
ADRIAN POV
Melihatmu bahagia adalah hal yang terindah. Pemberian terindah dari Tuhan untukku. Kau yang membuatku percaya akan cinta, di saat tidak pernah ada orang lain yang mencintaiku sepertimu.
Aku pikir yang kita punya adalah sesuatu yang sempurna. Tapi aku salah. Aku selalu menyakitimu lagi dan lagi. Aku harap, hanya kenangan indah yang kutinggalkan. Aku harus pergi.
Tapi kenapa? Saat pesawat yang membawaku ini lepas landas, sepertinya separuh jiwaku tertinggal. Belum apa-apa sudah rindu. Mampukah aku bertahan tanpa kamu? Tuhan jagalah dia untukku. Bahagiakan ia, walau tanpa aku. Aku memaksakan senyum kepada seorang pramugari yang menyediakanku minuman. Aku memejamkan mata, berusaha untuk berhenti memikirkanmu.
LULA POV
Aku pikir manusia tidak bisa sehancur ini. Aku baik-baik saja secara fisik, tapi tidak dengan batinku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku begitu bodoh, telah membiarkannya pergi. Tapi tunggu.. Itu keinginannya. Apa pedulinya soal perasaanku? Aku tidak berhak atas dirinya. Ia berhak pergi kemanapun yang ia mau, selama apapun yang ia mau.
Aku kembali tidak nafsu makan. Aku menghabiskan kebanyakan waktuku di kantor, menjadi orang yang terakhir pulang. Aku tidak bisa pulang dan bersikap di depan Mama seolah tidak terjadi apa-apa. Sebisa mungkin, aku menghindarinya.
Aku pergi ke bank beberapa hari setelah kepergian Adrian. Aku menutup rekeningku dan membuka rekening baru setelah sebelumnya aku juga sudah mengembalikan uang Adrian via transfer. Aku tidak ingin menerima uangnya sedikitpun. Aku tidak ingin ia merasa bahwa ia telah bertanggung jawab padaku. Aku tidak membutuhkan bantuannya. Aku ingin ia merasakan kecewa yang kurasakan. Aku ingin ia merasakan ketidakpastian yang kurasakan. Apa ia baik-baik saja? Apa ia makan teratur? Aku tidak ingin aku saja yang cemas sendirian. Aku tidak ingin.. ia merasa tenang disana seolah aku hidup karena pemberiannya. Aku berpikir bahwa dengan itu mungkin saja ia menghubungiku, mencemaskanku, tapi itu tidak pernah terjadi.
"Kamu masih disini?" Suara bariton seseorang mengagetkan lamunanku.
Aku menoleh.
Nathan.
Sering sekali ia datang ke kantorku untuk menemui Pak Richard. Ini mulai terasa seperti kantornya juga. Ditambah, setiap hari Sabtu aku menjadi auditor lepas di kantornya. Jujur, aku senang. Kesibukan pekerjaan membuatku berhenti memikirkan seseorang yang seharusnya tidak kupikirkan.
"Lula, are you okay?" tanyanya lagi.
"Ah.. ya, I'm okay. Kamu sendiri.. kok masih disini?" tanyaku.
"Biasa lah.. Pak Richard. Kerja sama untuk proyek di Surabaya. By the way, kamu udah dinner?"
Aku mengangguk, berbohong.
"Really? Kalau kamu mau.. aku kebetulan mau dinner, sendirian. Mau temenin aku?"
"Kayanya.. ngga usah deh. But, thank you. Aku mau pulang sebentar lagi."
"Are you sure? Aku tungguin yah? Kamu lagi ngerjain apa, sih?" tanyanya mendekat.
"Hmm, nggak banyak kok. Kamu pulang duluan aja."
"Tapi.. ini udah gelap loh satu gedung. It's either I accompany you here or we go now." *Aku temenin kamu disini atau kita pergi sekarang
"Aku udah biasa, kok.. Hampir setiap hari aku pulang emang udah gelap gini."
Nathan melongo. "What? Om Richard yang suruh kamu kerja sekeras ini?" Wajahnya berubah kesal.
"Ngga, ngga sama sekali. Aku yang mau.. Oke, kalau kamu maksa. Oke, aku pulang sekarang."
__ADS_1
Seulas senyum terbit di wajahnya.
Ia mengantarku sampai ke pintu mobilku.
"Thank you. Hati-hati, ya.." ujarku setelah membuka jendela mobil, melambaikan tangan padanya.
"Kamu juga, hati-hati. See you.."
Aku memacu mobilku tanpa tahu arah. Aku menatap jam di layar kecil di mobil. Masih pukul delapan malam kurang. Entah kenapa, aku menuju rumah Adrian. Aku rasa, aku ingin membayangkan ia masih ada disana. Meskipun aku tahu itu tidak mungkin.
Aku mematikan mesin mobilku dan turun. Aku berjalan menuju pintu utama kemudian menurunkan handle pintu. Tentu saja terkunci. Aku mengintip dari jendela, tapi semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku menyandarkan tubuhku di dinding, kemudian menjatuhkan tubuhku perlahan ke lantai marmer yang dingin. Aku berharap dalam hati, seperti waktu itu, ia ada di dalam rumah dan akan membukakanku pintu.
Ponselku yang berdering membangunkanku.
Mama.
"Halo, Ma?"
"Lula, kamu dimana? Sudah hampir jam sebelas malam.."
"Ah.. Iya, Ma.. Ini Lula sudah di jalan pulang."
Mama menghela nafas. "Oke, Mama tunggu, ya.."
Bip. Telepon dimatikan.
Aku bergegas menuju mobilku, merasa begitu bodoh.
Mama membuka pintu utama begitu mobilku memasuki pekarangan rumah.
"Sudah makan?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk, berbohong lagi. "Mama kok belum tidur?" tanyaku.
"Gimana Mama bisa tidur.. Mama mikirin anak Mama satu-satunya.. Apa kamu sebegitu sibuknya, di kantor? Mama lebih suka kamu kerja di kantor kamu yang dulu, deh.." ujar Mama panjang lebar.
Aku sudah menaiki anak tangga, bergegas menuju ke kamarku.
"It's okay, kok, Ma.. Yang penting kan.. Aku happy, bisa bayar tagihan. Ya udah ya, Ma.. Aku capek. Aku tidur dulu. Mama juga, ya.."
Mama mengangguk dan aku meninggalkannya ke kamar.
Keesokan paginya..
Aku terbangun karena mendengar suara berisik dari lantai satu. Suara orang berteriak-teriak. Aku setengah sadar keluar dari kamar dan terkejut. Di dalam rumah sudah ada belasan pria dengan penampilan menakutkan. Mereka membawa barang-barang yang ada di rumah ini dan membawanya keluar rumah.
"Ma!" Aku berlari menuju lantai satu.
__ADS_1
Mama sedang menangis, di hadapan seorang laki-laki paruh baya berpakaian rapi. Di sebelah Mama, Bibi juga menangis dan tampak memohon pada laki-laki yang sama.
"Saya beri waktu hingga tiga hari lagi untuk Ibu dan keluarga Ibu angkat kaki dari rumah ini!" ujar pria itu.
"Ma.. Siapa dia?"
"Saya bekerja di bagian penyitaan Bank Jakarta. Bapak dan Ibu Lukas telah mengagunkan rumah ini beserta isinya ke bank kami dan sudah jatuh tempo sejak tiga bulan yang lalu."
Seperti petir di siang bolong.
"Pak.. Tolong, Pak.. Beri kami waktu.." ujar Mama.
Aku tidak berkedip, masih berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Tidak bisa, Bu. Kami hanya melakukan kewajiban kami. Ingat, ya, Bu.. Tiga hari.." ujar pria itu kemudian ia dan seluruh kawanannya pergi. Kini rumah kami sudah setengah kosong. Televisi, kursi-kursi, pajangan, dan entah apa lagi yang mereka bawa.
Mama jatuh ke lantai. Astaga.. Jantung Mama kan.. tidak sepenuhnya sehat.
"Ma.. Apa yang terjadi, Ma? Ayo sini, duduk.." Aku menarik Mama untuk duduk di sebuah sofa yang belum diambil oleh debt collector.
Aku mengambilkan minum untuk Mama dan mengelus punggungnya.
"Mama minta maaf, Nak.."
"Sebenarnya.. seberapa besar hutang Papa dan Mama pada bank?"
"Semua ini karena.. ketika Papa sakit, Mama harus membayar Rumah Sakit dan kamu tahu kan.. Biayanya tidak murah, La. Jadi Mama mengagunkan rumah ini ke Bank."
"Iya, Ma. Memang berapa hutang kita pada bank?"
"Beserta bunga.. tiga milyar, Nak.." Mama menghapus air matanya dengan tissue.
Apa? 3 Milyar? Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
"Ya sudah, Ma.. Lula akan berusaha ke Bank untuk meminta keringanan waktu lagi. Yang penting, sekarang Mama jangan memikirkan itu dulu. Istirahat, ya. Lula pasti akan mencari jalan keluarnya."
Mama terisak. "Tapi, Mama benar-benar tidak ingin menyusahkan kamu."
"Engga, Ma.. Ini tugas Lula sebagai anak. Dulu, Mama dan Papa yang menjaga Lula. Sekarang, biarkan Lula yang memperjuangkan rumah kita, satu-satunya peninggalan Papa." ujarku berusaha meyakinkan Mama walaupun hatiku sendiri diliputi kekalutan yang mendalam.
*Halo semuanyaa...
Terima kasih sudah membaca novelku ini
Diharapkan kalian bisa memberikan komentar positif dan membangun..
Less complaining, please!
__ADS_1
Thank you 🙏🏻*