
Sudah dua bulan berlalu sejak pemeriksaanku di rumah sakit. Kandunganku sudah menginjak bulan keempat. Aku tidak tahu pasti. Aku belum pernah mengecek kandungan. Aku hanya menghitung sendiri dari pertemuan terakhir ku dengan Adrian. Aku berusaha untuk tidak memikirkan bayi ini. Aku takut. Takut pada reaksi Mama. Takut pada kenyataan bahwa aku harus melahirkan dan membesarkan bayi ini sendirian.
Aku belum menyadari perubahan pada tubuhku hingga hari ini aku bercermin. Aku tercekat begitu melihat perutku yang tadinya rata sekarang agak sedikit cembung keluar. Aku bergidik membayangkan reaksi orang sekitarku. Untungnya, tidak ada satu pun pegawai kantor yang mengetahui statusku yang sudah bercerai. Mungkin mereka akan berpikir bahwa aku masih memiliki suami. Aku memang tidak dekat pada siapapun. Aku hampir tidak memiliki teman selain teman-teman kantorku yang dulu. Hidupku sekarang hanya untuk bekerja dan bekerja. Hal itu dapat membantuku melupakan masalahku.
Aku juga menghindari Nathan. Aku tidak mengangkat teleponnya. Aku beranggapan bahwa urusan kami sudah selesai. Alfian sudah dipenjara dan Rissa sudah dibebaskan. Aku tidak lagi bekerja di kantornya.
Setelah berpakaian, seperti biasa aku memakai parfum kesukaanku. La Vie Est Belle dari Lancome. Wangi vanila yang berpadu dengan pir, anggur, melati, dan nilam. Tiba-tiba aku merasa mual. Ini sungguh aneh. Aku sudah memakai parfum ini sejak lama, tapi sekarang ini sangat membuatku pusing. Aku mencium beberapa parfum lainnya yang kupunya. Reaksiku sama. Semua wangi-wangian itu membuatku mual. Aku memutuskan untuk mandi lagi dan tidak memakai parfum apapun.
Begitu aku turun ke bawah, aku mencium aroma masakan Mama. Sekarang, karena kondisi perekonomian yang pas-pasan, kami tidak lagi memiliki ART. Kadang aku merasa kasihan pada Mama, di usianya yang sudah tak lagi muda, tidak seharusnya ia bekerja sekeras ini.
"Lula.. Makan, yuk.." ujarnya sambil tersenyum.
Aku melirik masakan Mama di meja makan. Anehnya, hal itu membuatku semakin mual. Aku membuang muka dan segera berlari mengambil tasku.
"Maaf, Ma. Aku sudah terlambat.. Nanti aku makan di kantor aja."
"Loh? Tumben.."
Aku mengecup pipi Mama dan segera pergi, tidak menghiraukan panggilan Mama. Aku benar-benar takut ketahuan bahwa aku sedang berbadan dua. Aku tahu ini salah, tapi aku belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Mama. Aku juga mengkhawatirkan kesehatannya.
.
.
.
Siang itu, aku sedang mengerjakan laporan di komputer kantor saat perutku mengirimkan sinyal tanda lapar. Aku sedikit bingung mengenai apa yang harus kumakan. Sepertinya aku masih akan mual jika melihat makanan yang tidak disukai bayi ini.
Tok tok tok..
"Masuk.." ujarku pelan. Ketika aku melihat siapa yang datang, aku menyesal telah menyuruhnya masuk.
Nathan tampak tampan seperti biasa. Ia membawa sebuah paper bag. Tanpa disuruh, ia duduk di kursi yang berhadapan denganku.
"Kamu belum makan, kan?" tanyanya.
Darimana ia bisa tahu?
__ADS_1
"Kenapa kamu kesini?" tanyaku tak acuh. Aku tetap fokus pada komputerku. Bukannya aku tidak menghargainya, aku hanya tidak ingin memanfaatkan kebaikannya.
"Karena kamu mengacuhkanku. Kenapa tidak pernah membalas pesanku? Atau mengangkat teleponku?"
Aku bingung harus menjawab apa.
"Makan dulu. Sudah waktunya istirahat makan siang."
Tiba-tiba ponsel Nathan berdering. Ia tidak menghiraukannya, tapi ponselnya tetap berbunyi. Dengan kesal ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam kantong jasnya tanpa melihat ID penelepon, lalu kemudian mengangkat.
"Halo?" Ia menghela nafas.
"Oh, Mr. Sullivan? Well, I'm in the middle of something very important here. Could you please call me later?" lalu ia menutup telepon.
*Oh, Mr. Sullivan? Saya sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Bisakah anda menghubungi saya lagi nanti?
Aku menatapnya tidak percaya. Tuan Sullivan adalah klien terbesarnya. Aku tahu karena dulu aku pernah bekerja di perusahaan Nathan.
"Nathan? Kamu.." aku kehilangan kata-kata.
"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu makan." tegasnya.
Nathan menyentuh kedua tanganku, menghentikan racauanku. Kedua matanya yang lembut menatapku dalam.
"Apakah kamu begitu naif?" Ia tidak melepaskan tanganku. "Membuang-buang waktu? Sama sekali saya tidak merasa begitu. Haruskah saya tunjukkan ke seluruh dunia bahwa.. saya menyukaimu?"
Seolah aku larut dalam hitam di netranya.
Genggamannya lah yang membawaku kembali ke bumi.
Aku tidak pernah menyangka bahwa ia masih memiliki perasaan padaku bahkan setelah menjadi saksi bahwa aku tengah mengandung anak dari mantan suamiku.
"Makanlah. Nanti sore sepulang kantor, aku akan menunggumu di bawah. Jangan terlambat." ujarnya sambil bangkit berdiri, meninggalkanku yang tak bisa membalas ucapannya sepatah kata pun.
.
.
.
__ADS_1
Sepulang kantor, tepat pukul lima sore, aku segera turun ke lantai dasar. Aku hanya tidak enak pada Nathan jika ia harus menunggu. Untungnya tadi aku sudah makan siang pemberian darinya. Entah kenapa, aku tidak mual. Mungkin aku terlalu lapar, atau mungkin.. aku masih terkejut karena pengakuan darinya.
Sesampainya di bawah, ia sudah menungguku di samping sebuah mobil Volvo hitam. Mobil ini tampaknya baru. Aku merasa aneh karena selama ini Nathan selalu mengendarai sport car.
"Apa kau sudah menunggu lama?" tanyaku.
"Tidak apa, masuklah.. Berikan kunci mobilmu?" ujarnya lembut.
Aku memberikan kunci mobilku yang langsung ia lempar pada Joe, asistennya.
Nathan membukakan pintu untukku dan ia sendiri duduk di kursi kemudi.
"Kemana kita akan pergi?" tanyaku cepat.
"Hmm?" Nathan sepertinya tidak mendengar pertanyaanku.
"Kemana.." Kata-kataku terhenti begitu saja saat ia mendekat, seolah ingin memelukku. Tapi, ternyata.. ia hanya hendak memasangkanku seat belt. Aku menahan nafas, gugup. Ketika ia sudah selesai memasangkan sabuk pengamanku, ia tidak kembali pada kursinya. Wajahnya tetap dalam posisi sangat dekat denganku. Aku bisa menghirup aroma musk dari tubuhnya. Anehnya, wangi itu tidak membuatku mual.
Ia tersenyum dan menundukkan kepalanya. Hal itu semakin membuatku salah tingkah.
"Ke dokter." ujarnya.
"Untuk apa?" tanyaku pelan.
"Bolehkah?" tanyanya. Aku bingung atas pertanyaannya. Tapi aku melihat tangannya yang hendak menyentuh perutku.
Aku mengangguk.
Ia pun mendekatkan tangan kanannya perlahan dan menyentuh perutku.
"Hai, baby.." sapanya seolah ditujukkan pada bayi di dalam kandunganku.
Aku merasa tersentuh. Tersentuh akan kebaikannya. Tersentuh akan semua perbuatannya. Ia begitu baik padaku, dan yang lebih luar biasa lagi, ia baik pada bayiku. Padahal, anak ini saja belum lahir ke dunia. Orang yang seharusnya menyayanginya saja tidak menginginkannya. Aku merasa ditegur. Aku yang ibu kandungnya saja, seperti tidak begitu menginginkannya.
Maafkan aku, Tuhan..
Mulai sekarang, aku juga akan menyayanginya melebihi aku menyayangi diriku sendiri
Halo semua.. Bagi yang tanya Adrian mana.. Author gak mau spoiler ya.. Jadi.. Please read this novel joyfully ❤
__ADS_1