
Aku tidak ingat apapun setelah kata-kata itu kulontarkan begitu saja pada Adrian. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di gendongan Adrian. Ia membawaku ke kamar kami dulu, di rumahnya. Aku lega karena aku tidak ingin Mama melihatku seperti ini.
Ia meletakkan ku di ranjang dengan lembut.
"Kamu tahu.. aku ingin.. kita berhenti menyakiti satu sama lain seperti ini." Gumamnya pelan.
"Hmm?" Aku membuka mata dengan susah payah. Ia duduk di sisiku. Tampan, seperti biasa.
"Kalau begitu.. Cium aku." ujarku. Alkohol sepertinya membuatku kehilangan malu.
Ia mengernyitkan alis, tidak menanggapi permintaanku. "Aku serius. Kata-katamu di mobil tadi sepertinya benar." Ia tampak sedih.
"Kata-kataku.. yang mana?" Aku benar-benar sudah lupa.
Ia terkekeh, kemudian meletakkan kedua tangannya di kasur, dan menjatuhkan kepalanya ke belakang seperti anak kecil, menatap langit-langit.
Hatiku sedikit sakit melihatya menolakku. Kenapa ia mengontrol dirinya dengan sangat baik?
"Apa kamu merasa terlalu suci.. untuk melakukannya dengan mantan istrimu?" tantangku. Oke aku harus berhenti berbicara. Sebelum ia benar-benar menerima tantanganku.
Ia tertawa kecil. "Aku justru harus menahan diri, untuk tidak menarikmu ke kamar dan melakukannya. Setiap.. Kali.. Kita.. Bertemu." Ia mendekat. Ia menopang berat tubuhnya pada kedua tangannya. Aku merasakan hembusan nafasnya menerpa wajah dan leherku. Tubuhku meremang, menginginkan lebih. Aku merengkuh wajahnya, menciumnya lembut. Aku membutuhkan waktu lebih lama dari seharusnya untuk sadar, bahwa ia tak membalas ciumanku.
Aku mendorongnya pelan. Berusaha mencari jawaban dari kedua matanya. Tapi.. aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Sudah mati rasakah ia kepadaku?
"Aku harus pergi." Aku tidak dapat menyembunyikan kegetiran dari suaraku. Aku mendorongnya lebih kuat kali ini. Aku hendak bangkit, tapi ia mencegahku.
"Lepas.." Ujarku, dipenuhi rasa malu karena telah memaksanya.
Sedetik kemudian, ia menciumku. Mungkin ia merasa bersalah, pikirku. Berbeda denganku tadi, kali ini ia melakukannya dengan penuh kehangatan. Ia merengkuhku dan menciumku lama. Ia juga mengecup seluruh wajahku. Aku merasakan wajahku bersemu merah, tapi aku membalas setiap sentuhannya.
Ia memagut dengan menuntut, penuh gairah, dan semakin dalam.
"Lula.." ujarnya lembut.
Aku mengumpulkan kesadaranku dari kenikmatan yang ia beri. Menaikan satu alisku, bertanya tanpa kata-kata.
"Kamu.. mau melakukannya?" tanyanya.
__ADS_1
Astaga. Entah apa yang ia lakukan untuk menghabiskan masa mudanya. Haruskah ia bertanya? Setelah aku yang memulai?
Aku mengangguk.
Ia kembali mendaratkan bibirnya di ceruk leherku, membuatku mendesah tak tertahankan. Ia mendudukanku perlahan, kemudian meloloskan sweater ku sambil tidak berhenti menciumiku. Aku tidak mau kalah, aku membuka kancing kemejanya satu persatu. Ia menarik celana kashmirku, sehingga aku hanya memakai dalaman saja. Ia bangkit untuk melepas celananya secepat kilat, dan sekarang ia sudah tanpa busana. Aku menahan nafas ketika melihat miliknya lagi setelah sekian lama.
Ia naik ke kasur dan melepaskan apa yang tersisa dari diriku, sambil menciumiku. Ia menatap bagian tubuh atasku, mengerjap dan membasahi bibirnya. Ia tidak pernah terlihat seseksi ini.
Ketika bibirnya di bibirku, tangannya menjamah setiap inchi tubuhku. Membuatku terlena dan mengerang. Ia berhenti dan turun, menggigit-gigit kecil seluruh tubuhku, memberikan tanda kepemilikan dimana-mana.
"Ah.." Desahku untuk yang ke puluhan kalinya, saat ia sampai pada inti tubuhku. Aku merasakan hangat nafasnya, dan setiap sentuhan yang dilakukan oleh mulutnya. Aku menariknya agar bibir kami kembali bertemu, aku sudah benar-benar tidak tahan. Aku memegang miliknya yang sudah tegak. Kedua matanya dipenuhi kabut hawa nafsu. Ia mengerjap, dan kemudian bertanya. "Aku takkan bisa berhenti jika sudah mulai. Kamu yakin mau melalukan ini?" Suaranya terdengar parau.
Aku mengangguk, tak bisa menunggu untuk sedetik pun lagi. Ia memposisikan dirinya di atasku, menopang berat tubuhnya dengan kedua tangan.
Kami sama-sama menahan nafas saat ia memasukiku. Ia menghentakkan tubuhnya masuk ke dalamku, berkali-kali, tapi tetap dengan cara yang lembut. Aku seperti terbang ke langit ketujuh. Jari-jariku memeluk punggung kekarnya, mendesah tepat di telinganya, membisikkan kata-kata cinta padanya. Entah itu aku atau alkohol, tapi semuanya terasa tepat.
Aku sampai berkali-kali malam itu, ia melakukan berbagai macam gaya padaku. Ia sedang memasukiku dari samping, tangannya menyangga tubuhnya agar kepalanya dapat berada di atasku, menciumku. Ia melepas bibir kami, lalu menatapku. Ia mendesah pelan dan menghujamkan miliknya lebih dalam, saat itulah aku tahu bahwa ia sudah selesai. Tapi saat ia membuka mata untuk menatap mataku, yang kulihat bukanlah kepuasan, atau kebahagiaan seperti saat biasanya kami berhubungan, melainkan kesedihan. Entah mengapa, sentuhannya terasa berbeda kali ini. Rasanya seperti.. perpisahan.
.
.
.
.
.
.
Aku terbangun karena merasakan sesuatu di rambutku. Aku membuka mata dan menyadari bahwa aku sedang berada di pelukan Adrian. Aku tidak perlu melihat ke dalam selimut untuk tahu bahwa kami sama-sama tidak berpakaian. Ia mengusap-usap rambutku lembut. Aku merasakan kehangatan menjalar di hatiku. Rasa yang tidak pernah mati untuknya. Cinta.
"Maaf, aku membangunkanmu." bisiknya.
Aku menggeleng. "Jam berapa ini?" tanyaku.
"Hampir jam lima pagi."
__ADS_1
"Kamu nggak tidur?"
"Gak bisa."
"Kenapa?"
Aku merasakan Adrian mengangkat bahunya, menandakan ia tidak tahu jawaban dari pertanyaanku.
"Maaf aku sudah lancang.. membawa kamu ke.."
Aku menggeleng, menghentikan kalimatnya. "Aku marah.. bukan karena apa yang kamu lakukan. Tapi mungkin.. karena.. aku teringat hubunganku dan Papa di akhir masa hidupnya. Itu.. merupakan masa yang berat.. bagi kami berdua, aku rasa." ujarku pelan.
"Maaf.." ujar Adrian lagi. Sepertinya ia tidak akan bertanya mengenai alasan rusaknya hubunganku dengan Papa. Aku merasa lega karena itu. Aku tidak ingin ia tahu bahwa itu semua terjadi karena perpisahanku dengannya.
"Bukan salah kamu." ujarku.
.
.
.
Pukul 07.00..
Adrian membawakanku makanan ke atas ranjang. Aku yang baru sadar dari tidur, tersenyum padanya dan berterima kasih. Tampaknya ia sudah mandi.
"Kamu yang masak?" tanyaku sambil menegakkan tubuhku di atas ranjang.
Adrian mengangguk. Ia meletakkan sebuah meja lipat kecil di hadapanku. Ada sebuah piring berisi sandwich dan secangkir teh chamomile, kesukaanku.
Untuk sejenak, aku mencuri pandang ke arahnya. Aku bertanya-tanya dalam hati, seperti apakah hubungan kami ke depannya? Aku masih begitu mencintainya, tapi.. apakah ia juga merasakan hal yang sama? Apa kami akan kembali bersama?
"Kamu mau ngapain rencananya hari ini?" tanyaku. Ia masih berdiri di hadapanku, dengan pakaian rumah dan rambut yang basah.
Ia mengangkat kedua bahu. "Nggak punya rencana apa-apa. Kamu?" tanyanya.
"Gimana kalo kita.. jalan-jalan?" tanyaku.
__ADS_1
"Yuk.." Ia tersenyum, seperti berusaha terlihat senang. Tapi aku tahu ia menyembunyikan sesuatu.