
Tiba hari dimana Prabu Surasesa harus meninggalkan Perguruan Rajawali Putih yang dikawal oleh Maheswara dan Sudawira.
Mereka memacu kudanya meninggalkan perguruan terlihat disepanjang jalan para murid-murid melambaikan kan tangan mengucapkan selamat tinggal.
Sudawira pun melambaikan tangannya dan ketika terlihat seorang gadis berkaca-kaca melambaikan tangan nya ke Sudawira, ia tersenyum dan memacu kudanya meninggalkan Perguruan itu.
Beberapa sat kemudian mereka telah meninggalkan lereng gunung Lawu dan mulai memasuki perkampungan-perkampungan.
Mereka telah beberapa hari mereka menuruni bukit melewati sungai singgah dari kampung ke kampung desa ke desa mereka sampai perkampungan Neglasari.
Ketiga kuda mereka berhenti disebuah kedai. Demikianlah, mereka pun kemudian masuk ke sebuah kedai yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Kedai yang cukup bersih dan cukup banyak dikunjungi orang.
Mereka masuk ruang yang memang agak luas dan duduk di-sebuah lincak bambu.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita datang untuk menanyakan apakah yang dipesan.
Setelah mereka memesan pelayanan itu pergi untuk menyampaikan pesanan.
Sesaat belum ada obrolan diantara mereka.
Beberapa orang sedang berbincang terdengar katanya, "Aku bingung dengan kebijakan pemerintah sekarang" tanya nyah.
"Apanya yang bingung" jawab kawannya.
"Prabu Kamndaka telah menerapkan kebijakan-kebijakan yang tida seseui dengan keinginan rakyat" jawabnya.
"Ya aku juga bingung tapi kita harus gimna lagi" katanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian pelayan membawakan pesanan makanan. Mereka makan dengan lahap karena beberapa hari sebelumnya mereka selalu istirahat di hutan, sehingga mereka hanya bisa makan seaadanya.
*******
Seseorang masuk kedalam ruangan.
"Cepat katakan ada berita apa yang kamu bawa," Seorang berkata dari atas singgasana yang tak Lain Prabu Kamandaka.
Prajurit itu pun menyampaikan semua berita yang dibawanya.
"Jadi benar, mereka sudah mulai bergerak," Prabu Kamandaka menggertakkan giginya.
"Benar Yang Mulia" jawab prajurit itu.
" Dan ada yang tidak kalah penting Yang Mulia" Prajurit berkata pula.
"Bahwa beberapa orang telah melihat Prabu Surasesa"katanya.
Prabu Kamandaka menggeram marah "Pergilah terimakasih dan terus cari informasi" Katanya.
Prajurit itu pun meninggalkan ruangan.
Seorang memegang senjata Tombak bertubuh sedang, di wajahnya terdapat tiga gores bekas luka dia bernama Tong Bajil Pendekar Tombak pencabut nyawa, ia berkata katanya, "Jangan khawatir Yang Mulia aku akan membereskan nya"
" Apa rencana tuan pendekar" Parabu Kamandaka menatap Orang tua itu.
"Kita akan menangkap nya hidup atau mati" Tong Bajil mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
Seseorang berambut putih memakai jubah hijau berkata, "Aku setuju ya mulia"
Prabu Kamandaka menatap seluruh pendekar golongan hitam berkata "Apa ada yang tidak setuju ?"
Semua yang hadir menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah sekarang aku perintahkan lalin untuk menangkap Prabu Surasesa hidup atau mati!" Katanya lantang.
Semua Pendekar pergi meninggalkan ruang pertemuan.
Seseorang berkata kepada Prabu Kamandaka. katanya, "Kita harus segera menyingkir kan Prabu Surasesa"
"Iya aku tidak akan tenang kalau dia masih bernafas Patih" jawabnya.
"Kita harus lebih cepat dari para pendekar itu" Patih Adikara.
" Diluar sana masih banyak para pengikutnya diantaranya Patih Ajidarma , Senopati Lingga mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh"
"Jadi apa yang akan tuan rencanakan?"
Patih Adikara berbisik.
"Apa yang mulia menyetujui?"katanya.
"Bagus aku setuju cepat laksanakan!"
"Titah Yang Mulia akan segera dilaksanakan" jawab Patih Adikara.
__ADS_1