Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Persamaan


__ADS_3

NATHAN'S POV


Kami berada di rumah sakit. Dokter belum mengizinkan kami untuk melihat kondisi Bu Luna. Lula berusaha meredakan tangisnya, namun sulit. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Kenapa, Tuhan? Kenapa kau biarkan beban di pundaknya teramat berat?


Berjam-jam kami menunggu dan menunggu, hingga akhirnya Dokter Jonathan keluar dari ruangan ICU. Ia dan seorang perawat mempersilahkan kami masuk ke ruang dokter.


"Bagaimana kondisi Mama saya, Dok?" tanya Lula.


Aku menggenggam pundaknya erat, hanya bisa berharap dalam hati.


"Ia sudah melewati masa kritisnya. Namun, yang saya khawatirkan.. situasi ini akan terulang kembali. Kondisi jantung Ibu Luna sudah lumayan mengkhawatirkan. Untuk saat ini, belum ada seorang ahli pun di Indonesia yang bisa melakukan operasi ini dengan tingkat keberhasilan yang memuaskan."


Aku tidak mampu melihat ke arah Lula. Hal ini pasti menghancurkannya. Aku harus berbuat sesuatu.


"Saya akan bayar berapapun, Dok. Datangkan ahli dari negara manapun." ujarku tiba-tiba.


Lula menoleh ke arahku. Ia tampak tidak percaya.


"Apa itu mungkin, Dokter?" tanya Lula.


"Ya, sangat mungkin. Ada seorang dokter terkenal yang sudah sangat ahli di bidang ini. Kasus kelainan jantung yang langka. Namun, ia berada di luar negri." ujar Dokter Jonathan.


"Datangkan dia, Dok. Apa yang kalian butuhkan? Pesawat jet? Saya juga bisa memberikan upah yang sangat besar. Berapapun yang ia minta." ujarku lantang.


Dokter Jonathan tampak berpikir sejenak.


"Baik, Pak, Bu. Saya akan mencoba menghubungi beliau. Semoga ia terbeban untuk membantu Ibu Luna. Kami akan berusaha semaksimal mungkin dan akan mengabari Ibu dan Bapak secepatnya."


.


.


.


AUTHOR'S POV THROWBACK


"Lihat apa yang dikenakan gadis miskin itu!" Bisik seorang anak di kelas sepuluh salah satu SMA Internasional ternama di Jakarta.


"Hahaha.. Kelihatan sekali bahwa dia anak penerima beasiswa.." Sahut seorang gadis lainnya.

__ADS_1


Syena adalah seorang yatim piatu. Ia dibesarkan oleh Neneknya yang sudah tua. Berkat kecerdasannya, Syena berhasil masuk ke SMA paling bergengsi di ibukota lewat jalur beasiswa. Tapi rupanya, semua murid disana sangat membeda-bedakan dan tidak ada yang mau berteman dengannya.


Syena selalu dirundung (dibully) oleh semua murid di SMA itu. Tak jarang, tasnya dilempar, rambutnya dijambak, atau didorong oleh murid-murid lainnya. Biasanya, Syena tidak pernah mengadu pada guru. Ia diancam akan disiksa lebih lagi. Tapi rupanya, hari itu..


Jeanne, gadis paling cantik dan kaya di sekolah itu, masuk ke dalam kelas dalam keadaan mengamuk. Di belakangnya, ada beberapa gadis terkenal lain yang merupakan pengikut setianya. Mereka memang terkenal sebagai tukang bully. Mereka berhasil masuk ke sekolah ini berkat koneksi dan donasi dari orang tua mereka yang kaya raya, sama sekali bukan karena tingkat kecerdasan ataupun jerih payah mereka sendiri.


"Benar-benar gila! Kalian tahu orang tua ku dipanggil ke sekolah karena siapa?!" Jeanne memainkan rambutnya yang panjang dan indah.


"Apakah anak miskin itu?" ujar salah satu gadis.


"Wah, aku tidak percaya!" sahut yang lainnya.


"Dia benar-benar harus diberi pelajaran!" pekik yang lain.


Jeanne mendekati bangku tempat Syena duduk. Ia mendorong bahu Syena.


"Kau tahu siapa orang tuaku?!" teriaknya sangat keras.


Syena hanya bisa menunduk.


"Aku tidak tahu kenapa orang sepertimu diciptakan ke dunia ini. Maksudku, kau sama sekali tidak sebanding dengan kami semua! Benar-benar MENGGELIKAN!" Bentak Jeanne.


"Alasan!" Jeanne sudah bersiap untuk melayangkan tangannya ke arah Syena, tapi tangan seorang anak laki-laki menangkapnya lebih dulu.


Anak laki-laki itu menjatuhkan tangan Jeanne ke bawah, sembari tersenyum miring.


"Kau yang menggelikan." ujar anak laki-laki itu.


"A.. Adrian! Apa katamu?" Jeanne terkejut. Bukan rahasia umum bahwa ia memendam rasa untuk Adrian. Adrian adalah salah satu anak terkaya di sekolah ini. Ayahnya donatur terbesar di sekolah ini. Ibunya juga merupakan sosialita kelas atas. Bahkan Ibu Jeanne juga menyuruh Jeanne untuk mendekati Adrian, agar dapat meningkatkan status sosial keluarga mereka.


"Kau yang menggelikan. Apa kau tuli?" ujar Adrian dingin.


"Apa kau bilang!" Jeanne setengah berteriak.


"Sekali lagi kau dan pengikutmu meletakkan satu jari kalian saja pada siswa-siswi lain, aku sendiri yang akan menarikmu ke ruangan kepala sekolah. Ah tidak, bahkan ke kantor ayahmu. Agar ia dan semua pemegang saham di perusahaannya tahu, seperti apa tingkahmu!"


Adrian pergi meninggalkan kelas itu. Jeanne dan kawanannya hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya bahwa hal seperti itu dapat terjadi pada mereka.


Syena yang mendengar hal itu pun lega. Ia tahu bahwa mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang mengganggunya.

__ADS_1


.


.


.



Syena berjalan menuju lantai paling atas sekolah. Ada sebuah rooftop yang beralaskan rumput disini. Keadaan begitu sepi. Hanya ada suara semilir angin yang meniup pepohonan. Biasanya ia memang selalu sendirian kesini karena ia tidak memiliki teman.


Tiba-tiba ia melihat sesosok punggung pria membelakanginya. Pria itu, sendirian. Pria itu adalah pria yang menolongnya dari Jeanne waktu itu. Adrian.


Syena sekelas dengan Adrian. Hanya saja, mereka tak pernah bicara. Adrian sangat pendiam. Begitu pula Syena. Meskipun begitu, Syena tahu Adrian selalu mendapatkan nilai-nilai bagus. Tak jarang, ia mendapatkan nilai tertinggi kedua di kelas. Peringkat pertama, sudah pasti Syena.


Adrian berbalik ketika mendengar suara asing juga berada di rooftop.


Syena menundukkan kepalanya, tidak ingin terlihat oleh Adrian. Ia bersiap-siap membalikan badan, ketika Adrian menegurnya.


"Apa mereka.. masih mengganggumu?" tanya Adrian.


Jantung Syena berdegup lebih kencang karena ini pertama kalinya ada seseorang di sekolah ini yang menunjukkan sikap bersahabat padanya.


Syena menggeleng, lalu ia berbalik lagi, menghadap Adrian.


"Terima kasih. Tapi.. Apa kamu yang melaporkan Jeanne kepada guru?" tanya Syena hati-hati.


Adrian seperti tampak enggan menjawab. Ia kembali membalikkan badannya, menghadap pemandangan lantai dasar yang menyejukkan matanya.


"Untuk apa.. kamu melakukan itu? Aku hanya seorang anak yatim piatu penerima beasiswa. Untuk selanjutnya, tidak perlu membelaku." Sejujurnya, Syena hanya tidak ingin anak-anak lain membenci Adrian.


"Kita memiliki banyak persamaan dalam hal itu, lebih dari yang kau tahu." ujar Adrian pelan, namun Syena tetap bisa mendengarnya. Ia terkejut sekaligus bingung atas pernyataan Adrian barusan.


Apakah.. ia membohongiku?


Bukankah ia anak terkaya di sekolah ini?


Siapa dia sebenarnya?


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2