
LULA'S POV
Sudah beberapa hari berlalu sejak kepulanganku dari Surabaya. Hari ini, aku sudah tiba di kantor Nathan untuk mengaudit. Nathan belum datang. Aku memutuskan untuk membuat kopi terlebih dahulu di pantry.
Sesampainya di pantry, aku langsung membuat kopi.
"Ehem.." Seorang pria berusia awal tiga puluhan mengejutkanku. Aku pernah bekerja di perusahaan ini sebelumnya, tapi aku belum pernah bertemu pria ini. Tubuhnya tinggi tegap menjulang. Ia berkacamata, namun dapat terbilang good-looking. Rambutnya berwarna hitam dan aku bisa melihat ketegasan dari wajahnya.
"Ah, mau buat kopi juga? Silahkan.."ujarku mempersilahkan pria itu.
"Thank you. Tapi, kalau boleh tahu.. kamu siapa?" tanya pria itu.
"Saya.. auditor lepas. disini."
Pria itu mengangguk-angguk. "Kalau begitu.. kita akan bekerja sama. Saya Alfian, Wakil Manager Keuangan yang baru. Hari ini saya diminta oleh Pak Nathan untuk membantu mengaudit."
"Oh.. Baik kalau begitu."
Jadi pria ini penggantiku. Aku bertanya-tanya kenapa neraca keuangan kantor bisa berantakan sejak aku resign, tapi di hadapan pria ini, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
"Pak Nathan tidak bisa hadir." ujar Alfian begitu aku kembali ke ruang kerja kami.
"Oh? Sepertinya hanya kita berdua kalau begitu?" ujarku seperlunya. Kami berbasa-basi sebentar, saling bertanya pengalaman kami dalam pekerjaan.
"Jadi.. kamu Lula?" tanyanya.
Aku mengangguk heran.
"Saya.. Menggantikan posisimu disini?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk berkali-kali. "Memangnya kenapa?" tanyaku.
Ia tersenyum kecil, meyugar rambutnya yang gelap. "Gapapa. Kamu.. cukup terkenal disini." ujarnya.
Aku mengernyitkan alis. "Bagaimana bisa?"
"Well, selain kamu sangat excellent di pekerjaan kamu.. Juga karena.. Kedekatan kamu dengan Pak Nathan." ujarnya.
Aku tertegun. Bagaimana bisa orang-orang berpikir seperti itu? Aku selalu berusaha bersikap profesional di depan semua orang. Bahkan, aku dan Nathan memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi aku berusaha bersikap tenang di hadapan Alfian dan tidak melanjutkan pembicaraan itu.
"Lebih baik.. kita mulai sekarang?" ujarku.
.
__ADS_1
.
.
Sudah hampir jam makan siang ketika Alfian mengagetkanku dengan penemuannya. Ia menemukan beberapa transaksi mencurigakan di dalam neraca.
"Apa sebaiknya kita lapor pada Pak Nathan?" tanyanya.
Aku melihat inisial orang yang bertanggung jawab pada transaksi-transaksi itu. Sebuah inisial dari nama yang tak asing bagiku. Rissa. Rissa adalah seorang pegawai muda yang baru saja mulai bekerja beberapa minggu sebelum aku resign.
Tidak mungkin ia yang..
"Pasti dia yang menggelapkan uang perusahaan." ujar Alfian dengan suara meyakinkan.
"Sebaiknya saya menghubungi Pak Nathan sekarang. Terima kasih, Lula.. atas bantuan kamu."
"Tapi.. apa yang akan terjadi pada Rissa?" tanyaku.
Alfian mengangkat bahu. "Dia sudah menggelapkan milyaran rupiah, jadi.. sepertinya Pak Nathan akan membawa kasus ini ke jalur hukum."
"Tapi.. Apa Rissa pelakunya? Dia tidak terlihat seperti.."
"Penjahat tidak selalu terlihat sebagai penjahat, Lula." Ia tersenyum kecil dan kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Halo? Pak Nathan? Ya, saya ada berita baik untuk Bapak... Apa? Hari Senin? Baik... Bu Lula juga?... Baik. Saya akan segera menyiapkan bukti-buktinya." Ia memutus panggilan.
.
.
.
Seharian itu aku terus memikirkan Rissa. Seingatku, ia baru saja lulus strata satu ketika melamar di perusahaan Nathan. Ia tidak terlihat seperti orang yang mampu melakukan kejahatan apapun. Aku ingat betul bahwa ia adalah seorang gadis pemalu. Apa ia bekerja sama dengan seseorang? Atau.. malah bukan ia pelakunya? Masalah ini membuatku tidak bisa tenang. Aku memutuskan untuk tidak menghubungi Rissa. Aku dapat bertanya padanya baik-baik hari Senin nanti.
.
.
.
Senin itu aku sudah izin ke kantorku untuk datang sebentar ke kantor Nathan. Pak Richard yang memang memiliki hubungan sangat baik dengan Nathan, menyetujuinya dengan mudah.
Aku menyapa beberapa pegawai yang kukenal seiring aku melangkah menuju kantor Nathan di lantai paling atas. Dari luar, aku terlihat tenang. Tapi sebenarnya, aku sangat cemas. Aku mencemaskan Rissa. Entah kenapa, firasatku buruk sekali hari ini.
Aku mengetuk pintu ruangan Nathan.
"Masuk." Suara bariton Nathan membuatku terkesiap.
Aku masuk perlahan ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ruangan itu begitu dingin dan mencekam. Nathan sedang duduk di kursi kekuasaannya, di hadapannya ada Rissa, Alfian, dan aku.
Aku melirik ke arah Nathan, ia tampak.. begitu berbeda. Terlihat sekali bahwa ia sedang mengalami masalah.
"Jadi.. kamu yang menggelapkan uang perusahaan?" tanya Nathan dengan suara yang tajam.
Aku tidak berani melihat. Aku tidak ingin melihat.
Tidak ada jawaban.
Kemudian.. karena suasana yang begitu sepi tanpa suara, aku memberanikan diri menoleh ke arah Rissa.
Ia menitikkan air mata.
"Sebaiknya saya menghubungi pihak berwajib." ujar Alfian.
Aku menatap Nathan, menunggu reaksinya. Tapi ia tidak membalas tatapanku sama sekali. Tatapannya jauh, seperti sedang berpikir.
"Maaf.. Apa boleh saya?" aku mengisyaratkan pada Nathan bahwa aku akan mendekat ke arah Rissa.
Nathan hanya terdiam.
Aku tak menunggu lama. Aku segera mendekati Rissa yang hanya bisa menunduk dan menangis.
"Rissa.. Ada apa?" tanyaku sambil mengelus bahunya.
"Cerita sama saya?" lanjutku.
Tapi ia hanya bisa menggeleng.
"Sudah. Kalau kamu tidak mau bicara, mungkin.. kita harus mengikuti saran Alfian." ujar Nathan. Ia tampak frustrasi.
Alfian segera menekan beberapa tombol di ponselnya dan kemudian menelepon kantor polisi. Aku tidak mendengar pembicaraan Alfian, karena yang ku khawatirkan hanya Rissa.
"Sekarang.. Bereskan meja kamu. Keluar." Ujar Nathan dengan suara rendah sambil menatap ke arah Rissa. Ia tidak pernah terlihat semenakutkan ini.
Aku tak bisa berkata-kata. Rissa keluar dari ruangan Nathan, aku mengikutinya. Aku berharap.. ia akan membuka diri dan menjelaskan apa yang terjadi. Biar bagaimanapun, ia pernah bekerja denganku. Aku merasa simpatik padanya.
Kami tiba di ruangan Divisi Keuangan. Di sana, sudah ada banyak orang yang ingin tahu apa yang terjadi. Kebanyakan dari mereka mengenalku dan aku mengenal mereka. Tapi saat mereka bertanya ada apa, aku enggan menjawab. Aku hanya membantu Rissa merapikan barang-barangnya. Ia tak henti-hentinya menunduk, seperti takut. Aku mengerti perasaannya.
Tak berapa lama kemudian, beberapa pria dan wanita berseragam polisi datang dan membawa Rissa.
"Pak, tolong.. Rissa.." ujarku sambil menarik pelan tangan Rissa. Aku juga bingung harus berkata apa.
Rissa hanya bisa tersedu.
"Saudari Rissa harus mengikuti pemeriksaan di kepolisian. Permisi."
Mereka pun membawa Rissa.
__ADS_1