Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Dijambret


__ADS_3



Lula tiba di rumahnya jam 22.30. Ia masuk kamar. Adrian sudah tertidur di kasur. Lula agak kaget. Ia tidak menyangka Adrian pulang lebih dulu. Lula berjalan tanpa suara menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan memakai gaun tidur, ia merebahkan tubuhnya di sebelah Adrian.


Adrian membuka matanya. Lampu tidur yang remang-remang menyorot siluet tubuh Lula. Adrian memeluk tubuh Lula dari samping. Ia mencium tengkuk istrinya itu. Lula mendesah pelan. Jujur, Lula sangat rindu sentuhan suaminya.


"Maaf, Lula.." ujar Adrian. Suaranya serak. Ia juga tidak bisa menahan gairahnya. Sudah lebih dari dua minggu mereka tak berhubungan.


Lula membalikkan tubuhnya agar ia bisa berhadapan dengan Adrian.


Mereka bertatapan.


Dia tampan. Batin Lula.


Dia cantik. Batin Adrian.


"Gapapa, sayang.." ujar Lula.


"Tadi kamu kemana aja?" tanya Adrian sambil mengusap pipi Lula.


"Tadi aku ketemu bosku di Wolfgang. Jadi aku temenin dia ngobrol sama rekan bisnisnya," jawab Lula.


Adrian tersenyum. "Aku kangen.." Ia merapatkan tubuhnya dan tubuh istrinya.


"Aku juga,"


Adrian mencium pipi Lula. Kemudian ia memundurkan kepalanya untuk melihat kedua mata Lula.


"Aku cinta kamu.." ucap Adrian.


Di satu sisi Lula kesal pada Adrian. Suaminya itu begitu tidak punya waktu untuknya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia bersuamikan dokter. Apa yang bisa ia harapkan?


Adrian tidak menunggu Lula untuk menjawabnya. Ia mencium bibir Lula lembut.


"Manis, hehe.." Adrian tampak seperti anak kecil.


Adrian merengkuh tengkuk Lula, menciumi lehernya, bibirnya, seluruh wajahnya. Lula dapat merasakan milik Adrian sudah tegang di bawah sana. Lula menyentuhnya naik turun. Adrian tersenyum kecil. "Kamu nakal," ujarnya.

__ADS_1


Adrian bangkit dan memposisikan tubuhnya diatas Lula. "Ahh.." desah Lula. Adrian menurunkan cela** d**** Lula. Ia juga membuka tali gaun tidur Lula sehingga istrinya itu tidak tertutupi benang sehelai pun. Lula tidak mau kalah, ia melepaskan kancing piyama suaminya satu persatu. Adrian melepaskan celananya, melemparkannya asal. Ia memainkan lidahnya di atas dada Lula, memberikannya beberapa tanda kepemilikan disana. Lula tidak berhenti menggelinjang dan mendesah.


Adrian menggesekan miliknya dan milik Lula beberapa kali sebelum akhirnya menghujami istrinya dengan lembut dan perlahan.


"Ah.. Adrian.." Lula memeluk punggung Adrian dengan kedua tangannya.


"Yes, baby.." Adrian terus melakukannya dari perlahan, makin cepat, hingga keduanya sama-sama pelepasan penuh kenikmatan.


Keesokan harinya, Adrian sudah pergi begitu Lula bangun. Kadang Lula tidak mengerti, sampai kapan ia akan terus begini? Merindukan waktu dan perhatian yang tak bisa diberikan suaminya.


Lula menyetir menuju kantor dengan menahan kantuk. Mungkin karena ia baru saja begadang dengan Adrian. Meskipun tidak begadang sampai pagi. Adrian selalu tahu waktu. Ia selalu memprioritaskan istirahat. Karena terlalu mengantuk, Lula memutuskan untuk membeli kopi.


Lula baru saja keluar dari mobilnya yang terparkir di sebuah coffee shop ketika dua orang pria yang mengendarai sebuah sepeda motor menyerempetnya dan bahkan mengambil tasnya.


"Aaaaakkhhh..." teriak Lula. Ia jatuh ke aspal dan kepalanya membentur trotoar. Kedua jambret yang mengenakan helm full face dan masker itu langsung melesat kabur membawa tas Lula. Hp Lula yang Lula pegang ikut jatuh bersamanya dan kacanya retak. Lula tidak sadarkan diri.


Beberapa jam kemudian..


Lula membuka kedua matanya. Kepalanya sakit. Ia berusaha memegang kepalanya. Tidak bisa. Tangannya diinfus.


"Lula, kamu udah sadar?" Suara perempuan menyadarkannya. Bu Tasya. Ia adalah seorang Direktur di bank tempat Lula bekerja, atasan langsung Lula.


"Eh, Bu Tasya.. Kok bisa disini?" tanya Lula.


"Ya ampun. Maaf ya, Bu. Ibu jadi repot."


"Gapapa, Lula. Ini Hp kamu. Kamu mau hubungin suami kamu mungkin? Untuk urusan rumah sakit, saya sudah suruh HRD yang urus. Jadi kamu tenang aja. Cuti aja beberapa hari." ujar Bu Tasya panjang lebar.


Lula mengangguk-angguk. Ia sedikit meringis sakit karena kepalanya yang terbentur. Tidak lama kemudian, Bu Tasya pamit kembali ke kantor. Ia juga bilang mungkin nanti ada beberapa rekan Lula yang menjenguk karena tadi ia bilang di grup chat mengenai Lula.


Selama kepergian Bu Tasya, Lula menelepon bank. Ia memblokir semua kartunya. Memang di tas itu tidak ada barang berharga. Hanya ada sedikit uang, beberapa kartu, SIM, dan kartu identitas. Lula mencatat apa saja yang harus ia urus.


Tiba-tiba ia terpikir mengenai Adrian. Haruskah ia memberitahu Adrian? Akankah ia peduli?


Adrian, aku dijambret. Aku jatuh dan akan cuti kerja beberapa hari. Aku di RS PIK ruang VIP 12.


Lula tidak berharap banyak. Adrian pasti sibuk.


Tok tok tok..


Seorang dokter dan seorang perawat masuk. Dokter menjelaskan bahwa Lula hanya luka ringan di bagian kepala dan lengan. Cukup diperban. Nanti sore sudah bisa pulang. Lula mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Tak lama suster membawakan Lula makan siang. Setelah makan, Lula tertidur.

__ADS_1


Tok tok tok..


Lula mengerjap-ngerjapkan matanya. Seorang laki-laki bertubuh tegap, mengenakan setelan jas masuk. Lula hampir melongo tidak percaya.


"Pak Nathan?"


Yang dipanggil namanya hanya tersenyum kecil. Ia membawa sebuket bunga mawar putih dan sekeranjang buah.


"Maaf, Lula, saya mengganggu, ya?" ujarnya sopan.


"Oh tidak, pak.. Silahkan duduk." Lula yang tidak bisa bangkit berdiri karena diinfus hanya bisa menegakkan tubuhnya.


"Saya datang karena Bu Tasya yang cerita. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanyanya sambil meletakkan bawaannya di meja.


"Ah, saya baik-baik saja, Pak. Nanti sore sudah bisa pulang."


"Oh, tadi kamu kesini naik ambulans, ya?"


Lula mengangguk.


"Kalau begitu, supir saya nanti saya suruh tunggu kamu disini. Dia yang akan antar kamu." ujar Pak Nathan hati-hati.


Lula menggeleng. "Wah, terima kasih. Tapi tidak usah, Pak. Saya bisa naik taksi."


"Oh, gapapa. Saya senang kok melakukan itu. Oh ya, apa kamu mau menghubungi suami kamu?" Nathan menyodorkan ponselnya. Ia pasti berpikir bahwa ponsel Lula juga dijambret.


Lula menggeleng sambil tersenyum. "Tidak perlu, Pak. Ini hp saya. Untung tidak ikut dijambret. Hehe.."


Nathan tersenyum dan mengangguk-angguk. Tidak lama kemudian, Nathan pamit kembali ke kantor setelah kembali memaksa Lula untuk diantar saja oleh supirnya nanti sore. Namun Lula bersikeras untuk naik taksi. Ia memang wanita yang mandiri.


Tok tok tok..


Adrian?


Ternyata yang datang tiga teman Lula di kantor. Ketiganya Manager. Ada Nissa, Hesti, dan Dion. Mereka juga tahu kabar Lula dari Bu Tasya.


"Ya ampun, La..." Nissa heboh.


"Laki lu mana, Lul? Kok ga nengokin bininya. Kirain lu dirawat sama dia.." cerocos Hesti.


"Ga tau nih masa pas pacaran aja pernah ketemu sama kita-kita yaa.. Sama terakhir di pelaminan tuh berdua Lula." Dion juga tak kalah bersemangat.

__ADS_1


Lula hanya bisa tertawa melihat tingkah teman-temannya itu. Mereka bertiga memang lebih tua dari Lula, namun kelucuannya melebihi remaja. Berkat mereka bertigalah Lula bisa melupakan kesedihannya kali ini. Tidak dijenguk oleh Adrian.


__ADS_2