
Bunyi bising mesin cuci membuatku larut dalam lamunan. Adrian akan pergi ke Afrika. Selama itu. Aku tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba timbul di hatiku. Yang pasti ini bukan perasaan senang.
Aku tahu aku harus mendukungnya. Setidaknya, kami pernah begitu saling mencintai. Benarkah itu? Bukankah.. aku masih belum bisa melupakannya sampai sekarang? Siapa yang sedang kubodohi saat ini?
Jika itu membuatnya bahagia dan memberikannya tujuan hidup, maka ia harus pergi. Tapi kenapa.. rasanya begitu berat? Setelah kami berpisah, aku selalu merasa tenang. Aku tahu ia akan selalu berada disini, di rumah kenangan kami. Aku tahu ia masih berada di satu kota yang sama denganku. Begitu dekat denganku secara fisik. Kapanpun aku dapat menemuinya, meskipun egoku terlalu tinggi untuk melakukannya. Sekarang, berkat Ibu, kami bertemu kembali. Ini berat untukku. Menahan gejolak perasaan yang selalu hadir saat aku berada di dekatnya. Aku berusaha untuk tidak lari menghambur padanya, memeluknya. Apa ia tahu perasaanku padanya? Tidakkah terlihat jelas?
"Lula.." Suara bariton Adrian membawaku kembali ke bumi. Suaranya yang dalam, membuai siapapun yang mendengarnya. Aku begitu merindukan suara ini.
"Ya.. Kenapa?" Balasku. Aku berharap ia tidak bisa membaca isi hatiku.
"Kenapa melamun?" tanyanya. Ia menundukkan sedikit kepalanya agar bisa menatap mataku, berusaha mencari sesuatu disana. Aku membuang pandanganku ke sembarang arah.
"Tidak apa-apa.. Aku sedang cuci baju. Oh ya, kenapa kamu tidak mempekerjakan Tina lagi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Dia kerja di rumah Ibu. Oh ya, kamu ngga perlu lagi beres-beres rumah. Aku bisa sendiri kok. Lagipula.. mungkin aku akan berangkat minggu depan."
"Apa.. kamu sudah yakin?"
Ia mengangguk. "Aku bisa membantu banyak keluarga disana, La."
Baiklah. Kalau itu keputusanmu. Tapi kenapa rasanya sakit? Dan kenapa semakin sakit mengetahui bahwa.. kamu dengan mudahnya pergi meninggalkanku?
"Oh ya, Ibu dan Bapak juga akan pindah lagi ke New York bulan depan. Mungkin.. Tahun depan baru balik." jelas Adrian.
Aku berusaha mengatur nafasku, mencegah air mata keluar.
"Bisa aku minta satu hal ke kamu?" ujarku cepat, mengatakan apapun yang ada di kepalaku agar aku tidak menangis.
"Apa?"
__ADS_1
"Stop kirimin aku uang. Aku kerja, kok. Aku transfer balik ke kamu, ya?" Dengan cepat aku mengeluarkan ponselku dari kantong celana kerjaku. Aku menyandarkan tubuh di mesin cuci yang sedang menyala. Tiba-tiba saja Adrian mendekat dan menyentuh tanganku, mencegah apapun yang sedang kulakukan.
"Jangan."
Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku. Jari-jarinya di punggung tanganku. Wajah kami terasa begitu dekat. Hal itu membuatku mengingat setiap sentuhan yang pernah ia berikan ketika kami masih menjadi sepasang suami istri. Tubuhku meremang.
Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Raut wajahnya tak terbaca. Aku tadinya berpikir ia akan terlihat senang atau setidaknya biasa-biasa saja, tapi aku salah. Ia terlihat sedih sekarang, entah karena apa. Aku ingin tahu apa alasannya, tapi aku tidak berani bertanya.
"Pakai saja. Aku ingin.. tetap membiayai kamu sampai suatu hari nanti kamu menemukan pria yang tepat, yang bisa bertanggung jawab atas dirimu."
Hanya dengan mendengar kata-kata itulah, air mataku jatuh. Betapa aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku menyesal, telah menyerah padanya. Aku menyesal, telah menuntut banyak waktu darinya. Aku menyesal, belum menjadi istri yang baik untuknya.
Tangan Adrian menggantung di udara, tepat di sebelah pipiku. Sepertinya ia takut menyentuhku. Mungkin ia berpikir bahwa aku tidak akan menyukainya. Mungkin ia berpikir bahwa aku membencinya. Aku ingin berteriak dan bilang bahwa aku akan menyukai setiap hal yang ia lakukan, asal ia jangan pergi meninggalkanku. Ia bisa bekerja selama yang ia mau, asal jangan pergi meninggalkanku.
Aku tak menyadari bahwa tangisanku makin kencang. Hal itu membuatnya meraih tubuhku dan memelukku. Ia mengusap-usap rambutku.
Yang tak pernah kuduga adalah pertanyaannya. "Kenapa?" Ia tampak terkejut melihatku menangis.
"It breaks my heart to see you cry.." *Hatiku hancur melihatmu menangis
Aku mendorong tubuhnya mundur. Aku menatap matanya, meskipun semuanya buram karena air mata.
"Menurut kamu.. kenapa aku seperti ini?" Aku mengusap air mataku.
Ia tampak berpikir sebentar. "Aku tidak ingin terlalu percaya diri." ujarnya.
Aku mendengus kesal, mendorongnya agar ia semakin jauh dariku. Jadi, ia tahu kenapa. Tapi ia tidak mau mengatakannya. Ia tahu bahwa aku sedih karena ia akan pergi meninggalkanku.
"Oke, oke.." Adrian menarik tanganku yang hendak keluar dari ruang cuci. Ia memeluk tubuhku dari belakang. "Mungkinkah.. kamu.. sedih karena kepergianku?" tanyanya hati-hati.
__ADS_1
Aku tidak hanya sedih, tapi juga tidak ingin kamu pergi.
Tapi aku tidak menjawab. Aku berusaha menikmati saat-saat ini. Kedua tangan kokohnya di perutku.
"Benarkah itu?" bisiknya. Anehnya, suaranya terdengar sedih.
Aku yang sudah tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa mengangguk.
.
.
.
ADRIAN'S POV
Tahukah kamu.. dari berbagai hari dan tanggal.. Aku paling menunggu tanggal satu. Kenapa? Aku bisa mengirim kewajibanku padamu. Dan aku berharap.. kamu akan menghubungiku untuk marah padaku karena telah melakukannya. Tapi itu tidak pernah terjadi. Tapi aku tetap ingin.. kamu hidup berkecukupan. Bahagia. Walau tanpa aku.
Rasanya seperti mimpi saat pada detik ini, kamu berada di pelukanku.
Apakah kamu akan memohon padaku untuk tinggal?
Apakah kamu tahu bahwa ini semua hanya upayaku saja agar bisa melupakanmu?
Apakah kamu tahu.. tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilanganmu?
Jadi, aku akan bersikap egois sekarang. Aku akan menggunakan setiap kesempatan yang aku punya, untuk meluapkan rasa rinduku.
Aku menutup mata dan menghirup wangi tubuhmu dalam-dalam. Wangi yang tidak ada satu orang lain pun yang memilikinya.
__ADS_1
Aku hanya berharap, dengan kepergianku, tidak akan ada lagi air matamu yang jatuh karenaku.