Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Apakah Bisa Dua Orang yang Terluka.. Saling Menyembuhkan?


__ADS_3

Aku mendengar suara beberapa orang sedang berbicara. Tapi aku hanya bisa fokus pada rasa sakit di kepalaku. Sinar lampu berwarna putih menyilaukan mataku saat aku berusaha membuka mata. Aku berada di sebuah kamar di rumah sakit rupanya.


"Lula? Apa kamu merasa ada yang sakit?" Suara itu lagi. Suara yang akhir-akhir ini memenuhi hidupku.


Aku menggeleng.


"Leher kamu gimana?" tanya Nathan lagi.


Aku yang dibantunya duduk hanya bisa menatapnya bingung. Aku menyentuh leherku yang sedikit perih, dan sudah ada plester di leherku. Rupanya pisau yang dipegang Alfian mengenaiku tadi.


"Aku baik-baik saja, kok.." ujarku pelan, berusaha tidak membuat Nathan khawatir.


"Bayi di kandungan Ibu juga baik-baik saja. Ini hasil USG nya. Mungkin Ibu dehidrasi dan kelelahan jadi sempat tidak sadarkan diri tadi." ujar seorang dokter pria yang tersenyum ke arahku.


DEG


Bayi?


Otakku tidak dapat berpikir.


"Kami sudah memberikan cairan IV untuk Ibu, diharapkan agar Ibu bisa beristirahat dulu disini sampai keadaan Ibu pulih."


Aku hanya menatap kosong dokter itu.


"Berapa bulan?" tanyaku.


"Untuk pastinya, saya tidak tahu. Tapi saya akan dengan senang hati merujuk Ibu dan Bapak ke dokter kandungan."


Aku mengangkat tanganku, mengisyaratkannya agar tak perlu melakukan itu. Itu adalah hal terakhir yang dapat kupedulikan saat ini.


"Baik, Bu, Pak.. Kalau begitu, saya pamit." ujar dokter itu.


.


.


.


Menit-menit berikutnya, aku seperti mengalami mati rasa. Aku tidak lagi berpikir. Tidak dapat merasa. Yang kurasakan hanya satu, penyesalan. Aku kembali mengenang masa-masa pertemuanku dengan Adrian. Ia yang dingin bagaikan es, namun tak menghalangiku untuk berupaya meluluhkannya. Bahkan sejak masa berpacaran kami, ia sudah menjelaskan bahwa ia tidak ingin memiliki anak. Tapi aku teguh pada pendirianku. Dulu, aku begitu menginginkan pria itu. Aku mengingat kembali hari pernikahan kami yang indah. Aku mengenakan gaun putih, ia mengenakan jas hitam. Bunga lili putih dimana-mana. Semuanya sesuai keinginanku, karena ia terlalu sibuk atau tidak peduli pada hal itu.


Pernikahan kami bukannya tidak pernah diliputi kebahagiaan. Pernah, meskipun singkat. Kebanyakan hari-hariku terasa sepi dan sendiri.


Entah kenapa tak berselang lama, aku teringat pertengkaran kami yang menyebabkan aku kehilangan bayi yang begitu kusayangi.


Aku terkenang lagi kata-katanya yang menusuk.


"Bagian mana dari 'aku gak mau kamu hamil' yang kamu gak paham? Dari sebelum nikah, Lula! Dari sebelum nikah aku udah bilang sama kamu kalo AKU GAK MAU PUNYA ANAK TITIK!"

__ADS_1


"Mana pil KB kamu?!"


Ia tidak pernah membentakku. Tapi kali itu, ia membentakku.


Ternyata benar, kata-kata bisa lebih menyakitkan dari apapun.


Rasa sakit itu kembali menghinggapi hatiku. Sakit karena tidak pernah kukira kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.


Aku terluka karena ia pernah terluka.


Aku terluka karena ia belum sembuh dari lukanya.


Apakah bisa.. dua orang yang terluka.. saling menyembuhkan?


Aku bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan jika mendengar ucapan dokter tadi.


Tapi..


Sudahlah..


Siapa yang berusaha kubodohi?


.


.


.


.


.


.


NATHAN'S POV


Setelah mengalami peristiwa yang sangat menegangkan seperti tadi, aku pikir aku sudah tidak bisa dikejutkan oleh berita apapun lagi. Tapi.. bayi? Aku mengacak rambutku, kata-kata dokter tidak lagi ku hiraukan sampai ia pamit pergi.


Hatiku terluka ketika mengetahui mereka masih bersama bahkan setelah perceraian. Akankah mereka benar-benar berakhir sekarang? Setelah ada calon buah hati hadir di tengah-tengah mereka?


Aku berusaha membuyarkan pikiranku. Detik ini, yang kupikirkan hanya Lula dan kesehatannya. Aku menatap perempuan yang setahun belakangan ini menghiasi benakku. Ia tampak.. terpukul. Entah apa ini cara yang benar untuk mendeskripsikannya, tapi ia tidak tampak bahagia setelah mendengar kata-kata dokter tadi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku. Aku berharap ia tidak menyadari kepedihan dalam suaraku.


Ia mengangguk. Kedua mataku terpaku pada keindahan wajahnya. Aku berusaha membaca perasaannya, namun terlalu sulit saat aku sendiri berusaha menutupi perasaanku.


"Kamu yakin?"

__ADS_1


Ia tidak menjawab. "Aku harus pulang." ujarnya pelan. Ia berusaha turun dari ranjang, tapi kucegah.


"Kamu belum baikan.."


"Saya harus pulang." Suaranya berubah menjadi lebih tegas kali ini.


"Lula, tolong dengarkan saya dulu.. Kamu harus pulih.. Ada kehidupan lain yang harus kamu jaga."


Ia terdiam. Sesungguhnya aku menyesali ucapanku barusan. Aku rasa aku tidak berhak mengaturnya, terlebih dalam situasi seperti ini. Ia pasti masih syok mendengar berita ini.


Aku tidak sadar berapa lama kami terdiam dalam keheningan. Sampai akhirnya, ia bangkit dari tempat tidur.


"Terima kasih. Tapi.. Saya tidak apa-apa. Saya harus pulang. Saya tidak mau.. Ibu saya khawatir." ujarnya pelan.


Apa.. ia tidak akan membahas apa yang sedang terjadi?


Apa ia tidak akan menjelaskan padaku tentang apa yang akan ia lakukan?


Aku betul-betul ingin tahu.


"Oke. Saya antar."


Lula bersikeras membayar, tapi aku memaksa lebih keras lagi. Aku bahkan mengancam bahwa ia sebaiknya menjalani rawat inap jika ia bersikeras membayar. Aku sama sekali tidak keberatan membayar. Nominal berapapun, tidak berarti bagiku. Aku hanya.. merasa prihatin padanya. Ditambah lagi, ia adalah perempuan yang ada di hatiku. Meskipun aku tahu, dengan kehadiran anak di rahimnya, mungkin hal itu akan membuatku kalah pada akhirnya. Aku hanya berharap, bisa menjadi sesosok laki-laki bertanggung jawab di hidupnya. Laki-laki yang tidak akan pernah meninggalkannya.


Saat kami sedang berjalan menuju lantai dasar rumah sakit, tiba-tiba aku teringat mobilku. Shiiiittttt. Aku membawa Ferrari ku hari ini. Lula sedang mengandung. Tidak mungkin ia naik Ferrari yang begitu tidak stabil.


Aku sengaja membiarkan Lula berjalan duluan sambil aku menekan tombol di ponselku.


"Joe? Apakah mobilmu mobil untuk keluarga?" tanyaku.


"Ya. Ada apa, Tuan?" balas suara di seberang.


"Bisa bawa mobilmu ke rumah sakit sekarang?"


Ia bingung untuk sejenak, namun akhirnya mengiyakan. Aku pun mengakhiri panggilan.


Aku menyentuh kedua pundak Lula yang sedang berjalan di depanku.


"Sepertinya.. kita harus makan di dekat sini. Kamu mau makan apa?" tanyaku.


Ia hanya menggeleng.


"Kalau mau pulang, kamu harus makan." ujarku. Ia memilih untuk tidak berdebat denganku.


Aku menggandeng tangannya berjalan keluar rumah sakit. Untungnya di sebelah rumah sakit ini terdapat sebuah mall. Jadi kami hanya perlu berjalan sebentar saja menyusuri trotoar. Mungkin ia bingung kenapa kami tidak naik mobil, tapi aku tidak menjelaskan. Aku hanya menggenggam tangannya erat, membiarkannya berjalan di sisi yang aman dari kendaraan yang berlalu-lalang.


Aku berjanji dalam hati tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


__ADS_2