku takut."


"Takut apa?" Ibu membimbingku untuk duduk di salah satu bangku yang berjejer di depan ruangan dokter. Ia duduk di sebelahku.


"Sebelum menikah, kami punya perjanjian tidak tertulis kalau kami tidak akan memiliki anak."


"Apa?" Ibu tampak terkejut.


"Apa Adrian.." Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimatku. Apa Adrian mau menerima anak ini, Bu?


Ibu mengelus punggungku. "Itu kan dulu.. Waktu kalian masih muda. Sekarang, siapa sih yang ga seneng kalau istrinya hamil? Tenang aja, ya. Sekarang kita makan, terus Ibu anter kamu pulang. Nanti sore Adrian juga jemput kamu. Nanti waktu kalian ketemu, kamu pasti bisa bilang ke dia. Tenang ya, Lula. Kalian pasti bisa jadi orang tua yang baik." Ujar Ibu menenangkanku. Tapi sepertinya kekhawatiranku ini tidak semudah itu diredakan.

__ADS_1


__ADS_2