Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
You're Too Good, Baby


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju apartemenku, Ibu dan aku berkompromi. Ia boleh bilang pada Bapak dan kedua orang tuaku bahwa aku sedang mengandung, tapi untuk urusan Adrian, biarlah itu menjadi tanggung jawabku.


Mamaku menelepon sore itu, setelah Ibu pergi. Tentu saja ia telah mendengar kabar itu. Ia dan Papa terdengar ceria sekali. Besok mereka berencana datang ke rumahku. Aku berpikir bahwa besok aku harus ke rumah Adrian. Apapun yang terjadi. Meskipun aku datang hanya untuk makan malam dengan orang tuaku. Orang tuaku tidak boleh tahu kami bertengkar. Bukannya aku yang tidak mau mereka tahu, tapi Adrian.


Aku berendam di bath tub. Aku menyentuh perutku yang masih rata. Halo, anak Mommy.. Kalau kamu sudah lahir nanti, Mommy janji akan menemanimu setiap waktu. Kamu beruntung bisa memiliki Mommy dan Daddy yang pasti menyayangimu. Dadaku tercekat. Apa aku sedang bercanda? Aku saja enggan bilang pada Adrian kalau aku hamil. Dan siapa yang menemani siapa? Aku yang akan ditemani oleh malaikat kecil ini, bukan sebaliknya. Hidupku yang tadinya hampa dan sepi aku harap dapat sedikit berwarna dengan kehadiran malaikat kecilku. Aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkan bayiku. Aku akan selalu ada untuknya. Kami tidak akan pernah kesepian lagi.


Selesai mandi, aku meminum vitamin yang diberikan Syena tadi. Tak lama aku merebahkan diriku di atas kasur. Sepertinya ancaman Ibu tidak membuat Adrian takut. Sudah jam sembilan malam, ia belum datang juga. Bukannya aku ingin dijemput, tapi untuk apa aku berada di rumah itu jika tidak diinginkan? Aku sudah semakin mengantuk. Aku pejamkan mata dan tak lama kemudian aku terlelap.


.


.


.


Sesuatu membangunkanku. Sebuah suara. Tok tok tok.. Aku terbangun. Suara itu berasal dari pintu utama apartemenku. Aku berjalan pelan keluar kamar dan akhirnya membuka pintu.


Adrian.


Aku salah tingkah melihatnya. Masalahnya aku baru sadar kalau aku hanya memakai lingerie tali spaghetti berwarna nude.


"Masuk.." ajakku sambil melihat ke arahnya sekilas.


"Kamu sudah tau aku mau datang?" tanyanya. Ia melepas jas abu-abu yang ia pakai, membawanya di lengannya.


Aku mengulurkan tangan, meminta jasnya. Ia memberikannya. Aku menyampirkan jasnya di sofa. Ia duduk di sofa yang sama, sedangkan aku berdiri di sebelahnya.


"Iya, tadi Ibu bilang." jawabku.


Adrian tak berhenti menatapku.


"Mau minum? Makan?" tanyaku.


"No. Aku udah makan malam tadi."


Tumben. Batinku.


"Minum aja ya.." ujarku. Aku hendak berbalik menuju dapur, tapi tangannya menarik pergelangan tanganku.


"Sini.." Ia menarikku pelan. Aku menurut dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Maaf," ujarnya pelan. Ia memejamkan mata dan mendongak menghadap langit-langit, menyandarkan lehernya di atas sandaran sofa.


Aku ikut menyandarkan kepalaku di sofa, menghela nafas.


"Aku juga minta maaf.." ujarku.


Ia membuka mata dan memiringkan tubuhnya, menghadapku.


"Aku ga suka kamu tinggal disini." ujarnya tiba-tiba.


"Hah?"


"Iya, aku ga suka kamu tinggal disini."


Apa? Jadi.. Sudah selesai maaf-maafannya? Ia pikir ia sudah dimaafkan, begitu? Ia pikir kami sudah berbaikan?


"Kenapa?" tanyaku.


"Ehmm.. Ya aku ga suka aja. Aku juga ga suka kamu naik taksi kemana-mana." ujarnya lagi.


"Ga suka aja? Alasan macam apa itu?" ujarku.


Ditanya malah balik nanya. Benar-benar membingungkan bicara sama Adrian. Mungkin karena ia tak pandai mengungkapkan isi hatinya.


"Lupain aja deh.." ujarku.


Ia tampak mencari kata-kata yang tepat.


"Jadi.. Kamu kesini karena disuruh Ibu?" tanyaku tak sabaran.


Ia menggeleng.


"Jelas-jelas Ibu tadi telepon kamu di depan aku."


"Engga. Aku kesini bukan karena Ibu. Aku emang udah mau kesini sejak kamu ke rumah. Tapi.."


"Tapi apa?" Aku ikut-ikutan memiringkan badan, menghadap ke arahnya.


Adrian mendekat. Satu tangannya menangkup wajahku. Oh Tuhan.. Apa ia akan benar-benar melakukan ini? Apa setiap pertengkaran kami harus berakhir seperti ini? Pada akhirnya masalah kami hanya menumpuk dan menumpuk, tak pernah dibicarakan.

__ADS_1


"Tunggu." Aku menyentuh bahunya. "Kita belum bicara sama sekali mengenai pertengkaran kita."


"Nanti. Setelah ini." ujar Adrian lembut. Aku tak kuasa mengikuti logika. Toh aku juga butuh berbaikan dengannya, menunggu hingga mood-nya bagus, kemudian aku bisa bilang padanya tentang kehamilanku.


Jarak di antara kami makin terkikis dan akhirnya kami berciuman. Kini kedua bibir kami bertemu, kedua tangannya menangkup wajahku. Ia ******* bibirku lembut. Lidahnya mendorong, memaksa masuk. Aku yang sudah lama tidak melakukan ini menjadi terpancing. Aku membuka mulut, membiarkan ia menjelajahi mulutku.


"Pulang." ujarnya tiba-tiba di tengan ciuman kami. Nafasnya yang hangat menerpa wajahku. Kening kami bersentuhan.


Apa katanya? Pulang? Jadi.. menurutnya kami sudah berbaikan? Apakah ia sengaja menunggu hingga saat kami sedang panas baru kemudian ia dapat menyuruhku pulang? Ah.. Kurasa tidak. Ia hanya sulit mengungkapkan isi hatinya, dan kurasa.. **** membantunya untuk dapat lebih terbuka padaku. Entahlah.


Meskipun pikiranku berkecamuk, aku hanya bisa mengangguk. Ia tersenyum dan lanjut menciumku. Ia bangkit berdiri dan menarik lingerie ku dari paha dan menariknya ke atas. Aku mengangkat kedua tangan dan ia pun berhasil melepaskan pakaian itu melewati kepalaku. Kami lanjut berciuman. Aku membuka kancing kemejanya sambil ia menurunkan celananya. Begitu bibir kami berhenti bertaut, ia sudah te**njang. Ia melepaskan pengait bra ku dan aku melepas ce**na da**mku.


Ia memelukku, merengkuh wajahku dan menciumku lagi. Aku membalas ciumannya. Aku menyentuh kejan***annya dan ia mendesah. Ia membimbingku untuk duduk di sofa bersamanya. Well, ia duduk di sofa. Sedangkan ia menarik tanganku, membantuku agar bisa duduk diatas kedua pahanya, menghadapnya. Aku memegang miliknya, mengarahkannya ke milikku sambil berjongkok di atasnya. Dan.. Aaahh.. Kami berdua mendesah. Aku merasa kesulitan memasukkan miliknya yang besar itu ke milikku yang sempit.


"You're too good, baby.." desahnya.


Ia memegang pinggangku dengan kedua tangannya dan mendorong tubuhku ke bawah, memaksaku menerimanya.


Aaahhh.. Kami mendesah lagi begitu miliknya sudah tertanam sempurna.


"Rock me." (Guncang aku) ujarnya dengan suara berat. Ia masih memegang pinggangku.


Aku mulai menaikkan tubuhku atas bawah atas bawah. Oh Tuhan.. Rasanya.. penuh. Aku ingin menangis, bukan karena sakit. Sebaliknya.


Ia memainkan kedua gundukanku dengan satu tangannya sementara tangan yang lain memegang b*k*ngku.


"F*ck.. Yeah, baby.." ujarnya. Biasanya ia tidak sevokal ini, hal itu membuatku makin semangat menarikan tubuhku diatasnya.


"Ah.. Aku mau.." pekikku.


"Do it." perintahnya.


Aku mengejang. Ia bisa merasakan milikku yang meremas miliknya dan ahh.. aku keluar. Ia memelukku lalu menggendongku dari depan tanpa melepas tubuh kami. Ia membawaku ke kamar.


Di kamar, ia merebahkanku di ranjang. Ia baru saja akan menggenj**ku ketika aku teringat soal kandunganku.


"Pelan-pelan, please.." ujarku.


Ia mengernyit namun segera tersenyum dan mengangguk cepat sembari menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Kemudian ia menghujamiku perlahan, lalu makin cepat, hingga kami terbang ke nirwana.

__ADS_1


__ADS_2