Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Aku tidak bisa fokus bekerja hari itu. Aku hanya memikirkan Rissa. Apa ia memiliki pengacara untuk membelanya? Apa ia sudah makan? Tak terasa, waktu makan siangku sudah habis. Aku lupa. Aku benar-benar lupa makan hari ini. Sekarang ada rapat yang harus kuhadiri. Bila tidak, mungkin Pak Richard akan menegurku. Ia sudah begitu baik mengijinkanku bekerja sebagai freelance di perusahaan Nathan.


Selama rapat, pikiranku berkelana memikirkan Rissa. Akhirnya setelah jam pulang kantor, aku memutuskan untuk mengunjungi Rissa di kantor polisi. Untungnya tadi pagi saat para polisi datang, aku sempat bertanya dimana kantor polisi yang menjadi tempat penyelidikan Rissa.


Beberapa saat kemudian, aku tiba di kantor polisi. Aku meminta izin kepada beberapa polisi disana untuk bertemu Rissa. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Rissa menemuiku. Ia memakai setelan berwarna oranye khas tahanan. Ia tampak muram. Ketika melihatku, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Rissa.. Duduklah.." ujarku lembut. Beberapa penjaga mengawasi kami dari jauh.


"Kamu sudah makan?" tanyaku.


Ia tidak menjawab. Wajahnya terlihat lesu. Ia tidak berani menatapku.


"Ini.. Buat kamu.. Tadi saya sudah izin ke petugas disini dan saya dibolehkan membawa ini." Aku menyerahkan sebuah tas kain berisi makanan dan pakaian untuknya.


"Terima kasih." Matanya berkaca-kaca.


"Kamu mau menelepon keluarga?" tanyaku.


"Tadi.. sudah." ujarnya.


Aku menghela nafas. Betapa berat ujian yang sedang dihadapi Rissa dan keluarganya. Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Tapi sebenarnya aku belum benar-benar yakin. Rissa lah pelakunya?


"Kalau.. pengacara?" tanyaku lagi.


Rissa menggeleng.


"Aku akan menyuruh pengacaraku mendampingimu. Oke?" Sejujurnya untuk membayar biaya kehidupan sehari-hari saja aku sudah pas-pasan, tapi apa daya.. hatiku tergerak untuk membantu Rissa.


"Tapi sebelum itu.. Tolong.. Jujur sama saya.. Apa kamu yang melakukannya?" tanyaku lagi. Aku belum sepenuhnya yakin bahwa Rissa tidak bersalah. Setidaknya, ia harus meyakinkanku dengan ucapannya.


Ia menatapku takut-takut dan menggeleng pelan.


"Apa? Jadi.. Lalu siapa?" tanyaku.


Ia menggeleng lagi.


"Kenapa kamu tidak memberitahukan yang sebenarnya pada polisi?" tanyaku.


Ia menggeleng.


Sungguh aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pelaku penggelapan uang perusahaan? Aku berpikir keras. Data yang dimasukkan ke aplikasi keuangan perusahaan memakai inisial Rissa. Tapi, bukan Rissa yang melakukannya. Semua orang yang memiliki username dan password Rissa bisa saja berpura-pura sebagai Rissa. Tapi saat ini, Rissa tidak mau bicara apapun kepadaku.


Oke. Sepertinya aku harus ke kantor Nathan lagi untuk memastikannya.


.

__ADS_1


.


.


Tak lama kemudian, aku sudah berada di kantor Nathan. Di perjalanan menuju kesini tadi, aku berusaha menghubungi Nathan untuk membatalkan tuntutannya pada Rissa, tapi ponselnya sibuk. Wajar saja, ia seorang CEO. Selain itu, pasti ia masih syok karena tidak menyangka dikhianati oleh bawahannya seperti ini.


Semua sekuriti disini mengenalku, jadi tak butuh waktu lama untuk masuk ke ruangan divisi keuangan. Hampir semua lampu di gedung ini sudah dimatikan, jadi aku harus menyalakan manual.


Aku menyalakan komputer di meja Rissa. Aku harus memeriksa lagi transaksi mencurigakan yang membuatnya dihukum seperti ini.


Aku menemukan beberapa transaksi yang dimaksud. Ternyata benar, transaksi ini dilakukan oleh Rissa. Tapi, siapa yang bisa menggunakan akun Rissa? Hanya manager keuangan yaitu Bu Tasya yang sudah bekerja lama di perusahaan ini, dan..


"Apa yang kamu lakukan disini?" suara itu mengagetkanku.


Aku menoleh.


Alfian.


Aku baru saja hendak menjawab, tapi aku terpikir hal yang tak kuduga. Alfian. Hanya Bu Tasya atau Alfian yang bisa mengakses akun pegawai lain di divisi keuangan. Bu Tasya sudah bekerja lama di perusahaan ini sedangkan Alfian baru bekerja sejak aku resign. Apakah mungkin dia yang ...?


Aku gelagapan. Tapi aku berusaha menjelaskan niatku. "Alfian. Hai.. Maaf. Saya hanya ingin melihat lagi transaksi yang mencurigakan itu."


Ia tersenyum miring, seolah meremehkanku. "Untuk apa?"


"Tadi aku baru saja mengunjungi Rissa dan.."


Tiba-tiba ia tampak ingin tahu, ia mendekat ke arahku.


"Dan apa?" tanyanya.


"Well, aku rasa.. bukan dia yang melakukannya." ujarku.


Alfian memejamkan mata sejenak, kedua tangannya mengepal. Saat ia membuka matanya, ia tampak marah.


"Jadi.. Menurut kamu.. Siapa?" tanyanya dengan suara rendah.


Saat itu, aku tahu bahwa bukanlah hal bijak datang kesini sendirian.


"Alfian.." aku berusaha menenangkannya.


"Semua rencanaku sudah sangat sempurna. Aku hampir berhasil. Kenapa kau masih harus kesini mengacaukan semuanya?"


Aku bangkit berdiri. Ia berjalan maju mendekatiku. Sesungguhnya aku sama sekali tidak takut, tapi aku hanya tidak ingin ada pertengkaran.


"Kenapa kau menghindar? Semua orang di kantor ini tahu siapa yang kau tid*ri untuk meraih posisi tinggi di kantor!" matanya penuh kebencian.

__ADS_1


Aku menghela nafasku, masih berjalan mundur menghindari Alfian. Aku tidak mempedulikan lagi perkataannya. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana aku bisa lari. Aku terus berjalan mundur, sementara ia maju. Hingga.. Bukkk.. Tubuhku menabrak dinding kaca. Aku menoleh ke belakang dan memiringkan jalanku hingga tanpa kusadari, aku berada di balkon. Aku melihat ke bawah, lantai balkon yang terbuat dari kaca menyadarkanku bahwa aku sedang berada di lantai delapan belas gedung ini.



"Alfian.. Tolong, jangan lakukan ini." ujarku gelisah. Angin meniup rambutku sehingga indra pengelihatanku tertutup untuk sejenak dan saat itulah aku mendengar derap kakinya berlari mendekat. Ia mendorong tubuhku sehingga pinggangku menabrak railing balkon.


"Kau bisa saja.. Jatuh dari sini. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Hahaha.." Ia terlihat begitu menyeramkan. Aku memegang kedua sikunya, menahannya agar tidak mendorongku. Tapi yang kurasakan hanya pening di kepalaku.


"Aku mohon.."


Tiba-tiba kami mendengar suara seseorang datang.


Tap..


Tap..


Tap..


"Tolong!" teriakku.


"Beraninya kau.." Alfian berbisik di telingaku, tapi suaranya begitu tajam dan mengintimidasi.


Tap tap tap.. Tap tap tap.. Langkah kaki itu mendekat.


Nathan.


Dan di belakangnya ada Joe, anak buah Nathan sekaligus orang kepercayaannya. Tidak ada yang dapat menjelaskan keterkejutan di wajah mereka berdua.


"Kau.." Nathan menggeram. Ada sesuatu di wajahnya, seolah ia sedang kesakitan, padahal ia baik-baik saja di sisi Joe.


Alfian menarik rambutku hingga tubuhku semakin terjerembab ke belakang, punggungku sudah melengkung ke arah luar balkon.


"Jangan mendekat! Satu langkah lagi.. akan kujatuhkan perempuan ini!"


Aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi. Ketika aku membuka mata, langit hitam dan gelap tepat berada di atasku.


"Jangan! Apa yang kau mau? Uang? Kau bisa mendapatkan apapun asal jangan.. jangan lakukan itu. Aku bisa siapkan helikopter untukmu dan kau bisa pergi kemanapun yang kau mau. Negara tanpa ekstradisi."


Aku bisa mendengar keputusasaan dari suara Nathan.


"Hahaha.. Dengar itu? Dia sepertinya begitu menyukaimu." Alfian merogoh sesuatu dari kantongnya dan ia menempelkan benda tipis dan dingin ke leherku.


Semua begitu cepat, aku merasa tubuhku ditarik ke dua arah. Satu tarikan dari Alfian dan satu lagi dari seseorang lainnya. Tiba-tiba, bugh bugh bugh.. Joe sudah memberikan beberapa pukulan pada Alfian.


Aku merasakan pelukan dari seseorang sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.

__ADS_1


__ADS_2