
Dua hari kemudian..
Sudah dua hari Lula tinggal di hotel. Hari ini, sepulang kerja, rencananya ia akan pergi melihat apartemen. Ia tidak bisa tinggal di hotel terus. Tapi sebelum itu, ia hendak mengembalikan mobil Mercedes nya ke rumah Adrian. Entah darimana datangnya keberanian yang ada pada diri Lula. Sebenarnya, ia mau saja memaafkan Adrian kalau ia meminta maaf. Tapi nyatanya, Adrian tidak mencoba menghubunginya sama sekali.
Sepulang kantor, Lula berpapasan dengan Nissa di parkiran.
"La!" panggil Nissa.
Lula menoleh. Nissa menghampiri Lula.
"La, are you okay? Lo keliatannya bad mood gitu."
Lula hanya tersenyum kecut.
"Udah dua hari gue ga pulang, Nis."
"Hah? Kok bisa?"
Lula menaikkan kedua bahunya.
"Terus lo tinggal dimana?"
"Hotel."
"Lo ga pulang ke nyokap lo?"
Lula menggeleng. "Yang ada gue disalah-salahin, Nis. Gue mau cari apart aja hari ini."
"Well, kebetulan tetangga gue di lantai yang berbeda nyewain tempatnya. Dia lagi kosong, kok. Lo mau liat?" tanya Nissa.
Lula mengangguk.
"Lo ga dijemput suami hari ini?"
Nissa menggeleng. "Dia lagi dinas keluar kota."
Lula hanya tersenyum kecut. Berbeda sekali kehidupan rumah tangganya dengan Nissa. Suaminya begitu perhatian, hingga aneh rasanya melihat Nissa tidak diantar jemput.
"Nis, boleh ga gue ngerepotin lo sekali lagi?"
"Apa?"
Lula pun menceritakan niatnya yang hendak mengembalikan mobil ke rumah Adrian. Nissa hanya menghela nafas. Ia bukannya membela Lula, tapi ia juga kesal pada Adrian kenapa tidak mencari istrinya itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Adrian dengan mobil terpisah. Setelah itu baru Lula menebeng mobil Nissa pergi melihat apartemen.
Ketika tiba di rumah Adrian, rumah itu sepi. Pasti masih kerja. Batin Lula. Ia menimbang-nimbang. Apa aku berlebihan? Tapi di satu sisi, ia tidak ingin menggunakan mobil pemberian Adrian. Ia memakirkan mobilnya di garasi. Ia membuka pintu utama dan meletakkan kunci mobilnya di tempat kunci. Ia tidak mengembalikan kunci rumah, untuk berjaga-jaga. Ia juga tidak berniat selamanya pergi dari rumah ini. Hanya sementara. Sampai Adrian mencarinya, setidaknya. Mungkin ini yang dibilang gengsi. Entahlah. Lula juga bingung mencari kata yang tepat.
__ADS_1
Lula masuk ke kamar. Ia mengambil beberapa barang yang ia butuhkan. Tak lama kemudian, ia keluar rumah dan masuk ke mobil Nissa. Mereka segera menuju gedung apartemen Nissa.
Setelah melihat-lihat, Lula pun merasa cocok. Ia menyewa sebuah apartemen full furnished dengan satu kamar. Ia menyewa untuk satu bulan dulu. Baginya, tidak apa-apa jika akhirnya nanti apartemen ini tak terpakai. Toh, biaya menginap di hotel selama tiga hari sudah hampir menyamai biaya sewa apartemennya selama sebulan.
Setelah selesai serah terima kunci dengan pemilik, Lula pamit pada Nissa. Ia hendak mengambil kopernya yang masih ada di hotel. Tadinya Nissa hendak mengantar Lula, tapi Lula menolak. Ia tidak ingin merepotkan Nissa.
Begitulah akhirnya. Kehidupan baru Lula tinggal di apartemen dimulai.
.
.
.
Malam harinya..
Nissa membantu Lula merapikan apartemennya. Sambil merapikan, Nissa terus menginterogasi Lula. Ia tidak ingin sahabatnya itu gegabah dalam mengambil keputusan.
Lula sedang bercerita kenapa awalnya ia bisa pergi meninggalkan rumah. Nissa hanya mengangguk-angguk simpati.
"La, sori ya.. Karena kita-kita, lo malah jadi kaya gini sama Adrian." Nissa mengeluarkan pakaian Lula dari koper dan meletakkannya di lemari.
Lula menggeleng.
"Engga, Nis. Gue kaya gini ya karena gue sama dia. Bukan karena siapa-siapa."
"Apanya yang gimana?"
"Dia ga hubungin lo gitu? Dia ga tau kekacauan yang udah dia sebabkan?"
"Hmm, Nis. Jawaban gue tetap sama. It takes two to tango. Gue ribut sama dia. Jadi emang kita berdua yang salah. Bukan orang lain."
.
.
.
Lima hari kemudian..
Lula sedang berada di kantor, meeting dengan bawahannya ketika ponselnya berbunyi.
Adrian.
Setelah seminggu, ia akhirnya mencari Lula. Tapi Lula malah mengacuhkan panggilan suaminya itu. Ia menyalakan mode getar pada ponselnya dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
__ADS_1
Di satu sisi Lula senang Adrian mencarinya. Namun Lula juga merasa sangsi. Ia tidak yakin Adrian yang mencarinya. Mungkin Ibu? Lula ingat terakhir kali Adrian menjemputnya adalah ketika Ibu dan Bapak hendak berkunjung ke rumah mereka. Adrian hanya mencarinya agar tidak ada yang tahu bahwa rumah tangga mereka sebenarnya berantakan.
Lula sibuk hari itu. Ia baru melihat ponsel lagi pukul lima sore, tepat ketika ia hendak pulang. Ada satu missed-call dari Adrian. Sepertinya jika Lula menelepon Adrian sekarang, ia hanya akan mendapat amukan. Lagipula sakit hati Lula belum sembuh benar. Setidaknya, sebelum Adrian minta maaf. Bagaimana mau minta maaf sedangkan mereka saja tidak pernah berbicara. Saat Lula dan Adrian masih tinggal bersama pun, Lula sering merasa diacuhkan.
Beberapa saat kemudian, Lula sedang berada di apartemennya saat ponselnya berdering. Ia menatap layar malas.
Adrian.
Ia memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering lagi.
Ibu.
Lula kaget dan mengangkat ponselnya pada dering ketiga.
"Ibu apa kabar?" tanya Lula. Ia kaget Ibu meneleponnya. Ia berfirasat mungkin Ibu sudah tahu.
"Kamu dimana?" tanya Ibu. Suaranya terdengar cemas. Hal itu membuat hati Lula terenyuh. Ibu mertuanya benar-benar berhati baik.
"Emm.. Aku.." Lula tak kuasa menahan air matanya. Ia menahan diri agar tangisannya tidak terdengar.
"Lula.." Ibu menghembuskan nafas panjang.
Lula diam.
"Ibu di rumah kalian. Apa kamu baik-baik aja?"
"Oh.. Adrian disitu?" tanya Lula. Ia takut kalau-kalau Adrian belum pulang dan Ibu sendirian disana.
"Iya."
Lula ragu. Haruskah ia kesana? Bertemu lagi dengan pria yang tidak peduli padanya?
"Oke aku kesana sekarang, Bu."
Bodoh. Batin Lula. Apa lagi yang mau aku lakuin disana.. Ah, setidaknya aku harus ketemu sama Ibu. Ibu udah baik sama aku selama ini. Dia butuh penjelasan.
"Kamu yakin? Adrian bisa jemput kamu.." ujar Ibu.
DEG
Ibu pasti lihat mobil aku di rumah Adrian. Ibu pasti tahu kita berantem. Pasti Adrian marah besar sama aku. Jangan, Bu! Ga perlu suruh dia jemput aku.. Yang ada dia malah punya kesempatan buat maki-maki aku.
"Ga usah repot, Bu. Aku bisa naik taksi. Sampai ketemu ya, Bu." ujar Lula. Ia mematikan telepon dan menarik nafas panjang, bersiap-siap untuk bertemu dengan pria sedingin es yang ia sebut suami itu.
Lula mematut dirinya di cermin. Ia mengenakan dress selutut warna biru tua dan heels dengan warna senada. Ia memesan taksi dari ponselnya dan bersiap turun ke lobi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, ia hanya melamun. Apa yang harus ia katakan pada Ibu?