Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Dinner dengan Nathan


__ADS_3

Nathan berjalan dengan percaya diri ke arah Lula. Ia masih memakai setelan jas kerja biru tua lengkap. Rambutnya yang gelap terlihat agak berantakan. Ia tersenyum ke arah Lula.


"Hai," sapa Nathan. Ia mengecup kedua pipi Lula. Lula tampak kaget.


Nathan duduk di hadapan Lula. "Sudah lama?"


Lula menggeleng.


Seorang pelayan mendekati mereka. "Selamat malam, Pak, Bu. Sudah siap memesan?" tanyanya.


"Ribeye steak, medium rare. Dan.. apa wine terbaik di restoran ini?" tanya Nathan.


"Saint-Émillion 2002?"


"Baik, itu saja. Lula, apa yang kamu mau pesan?" tanya Nathan sambil melemparkan pandangannya ke arah Lula.


"Tenderloin steak, medium rare. Itu saja."


Pelayan itu pun pamit pergi.


Lula menghela nafasnya. Nathan daritadi terus memperhatikan Lula. Lula menaikkan sebelah alisnya, seolah tidak mengerti apa yang Nathan lakukan.


Nathan tertawa kecil. "Jadi, kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Maksud Bapak?" tanya Lula.


"Emang kita lagi di kantor, ya?" tanya Nathan lagi.


Lula seperti teringat sesuatu. "Ah, maksudnya.. Maksud kamu apa?" ulangnya.


"Kamu lupa ya, kemarin kan kamu masuk rumah sakit. Ya kan?"


"Oh, iya sih.. Tapi gapapa kok.."


Nathan mengangguk-angguk. "Bagus deh.. Terus, kamu kenapa kesini? Staycation ceritanya?" Nathan terlihat.. ramah, hangat, terbuka. Semuanya yang berlawanan dengan Adrian. Lula terus berpikir kenapa Nathan bisa menghampirinya kesini. Ia lupa kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu berdua dengan laki-laki selain Adrian.


Lula mengangguk-angguk.


Pelayan datang membawakan wine. Ia menuangkan wine untuk mereka berdua.


"Terus? Kamu sendirian?" tanya Nathan lagi.


"I.. Iya." jawab Lula gugup.


"Suami kamu?"


"Emm.. dia di rumah. Sibuk bikin disertasi." jawab Lula.


Nathan tersenyum kecil. "Kamu dibiarin sendiri disini?"

__ADS_1


Lula memilih untuk tidak menjawab. Ia malah melempar pertanyaan pada Nathan. "Maaf, kalau boleh saya tahu.. kenapa bapak.. eh.. maksudnya.. kenapa kamu sampai.."


"Kenapa saya ngajak kamu dinner maksudnya?" tanya Nathan dengan senyum miringnya.


Lula mengangguk sambil menyesap wine.


"Karena.. Gimana ya.. Saya cuma kepikiran aja sih. Kemarin kan saya anter kamu pulang, terus hari ini kamu cuti. Ya, jadi saya takut aja kamu kenapa-napa. Dan ternyata kamu ada disini. Ya.. saya ajak makan."


Oh. Begitu rupanya. Ya lah bos kaya Nathan pasti perhatian ke semua jajaran direksi dan managerial yang lain.


Makanan pun datang. Kami tetap berbincang sambil makan.


"Terus, malem ini rencananya kamu balik pulang atau.."


Lula terbatuk-batuk mendengar pertanyaan itu. Ia teringat kata-kata Nissa di telepon barusan.


"Emm.. pulang.." ujar Lula ragu.


Nathan tertawa pelan. "Kamu gausah grogi gitu dong jawabnya. Hehe.. Saya cuma nanya kok. Kamu bawa mobil?"


"Iya.."


"Oke.."


"By the way, kalo kamu sendiri.. Tinggal dimana? Maaf ya kalo aku lancang. Tapi, kamu aja tau rumah aku." tanya Lula malu.


Nathan tersenyum mendengar pertanyaan Lula. "Aku tinggal di Jakarta Selatan."


"Jauh dari rumah kamu. Hehe.." ujar Nathan.


Tiba-tiba Lula menjadi salah tingkah. Bukan karena Nathan bersikap sangat manis padanya, namun karena ia sedang membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi dengan atasannya.


Lula mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Ia begitu terkejut melihat Adrian sedang berjalan ke arahnya. Nathan melihat ke arah yang sama, berusaha mencari apa yang sedang ditatap Lula begitu lama.


Adrian menatap Lula tajam. Ia berhenti di sebelah Lula, dan menarik tangannya. "Pulang." ujarnya tegas.


"Kamu kok bisa.." Lula tidak menyelesaikan kata-katanya.


Adrian makin menarik tangan Lula hingga istrinya itu ikut berdiri.


"Maaf, Pak. Saya duluan." kata Lula pada Nathan. Nathan masih beku, tak melepas pandangannya dari tangan Adrian yang menarik Lula.


Tarikan Adrian di pergelangan tangan Lula semakin kencang. Lula menahan diri tak mengaduh. Ia mengikuti suaminya itu. Mereka naik lift menuju basement.


"Aw, Adrian, sakit.." ujar Lula ketika mereka sudah keluar lift. Adrian melepas genggamannya.


"Tunggu!" teriak seseorang dari belakang mereka.


Nathan.

__ADS_1


Adrian membalikkan tubuhnya, menghadap Nathan yang setengah berlari menghampiri mereka.


Adrian tak bersuara. Ekspresi wajahnya tak terbaca.


"Tolong jangan salah sangka. Kami tidak.." Nathan menggelengkan kepala seolah ingin mengulang kalimatnya. "Jangan sakiti dia.." ujarnya lagi.


DEG.. Apa maksudnya? Batin Lula.


Nathan terlihat benar-benar.. tulus. Penuh emosi. Bukan marah, tapi lebih seperti orang yang pasrah karena tidak bisa melakukan sesuatu.


Adrian menarik kedua sudut bibirnya seperti sedang tersenyum meremehkan. "Apa yang membuatmu sampai berpikir aku akan menyakitinya?" Adrian kemudian membalikkan tubuhnya, kembali menarik Lula pergi.


Nathan menatap pasangan itu menjauh dengan nanar sebelum akhirnya ia sendiri kembali masuk ke lift.


Adrian mendorong Lula masuk ke kursi penumpang mobil Range Rovernya. Adrian duduk di sebelahnya.


"Mobil aku gimana?" tanya Lula. Ia benar-benar tidak tahu apakah suaminya ini sedang marah atau memang biasa saja. Sikapnya sehari-hari juga sama pendiamnya seperti ini.


"Nanti aku suruh anak buah Bapak ambil.." Lula tersadar sesuatu. Adrian mengetahui lokasinya. Pasti karena anak buah Pak Alexander, ayah Adrian. Pak Alexander adalah seorang pebisnis internasional. Ia memiliki banyak perusahaan terutama di bidang telekomunikasi. Pasti Adrian menyuruh orang untuk melacak ponsel Lula.


Adrian baru saja hendak menyalakan mesin mobil, ketika Lula menepuk dahinya sambil berkata, "Oh iya.. Aku lupa! Barang-barangku.. semuanya ketinggalan di kamar hotel." ujar Lula.


"Barang apa?"


Lula mengingat-ingat. Kayanya ga ada sih. Kan gue kabur cuma bawa tas ini doang ya isinya hp sama dompet. Baju juga cuma yang dipake.


"Ga ada kan?" tanya Adrian lagi sambil memacu mobilnya. Lula diam. Ia benar-benar tidak mood menghadapi suaminya yang suka berubah-ubah begini.


"Aku ga suka ya kamu narik-narik aku begitu di depan atasan aku.." ujar Lula.


"Apa?" Adrian tampak tenang, namun nada suaranya seperti hendak marah.


Lula memilih untuk diam lagi. Hening di sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian mereka pun tiba di kediaman mereka. Lula turun dari mobil dengan tergesa. Ia membuka pintu utama, hendak berlari ke kamar tamu dan ingin sendirian saja untuk malam ini. Tapi rupanya, ada dua orang yang datang di saat yang tidak tepat.


"Mama? Papa?" Lula terkejut.


Mama dan Papa bangkit berdiri. Mama melambaikan tangan. "Lula.. Kalian berdua darimana aja?" tanya Mama.


"Hah? Kita berdua? Maksudnya aku sama..?" Lula bingung.


Adrian memeluk pinggang Lula dari belakang. "Kita abis pergi jalan-jalan aja, Ma."


Apa maksud Adrian?


"Wah kalo gitu Mama sama Papa ganggu, ya?"


"Engga kok, Ma." Adrian tersenyum.


"Jadi tadi itu Mama telepon Adrian. Mama mau kesini sekalian lewat. Eh ga taunya tadi katanya kalian lagi di luar, tapi kata Adrian udah mau pulang. Yaudah Mama jadi kesini." tutur Mama.

__ADS_1


Apa? Jadi.. Adrian menjemputku karena Mama Papa mau datang? Bukan karena ia mengkhawatirkanku?


__ADS_2