Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pilih Dia Atau Aku!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk kamar. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kami satu sama lain. Aku mandi dengan cepat dan kemudian bersiap tidur. Aku tidak tahu Adrian dimana, sedang apa, apakah dia di rumah atau pergi lagi. Aku tidak mau tahu. Aku terlalu lelah untuk mencari tahu. Biarlah ia pergi. Aku tidak butuh siapapun. Aku menyentuh perutku yang rata.


Halo sayang.. Cepatlah lahir agar kamu bisa menemani hari-hari Mommy yang sepi..


Aku menghela nafas berat. Sampai kapan aku harus merahasiakan ini dari Adrian?


Tak berapa lama, Adrian masuk kamar.


"Maaf.." ujarnya.


Aku membalik tubuhku yang sedang berbaring di kasur, menghadapnya.


"Buat apa?" tanyaku.


Ia menggaruk pelipisnya sebentar.


Adrian, apa bahkan kamu tahu kesalahanmu?


"Ya.. Aku ga suka aja kita berantem.. Apalagi, kita baru baikan."


Aku membuka lenganku lebar, mengundangnya untuk memelukku. Ia pun melakukannya. Aku bisa mencium aroma musk dari parfumnya yang wangi.


Apa aku akan terus membiarkan Adrian tidak mengetahui kesalahan-kesalahannya? Aku tahu aku juga jauh dari sempurna. Tapi apakah aku harus terus mengabaikan semua ini seolah-olah tidak ada yang salah dari cara berkomunikasi kami?


.


.


.


Minggu itu berlalu dengan cepat. Tak terasa kandunganku sudah memasuki usia enam minggu. Hubunganku dan Adrian semakin harmonis. Aku sengaja menjaganya tetap begitu, karena aku akan memberitahu hal yang pasti mengejutkannya. Ia harus tahu, cepat atau lambat. Aku mual hampir setiap pagi. Mungkin ia juga khawatir padaku, jadi ia selalu bersikap baik padaku. Ia masih memaksaku untuk ke dokter.


Malam itu, aku menunggunya pulang kerja. Aku memutuskan untuk memasak lasagna.


Aku makan duluan karena Adrian tak kunjung pulang. Aku sedang mencuci peralatan masak ketika ia pulang, kira-kira saat itu jam sembilan malam.


Aku menyambutnya.


"Mau makan?" tanyaku.


Ia mengecup pipiku.


"Mandi dulu sebentar.." ujarnya. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangan lalu melepasnya. Ia pergi mandi.


Tak lama kemudian, ia kembali dengan pakaian santai dan rambut sudah basah habis keramas.


"Kamu yang masak?" tanyanya.


Aku mengangguk. Aku mengambilkan makanan untuknya.


Ia memakan lasagna yang ku buat dengan lahap.


"Kamu udah makan?" tanyanya sambil mengunyah. Aku senang melihatnya lahap begini. Pasti ia lelah.


"Udah, barusan.." ujarku.


Aku sengaja menunggunya hingga selesai makan. Aku mengambilkannya air minum dan kembali duduk di sebelahnya.


Ia telah menghabiskan piring keduanya ketika aku akhirnya memberanikan diriku.


"Adrian.. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan.." ujarku pelan.

__ADS_1


"Apa? Bilang aja.." jawabnya santai.


Aku memainkan jari-jariku di bawah meja, bingung harus mulai darimana.


"Bilang aja, sayang.. Apa? Kamu marah karena aku pulang malam terus?" ia mengusap tanganku lembut.


"Bukan itu.." ujarku. Aku sudah tidak pernah memikirkan lagi tentang dia yang sibuk.


"Terus?" Ia membalik tubuhku agar menghadapnya.


"Aku.. Aku hamil." ujarku.


.


.


.


Ia mematung selama dua detik. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya yang tadinya berada di pundakku.


"What?" Ia tampak.. begitu terkejut.


Ia bangkit berdiri, masih menatapku, kemudian menatap perutku.


"Kamu yakin? Kamu tau darimana?" tanyanya cepat.


Aku mengangguk. "Ya, aku dan Ibu udah ke dokter kandungan.. Kalau kamu mau lihat hasil USG nya.." Aku bangkit berdiri, hendak ke kamar untuk memperlihatkan Adrian.


"F*ck.. F*ck.." Ia berjalan mondar mandir menjambak rambutnya.


"Siapa peduli soal kertas itu, hah?" Ia menarik tanganku kasar.


Aku terkejut. Aku baru menyadari yang kulihat daritadi bukannya keterkejutan, tapi kemarahan.


Ia melepaskan tanganku kasar.


"Iya tapi.."


Ia mulai berjalan mundar-mandir, seperti berpikir, atau malah kesetanan.


"Mana pil KB kamu?!" Ia membentakku dan terengah-engah.


"Kamu inget ga waktu aku dijambret itu.." ujarku takut-takut.


Ia menepuk keningnya seperti menyesali sesuatu.


"Maaf, Adrian.. Tapi ini semua sudah terjadi.." Aku berusaha menenangkannya.


"Kamu kok bisa ceroboh seperti ini! Berapa bulan?" Ia menggeram marah.


"Ehmm.. Enam minggu." jawabku sambil menebak raut wajahnya. Aku masih sangat syok melihatnya panik begini.


"Oke. Masih belum terlambat." ujarnya sambil menatapku sendu.


"Apa?" kataku. Aku reflek menyentuh perutku dengan kedua tangan, berusaha melindungi anak yang ada di dalam kandunganku.


"Apa kamu bilang?" kataku lagi.


Ia tak menjawab. Ia hanya memukul tangannya ke udara kesal.


"Aku tidak akan menggugurkan anak kita!" pekikku.

__ADS_1


Bulir air mata jatuh membasahi wajahku.


Ia menatapku frustasi.


Kemudian yang tak kusangka-sangka dari mulutnya..


"Pilih dia atau aku!" bentaknya.


"Apa?" tanyaku retoris.


"Jawab!" Ia mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku merasa kesakitan dan berusaha melepaskan diri darinya.


"Oke. Aku sudah tahu apa jawaban kamu." ujarnya tanpa menatapku. Ia pergi ke kamar, meninggalkanku.


Kenyataan menghantamku. Ia tidak ingin anak ini. Sedangkan aku? Aku akan mempertahankan anak ini apapun yang terjadi, meskipun ayahnya sendiri tak menginginkannya.


Brakk..


Pintu kamar dibuka dan ditutup dengan cara dibanting. Adrian memakai kemeja dan celana panjang. Ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar rumah. Dari jendela, kutatap nanar mobilnya yang meninggalkan rumah kami.


Jadi.. Begitu sajakah? Ia marah karena ini? Disaat berjuta-juta manusia di seluruh bumi memohon dan meminta buah hati, haruskah kami menolaknya? Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Sebegitu bencinya ia pada anak-anak?


.


.


.


Tok tok tok..


Aku membuka mata dan menatap jam di dinding kamar. Jam dua pagi. Aku bergegas keluar. Pasti itu Adrian.


Aku membuka pintu.


Adrian.


Ia tampak setengah sadar. Bau alkohol menguar dari tubuhnya.


"Ayo, aku bantu.." Aku memapahnya hingga ke kamar tamu di lantai satu. Aku tidak kuat membawanya ke kamar kami di lantai dua.


Sesampainya di kamar, aku melepas sepatunya dan pakaiannya. Aku membantunya memakai pakaian tidur.


"Kamu minum?" tanyaku retoris.


"Lula.." racaunya tidak jelas. "Jangan.. pernah kamu.. tinggalin aku." racaunya lagi.


Aku mengangguk, meskipun ia tak melihatku dalam gelap. Aku menyelimutinya, mengelus pipinya.


Tiba-tiba aku melihat ada sesuatu yang bersinar di atas nakas.


Ponsel Adrian.


Tampaknya ada pesan masuk. Aku melihat layar ponselnya.


Dari Syena.


Kamu sudah di rumah?


DEG


Jantungku berdegup tak karuan. Jadi tadi ia pergi menemui Syena? Hatiku sakit. Sakit sekali. Kenapa? Kenapa dari sekian banyak manusia yang kamu kenal, kamu memilih dia? Kamu benci alkohol karena itu mengingatkanmu pada ibumu, tapi tampaknya kamu lebih membenci bayi ini.

__ADS_1


Aku kembali ke kamarku dan menangis dalam hening.


__ADS_2