
ADRIAN POV
Tidak ada yang dapat melukiskan betapa aku merindukannya sekarang ini. Jangankan sehari. Aku sudah ingin mencarinya saat ia keluar dari rumah membawa koper. Semua orang di seluruh dunia bisa bilang bahwa aku adalah suami yang tak punya hati. Aku tak bisa berkata-kata manis. Aku. Tidak. Bisa. Tapi apa yang harus kulakukan jika hatiku sendiri terbakar api cemburu? Aku tidak ingin ia tidak bahagia. Sungguh. Aku terluka ketika ia selalu bertemu dengan pria itu. Pria yang tak akan kusebut namanya.
Walaupun kami sudah berminggu-minggu pisah kamar, aku selalu menatapnya ketika ia tidur. Aku selalu mendengar ketika ia bersenandung saat mandi. Aku selalu suka masakannya, walaupun kadang itu tidak terlalu menyehatkan. Aku suka tubuhnya. Aku selalu punya cara agar kami berhubungan. Ah. Tubuhnya. Aku bisa gila karenanya. Aku rela tidak melakukan apapun selama berhari-hari untuk dapat berdua di ranjang dengannya. Ehm.. Tapi.. Lelucon macam apa itu. Pekerjaanku sangat penting. Aku memiliki rekor. Tidak ada seorang pasien pun yang meninggal di meja operasiku. Tidak ada. Kadang hal-hal kemanusiaan membuatku merasa lucu. Manusia. Begitu rapuh. Satu sumbatan kecil di jantung dan poof! Serangan jantung. Dan sesaat kemudian, jika pertolongan datang terlambat, kau tahu jawabannya. Kematian. Dan aku.. Aku hanyalah seorang semut pekerja yang berusaha melawan kematian itu.
Kembali lagi ke Lula. Kenapa aku tidak mencarinya? Aku mau. Sungguh. Hanya saja.. aku ingin membuatnya bahagia. Aku tidak ingin membuatnya menangis. Lucu bagaimana orang asing membuatmu gila, melebihi orang tuamu sendiri yang kau kenal puluhan tahun. Aku rela menyerahkan apapun untuknya. Apapun. Sebut saja.
Aku bodoh telah membiarkannya pergi begitu lama. Hingga aku larut dalam pekerjaanku. Di satu sisi aku lega, karena aku tidak perlu menyakitinya lagi dengan memilih pekerjaanku dibanding dirinya. Ia mungkin lebih tenang hidup sendiri. Aku pun begitu. Aku tidak perlu lagi melihatnya bersedih karena ku.
Aku juga mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang menginap sejak kepergian Lula, karena aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah apapun.
Lula bahkan mengembalikan mobilnya, pemberianku pada hari pernikahan kami. Sekarang aku melihat mobil itu setiap pagi di garasi. Itu mengingatkanku padanya. Namun hal itu belum membuatku tergerak untuk mendatanginya. Sungguh pecundang. Aku tahu nomornya. Aku tahu kantornya. Aku bisa dengan mudah mencari keberadaannya. Tapi tidak kulakukan. Aku akan menunggu sampai ia kembali dengan keinginannya sendiri.
Suatu malam, Ibu menghubungiku. Ia mengatakan bahwa ia sudah berada di jalan menuju ke rumahku. Aku yang sedang duduk di ruanganku terkejut. Aku mengatakan alasan yang kubuat-buat, bahwa aku sibuk dan Lula belum pulang. Tapi Ibu memaksa. Ia ingin melihat rumahku. Dengan atau tanpa penghuninya. Beruntung saat itu jam kerja ku sudah berakhir. Aku mencoba menghubungi Lula. Tidak diangkat. Rasa sedih menyeruak di hatiku. Memang sudah selayaknya ia tidak mau mengangkat teleponku.
Aku segera menuju rumah. Aku memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk kukatakan pada Ibu mengenai ketidakhadiran Lula.
Ibu sendirian datang ke rumahku. Ia baru tiba. Ia menatap mobil Lula yang terparkir di garasiku yang luas.
"Ibu.." sapaku begitu aku turun dari mobil.
"Lula mana?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap ke arah yang sama dengannya, mobil Lula.
__ADS_1
"Ayo masuk, Bu." ajakku. Aku berusaha setenang mungkin. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika ia tahu kami pisah rumah. Ibu adalah seseorang yang bijak, melebihi Bapak bahkan. Ia tidak pernah meninggikan suaranya. Sedangkan Bapak, ia tidak berhenti memberikan hukuman fisik padaku hingga aku berusia tujuh belas tahun.
Aku membimbing Ibu masuk ke rumah. Rumah yang kubeli dengan jerih payahku sendiri. Aku bisa tinggal di manapun di seluruh dunia berkat kedua orang tuaku, tapi tak ada yang menandingi rumahku sendiri. Terutama saat ada seseorang yang kita cintai di dalamnya.
Aku mencoba menghubungi Lula sekali lagi, tapi tidak diangkat. Ibu mungkin melihatnya. Ia yang sedang duduk di sofa tampak menghubungi seseorang.
"Kamu dimana?" tanya Ibu. Pasti Lula. Ya kan?
"Lula.." ujar Ibu lagi. Hatiku menciut mendengar namanya. Aku harap Ibu tidak menegurnya karena tidak mengangkat teleponku. Aku harap Ibu akan selalu baik padanya.
"Ibu di rumah kalian. Apa kamu baik-baik saja?" kata Ibu lagi. Aku berusaha menajamkan telinga untuk dapat mendengar suaranya, tapi nihil. Aku juga lega begitu mendengar Ibu bersikap baik padanya.
"Iya." Ibu melirikku. Kemudian hening, giliran Lula yang berbicara.
"Kamu yakin? Adrian bisa jemput kamu kesana." Aku melirik Ibu, hampir tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia. Ya, katakan padanya aku akan menjemputnya, Bu. Ke ujung dunia sekalipun.
Aku menatap Ibu yang balik menatapku. Aku bangkit berdiri.
"Jadi, dimana Lula, Bu? Aku akan.."
Ibu mengibaskan tangannya ke arahku.
"Tidak usah. Dia akan kesini naik taksi."
Aku kembali duduk.
__ADS_1
Hening.
Aku tahu Ibu tahu bahwa kami bertengkar. Aku tahu ia berusaha tidak melontarkan banyak pertanyaan yang sekarang hinggap di benaknya.
"Oke. Ibu mau ke taman, ya." ujar Ibu sambil bangkit berdiri.
"Ehmm.. Aku temani, Bu." ujarku mengekor di belakangnya.
Kini kami berdua sudah berada di taman belakang rumahku. Ada kolam renang juga disini. Biasanya, Lula yang memakainya. Rumah yang sepi ini makin sepi tanpa kehadirannya.
"Ibu sudah makan?" tanyaku.
Ibu mengangguk. Aku melihat jam di tanganku. Pukul delapan tiga puluh malam.
"Bu," panggilku. Ibu menoleh. Ia membetulkan letak syal yang tersampir di lengannya. "Maaf." ujarku lagi. Aku tidak tahu harus mulai darimana. Aku tahu aku telah mengecewakannya. Ibu hanya tersenyum dan menepuk punggungku. Kami menghabiskan waktu dalam diam selama beberapa saat, hingga akhirnya kami mendengar suara mobil di luar. Kami bergegas keluar, dan saat itulah aku melihat Lula. Setelah tujuh hari yang panjang.
Ia terlihat begitu menawan, dengan balutan dress warna kesukaanku, biru tua. Ia terlihat kurus. Apa ia makan teratur? Atau ia hanya makan makanan tidak sehat? Aku menahan diri untuk tidak memeluknya.
"Ibu.." ujarnya. Ia menyalami Ibu dan memeluknya.
"Adrian.." ujarnya saat menatap ke arahku. Aku diam seribu bahasa. Nanti aku akan mencegahnya untuk keluar dari rumah ini. Tak akan kubiarkan ia pergi lagi.
Ibu membimbing Lula masuk. Lula memberikan dua buah bungkusan yang sepertinya untukku dan untuk Ibu. Ia memberikannya pada Tina, ART ku yang tadinya pulang pergi namun sekarang menginap.
Tina membawakan minuman untuk kami yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Jadi, coba bilang sama Ibu. Kalian pisah?" tanya Ibu bak petir di siang bolong.