Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Aku Menunggumu dan..


__ADS_3

LULA'S POV


Aku tidak tahu ternyata aku bisa takut kehilangan seseorang, melebihi ketakutanku kehilangan Mama. Ia yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Ia pernah punya segalanya. Suami dan anak yang menyayanginya selama puluhan tahun, dan juga harta yang berkecukupan. Semua itu tiba-tiba saja direnggut darinya saat Papa meninggal, saat kami diusir dari rumah, dan seolah itu saja belum cukup, aku harus mengandung tanpa ada ikatan pernikahan.


Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan memberikan Mama umur yang panjang sehingga aku bisa menebus kesalahanku padanya. Aku akan berusaha membahagiakannya, meskipun sulit.


.


.


.


Dokter Jonathan yang tiba-tiba keluar dari ruang operasi membuyarkan lamunanku. Sudah hampir enam jam sejak operasi Mama dilakukan.


"Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?" tanyaku. Nathan juga ikut berdiri di sebelahku.


"Operasinya dapat dikatakan berhasil. Semua ini berkat dokter ahli yang bersedia datang dan mengoperasi Ibu Luna." ujar Dokter Jonathan.


"Dokter ahli? Saya bersedia bertemu dan memberikan imbalan sepantasnya, Dok." ujar Nathan cepat.


"Tapi saya rasa beliau tidak akan mau menerima apapun." Dokter Jonathan menolak secara halus.


"Apa.. Mama saya baik-baik saja sekarang?"


"Beliau akan siuman sebentar lagi. Jika Bapak dan Ibu ingin masuk ke ruangan, saya persilahkan."


.


.


.


Beberapa jam kemudian..


Aku sedang berada di ruangan Mama bersama Tante Ine, sepupu jauh Mama yang tinggal di luar kota. Tante Ine baru datang menjenguk beberapa saat yang lalu.


Mama masih belum sadarkan diri. Sedangkan Nathan sedang keluar, mungkin mengurus pekerjaannya. Ia sudah banyak membantuku dan Mama di tengah kesibukannya. Aku selalu mendorongnya untuk melakukan pekerjaannya saja, meskipun begitu, seringkali ia sangat bersikeras.


"Sabar, ya, Lula. Mama kamu pasti bisa sembuh." ujar Tante Ine.


"Ya, Tante. Terima kasih." jawabku.


Tante Ine beberapa kali menatap ke arah perutku yang sudah sangat besar, tapi ia tidak bertanya. Mungkin, ia mengira bahwa aku cerai ketika sudah hamil. Atau.. mungkin juga ia sudah berpikiran hal yang buruk tentangku. Tapi aku hanya bisa bersyukur dalam hati, ia tidak menanyakan hal itu.


Tanganku yang sedang memegang tangan Mama, merasakan sedikit pergerakan.


"Mama?" panggilku pelan.


"Luna?" Tante Ine ikut memajukan tubuhnya mendekati Mama.


Kedua kelopak mata Mama bergerak pelan.


"Ma, Mama baru dioperasi. Sekarang, kemungkinan penyakit Mama untuk kambuh sudah sangat kecil. Mama istirahat dulu, ya.. Jangan bangun dulu." aku menggenggam tangan Mama.


Mama menepis tanganku pelan sekali. Terlalu pelan, sehingga aku tidak sadar bahwa Mama memang berniat menepis tanganku.


"Kak Ine?" Mama menyapa pelan Tante Ine.


"Ya, Luna? Saya baru tiba. Maaf baru sempat menjenguk.." ujar Tante Ine.


"Bisa.. tinggalkan.. kami berdua sebentar?" ujar Mama pelan sekali, ia mengatur nafas berkali-kali untuk mengucapkan satu kalimat sederhana.


Tante Ine pun pamit dan meninggalkan kami berdua.


"Tinggalkan.. Mama.." ujar Mama.


Awalnya aku masih tidak menangkap apa maksud Mama. Suaranya masih begitu lemah.


Aku tidak ingin Mama berupaya begitu keras hanya untuk berbicara. Mama sedang berada dalam masa pemulihan.

__ADS_1


"Ma, sebaiknya.. Mama istirahat dulu saja. Nanti, Mama bisa bicara setelah kondisi Mama.."


Mama menatapku tajam, dengan sisa-sisa kekuatannya ia berkata. "Mama.. tidak akan.. menerima anak.. itu."


Detik itu juga, kenyataan menghempaskanku. Rupanya bukan sentuhan, melainkan tangan Mama menepisku tadi. Kenyataannya, ia masih membenciku, membenci bayi yang ada di kandunganku.


"Jangan.. kemari lagi." ujar Mama sangat pelan.


Air mata turun ke pipiku tanpa bisa kucegah. Aku melihat ke bawah, ke arah perutku. Aku menyadari kesalahanku. Orang tua manapun akan sulit menerima aib seperti ini.


Mengapa, nak? Semua sungguh berat.


Pintu dibuka perlahan. Aku tidak peduli siapa yang datang. Aku hanya bangkit berdiri, dan membalikkan tubuhku. Aku melangkahkan kaki menuju pintu. Apapun permintaan Mama, akan ku kabulkan.


"Lula?"


Nathan memegang kedua bahuku. Ia memang pria yang peka. Meskipun aku berusaha menyembunyikannya, ia selalu tahu.


"Ada apa?" Ia menatapku, lalu Mama.


Aku menggeleng.


"Tante.." Nathan duduk di sebelah Mama.


Aku yakin Nathan tahu apa yang menjadi sumber kesedihanku, dan sumber kekecewaan Mama.


"Saya harap, Tante bisa fokus memulihkan diri. Soal Lula, saya akan selalu menjaga dia. Saya akan bertanggung jawab atas anak yang ia kandung. Saya harap.. Tante bisa menerima dan memaafkan Lula. Ia sudah berjuang selama ini.."


"Cukup." ucap Mama.


"Tante, Lula tidak punya siapa-siapa lagi selain Tante.." Nathan berusaha membelaku, tapi bunyi mesin di sebelah Mama berbunyi dan Mama tampak sulit bernafas.


Aku menangis sejadi-jadinya. Nathan memeluk dan menarikku keluar ketika Dokter Jonathan masuk dan mulai memberikan penanganan.


.


.


.


"Lho, tadi.. Luna tampak baik-baik saja, bisa bicara.. Sekarang.. ada apa, Lula?" tanya Tante Ine.


"Lula dan Mamanya sedang ada masalah, Tante. Doakan saja yang terbaik." ujar Nathan ketika ia tahu bahwa aku tidak mampu menjawab.


Beberapa saat kemudian..


"Kondisi Ibu Luna belum stabil benar. Jadi, saya harap.. keluarga dapat membantunya agar tidak stres, karena hal itu bisa menjadi alasan kambuhnya penyakit beliau." Dokter Jonathan menjelaskan ketika kami sudah berada di ruang tunggu.


Aku hanya bisa mengangguk.


Dalam hati, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyesali kebodohanku. Semua ini terjadi karenaku. Mama masuk rumah sakit karena aku.


"Lula, it's okay.." Nathan menenangkanku.


Aku menggeleng.


"This is not okay, at all. Aku hanya bisa membuatnya kecewa."


Tiba-tiba aku merasakan sakit yang teramat sangat.


"Akh.."


Aku memegang lengan Nathan, menumpukan beban tubuhku padanya. Aku tidak pernah.. merasakan sakit fisik lebih hebat dari ini.


"Lula.." Nathan terkesiap. "Kamu.." Ia menatap kakiku yang tak diselimuti apapun.


Darah.


"Suster! Tolong!" Teriak Nathan.

__ADS_1


Beberapa perawat mendekati kami.


"Tolong.. istri saya!" Nathan refleks berteriak seperti itu. Aku tidak peduli lagi. Yang kurasakan hanya sakit.


Wajah kedua perawat itu tampak cemas. "Sebaiknya Ibu segera dibawa ke departemen ginekologi. Sebentar akan saya carikan brankar.."


Dengan sekali hentakan, Nathan menggendongku a la bridal style.


"Saya akan membawanya. Tolong pimpin jalan tercepat!" Nathan terdengar panik.


Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya merasa kesakitan. Sesekali, aku mengerang.


"Sabar, ya.. Sebentar lagi kita tiba."


Nathan terus membopongku menyusuri rumah sakit yang besar ini. Ia mengikuti seorang perawat yang berjalan cepat di depan kami. Aku berusaha melupakan rasa sakitku dengan menatap wajah Nathan dari dekat. Pria ini. Pria dengan hati sebaik malaikat. Aku bahkan belum meminta maaf padanya atas perlakuan Mamaku.


.


.


.


Sesampainya kami di departemen ginekologi, seorang perawat menunjukkan kami sebuah ruang periksa yang kosong.


Nathan, dengan lembut membaringkanku di sebuah brankar di dalam ruangan itu.


Seorang dokter masuk dan memeriksaku.


"Akh.." pekikku ketika rasa sakit itu datang lagi.


"Pak, Bu.. Menurut pemeriksaan, Ibu mengalami pendarahan hebat yang disebabkan karena stress dan tekanan darah tinggi.. Hal ini mempengaruhi kondisi bayi yang ada di kandungan Ibu. Menurut pandangan saya, sebaiknya dilakukan operasi caesar secepatnya. Jika tidak, mungkin nyawa Ibu dan bayi Ibu akan terancam."


Aku sudah benar-benar lemah. Kata-kata dokter sudah hampir tidak terdengar lagi.


"Sepertinya istri anda sudah benar-benar kehilangan banyak darah.. Sebaiknya kita lakukan operasi sekarang."


.


.


.


Beberapa menit kemudian..


Sepertinya aku sempat kehilangan kesadaran. Begitu aku sadar, aku sedang berada di brankar, di dorong oleh seorang perawat dan seorang dokter.


"Lula.. Kamu akan melahirkan sekarang.." Nathan menggenggam tanganku.


"Lula.. Aku tahu, ini bukan saat yang tepat. Tapi.. Adakah seseorang.. yang harus berada di sisimu? Di saat kamu melahirkan?"


Aku menatapnya bingung.


"Siapapun.. Anggap saja, aku bisa mendatangkan orang dari negeri terjauh sekalipun. Adakah?"


Mungkin ini efek penahan rasa sakit, tapi aku memikirkan ayah dari bayiku.


Apa yang dimaksud Nathan adalah dia?


Aku menggeleng.


"Baiklah.."


"Kamu akan baik-baik saja.. Kamu kuat.. Aku menunggumu dan bayimu disini."


"Kamu.. tidak perlu menungguku.. Pasti ada banyak hal.." ujarku pelan.


"Aku akan ada disini." ujarnya sambil tersenyum.


Perawat dan dokter itu membuka ruang operasi dan mendorongku masuk.

__ADS_1


Entah mengapa, hari itu.. aku yang harusnya takut, merasa aman. Mungkin karena aku tahu, ada seseorang yang menungguku di balik pintu itu.


__ADS_2