Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Emergency lagi


__ADS_3

Lula menatap dirinya di cermin. Ia sudah diperbolehkan pulang. Kepala diplester dan tangannya di perban. Mungkin ia masih belum bisa menyetir. Tadinya Lula berpikir ia bisa naik taksi ke coffee shop tadi pagi untuk mengambil mobilnya. Tapi sekarang ia bingung. Aku akan suruh supir Mama saja untuk ambil mobilku.


Tok tok tok..


Adrian?


"Masuk," ujarku.


Nathan.


"Lula, maaf saya datang lagi.." ujarnya.


Lula tersenyum kecil. "Bapak tidak perlu minta maaf."


"Kamu sudah boleh pulang?" Nathan masuk dan menutup pintu.


Lula mengangguk.


"Saya antar, ya? Kebetulan saya ada di sekitar sini tadi. Jadi, saya pikir kalau kamu belum pulang, kita bisa bareng."


Lula mengangguk.


Di luar ruangannya, supir Nathan sudah menunggu. Ia membawakan barang-barang Lula (hanya buket bunga dan buah dari bosnya).


"Oh ya, mobil kamu.. dimana?" tanya Nathan.


"Di cafe X, Pak.. Tapi saya belum bisa.."


"Gini, sekarang saya minta alamat lengkap rumah kamu. Sekarang juga supir saya antar mobil itu ke rumah kamu. Kamu ikut saya naik mobil saya. Gimana?" Nathan membukakan pintu mobil untuk Lula.


"Tapi.. apa ga ngerepotin, Pak?" tanya Lula sambil masuk ke dalam mobil Nathan. Nathan melindungi kepala Lula.


"Ga sama sekali kok.." Nathan masuk dan duduk di bangku pengemudi.


Lula terdiam sepanjang perjalanan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Adrian.


"La? Kamu di RS PIK? Aku jalan kesana sekarang.." Adrian terdengar panik.


"Aku udah boleh pulang. Aku di jalan mau ke rumah sekarang."


"Kamu sama siapa?"


"Ini.. Bosku. Kamu masih di rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya, aku udah ijin tadi. Aku pulang sekarang." Bip. Telpon dimatikan.


Lula tak sadar ia menitikkan air matanya. Haruskah ia masuk rumah sakit dulu agar suaminya memperhatikannya?


Nathan melihat itu dari sudut matanya. Ia menggenggam tangan Lula dan menggosoknya dengan ibu jarinya.


"Maaf," ujar Lula.


"Untuk apa?"


Lula menggeleng. Tentu saja untuk menangis di hadapan atasan.


"It's okay. Kamu bisa nangis kapan aja di hadapan saya."


Nathan memberhentikan mobilnya di depan rumah Lula. Mobil Lula juga sudah terparkir di tempat yang sama. Supir Nathan tampak menunggu dari kejauhan.


"Terima kasih banyak, Pak.."


"Sama-sama, La. Oh ya, tolong kalau di luar kantor panggil saya nama aja. Jangan pakai pak." ujar Nathan sambil menoleh ke arah Lula.


"Oke, Na.. Nathan.." Lula turun dari mobil.


Adrian dari dalam rumah melihat Lula turun dari mobil Nathan. Adrian setengah berlari menuju Lula. Ia menangkup wajah Lula dengan kedua tangannya. Nathan melihat itu dari dalam mobilnya. Tak berselang lama Nathan pun pergi.


"Are you okay?" Adrian terlihat cemas sambil menangkup wajah Lula.


"Hey, Lula. Kamu kenapa?" tanya Adrian berusaha melepaskan pelukan Lula agar bisa melihat wajah Lula. Tapi Lula menahan. Ia ingin terus seperti ini.


"Kamu masih sakit?" tanya Adrian lagi.


Lula menggeleng.


Adrian membimbing Lula masuk ke dalam rumah.


"Aku ke kamar dulu," ujar Lula pelan.


Lula mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Ia bersiap-siap tidur.


Tok tok.. Pintu diketuk dua kali.


"Lula?" Suara bariton Adrian membuat Lula bangkit dari posisi tidur.


"Ya?" Lula menyelipkan helaian rambut cokelatnya ke belakang telinga.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Adrian.


Lula menggeleng. "Aku tidak nafsu makan,"


Adrian mendekat. Ia duduk di sisi tempat tidur. Ia mulai mengelus kepala Lula. "Kamu pasti takut sekali tadi. Maaf, tidak bisa berada di sampingmu."


Lula tetap diam. Ia merasa sedih. Adrian suaminya, tapi mereka sudah tidak saling mengerti lagi. Semakin lama usia pernikahan mereka, semakin mereka tidak mengenal satu sama lain. Mereka semakin jauh. Ternyata benar. Waktu adalah hal paling berharga yang bisa kita berikan pada orang yang kita cintai.


"Besok kamu cuti?" tanya Adrian lembut. Ia menarik pelan tangan Lula dan mengecupnya.


Lula mengangguk. "Iya, mungkin lusa aku akan kembali bekerja."


"Baiklah. Aku juga akan mengajukan cuti kalau begitu."


"Benarkah?" Kedua mata Lula berbinar.


Adrian menarik tangan Lula lagi dan meletakannya di pipinya sendiri. "Ya. Tentu saja. Ada hal yang ingin kamu lakukan? Atau kamu ingin di rumah saja?"


Lula memeluk Adrian. "Apa saja, sayang. Asal bersamamu." Lula seperti ingin berteriak kegirangan. Ia ingin memberitahu Adrian betapa kesepiannya ia selama ini. Mereka jarang bertukar kata, apalagi melakukan kegiatan bersama. Namun ia menahan diri. Ia tidak ingin semakin menyusahkan Adrian. Adrian lah yang seharusnya paling sedih karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama Lula. Ia harus memberikan seluruh hidupnya pada orang banyak. Setidaknya, begitu pikir Lula.


"Kamu mau makan? Aku temani," kata-kata itu membuat Lula seolah terbang ke langit ketujuh. Adrian makan bersama dengan Lula? Itu adalah sebuah hal yang mustahil.


Lula merengkuh wajah Adrian. Ia mencium bibirnya. Lalu berhenti dan tersenyum. Mencium lagi. Lalu berhenti lagi dan tersenyum. Adrian yang tidak tahan melihat tingkah Lula pun menarik tubuhnya dan membalas ciumannya. Adrian menarik tengkuk Lula agar tidak lagi melepas ciumannya. Kemudian Adrian menarik tali gaun tidur Lula sehingga istrinya itu polos. Ia membaringkan Lula dengan lembut.


"La, tangan dan kepalamu.. Apa gapapa?" tanya Adrian penuh lemah lembut, semakin membuat Lula menggilainya.


"Please do it, love.. Aku mau," jawab Lula diliputi gairah.


Adrian memposisikan kepalanya tepat di atas inti tubuh Lula. Ia memainkan lidahnya. Menghi*** dan memenuhinya dengan liur. Lula melengkungkan tubuhnya. Lula mendesah tiada henti.


"Oh sayang.. Aku cinta kamu Adrian!" Lula menggelinjang seiring ia melakukan pelepasan.


Adrian melepas seluruh pakaiannya. Ia merangkak naik, mencium Lula. Tak berapa lama ia memasukkan intinya ke dalam inti Lula. Adrian tidak berhenti mendesah. "Sayang.." ujarnya penuh cinta sambil menyusuri wajah Lula dengan jari telunjuknya. "Kamu tight banget.." Lula tersenyum mendengar pujian suaminya. Lula memang selama ini tak pernah absen latihan dengan kegel ball.


"Aaaah..." Adrian melepaskan benihnya di dalam Lula. "Kamu enak banget. Thank you, sayang." Adrian mengecup kening Lula. Lula tersenyum. Ini akan menjadi malam yang panjang, batin Lula. Lula baru saja akan mengajak Adrian untuk bersih-bersih lalu mengulanginya lagi dari awal ketika ponsel Adrian berbunyi.


Adrian melepas dirinya dari dalam tubuh Lula, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


"Dari rumah sakit." ujarnya pada Lula.


"Angkat aja," jawab Lula sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Adrian yang masih polos menjawab telponnya. "Halo? Ya.." Adrian menghela nafas berat. "Baik. Saya kesana."

__ADS_1


Lula menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Adrian.


Adrian menghela nafas kasar. Ia membalik tubuhnya, menghadap Lula. "La, aku.." Lula mengangguk-angguk tanda mengerti. Adrian mengecup pipinya singkat dan bergegas ke kamar mandi.


__ADS_2