Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Bukit Agung 2


__ADS_3

Ketika Sudawira akan kembali naik ke punggung kudanya tiba-tiba pria paruh baya itu berkata"Apa tuan pendekar yakin mau ke bukit itu?"


Sudawira kembali membalikkan badannya penasaran dengan pertanyaan pria paruh baya tersebut.


"Yakin paman, tapi jika boleh aku tahu kenapa paman menanyakan pertanyaan itu" Tanya Sudawira.


"Sebaiknya urungkan niat tuan" Dia menghentikan ucapannya ketika istrinya memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya meminta suaminya supaya tidak melanjutkannya.


Sudawira yang bertambah penasaran "Ada apa dibukit itu paman?"


Tapi sepasang suami istri itu tidak bicara malahan saling pandang satu sama lain.


"Maap paman jika kalian tidak ingin mengatakannya, Tapi aku akan tetap kesana" Sudawira naik ke punggung kuda dan memacunya menyusuri jalan menuju bukit Agung.


Sepasang suami istri masih bengong menatap pemuda yang pergi dan hilang dibalik hutan.


"Semoga dia selamat"Gumam pria paruh baya dan melanjutkan pekerjaannya.


Sudawira menyusuri hutan perjalanannya sedikit sulit karena harus melewati jalan yang terjal dan licin.Pohon-pohon besar dengan daun-daunan yang berhasil menutupi hutan sehingga menjadikan permukaan tanah menjadi lembab. Dia harus berhati-hati memacu kudanya karena kalau salah kudanya akan terjatuh.

__ADS_1


Setelah bersusah payah akhirnya Sudawira sampai, dihadapannya berdiri sebuah perbukitan. Namun dirinya merasakan ada sebuah kekuatan yang terpancar dari bukit tersebut.


Sudawira turun dari kudanya dan mengingatkan pada batang pohon. Dia maju satu langkah tiba-tiba ada aura yang menarik tubuhnya sangat kuat sehingga dirinya masuk.


Sudawira perlahan membuka matanya dia tersadar sudah berada dalam sebuah kamar, Ia menatap langit-langit lalu melirik ke sekelilingnya bilik-bilik terbuat dari pohon bambu yang dianyam rapih.


"Kami sudah sadar Wira?" Pria paruh baya bertanya.


Sudawira menatap seluruh tubuh pria paruh baya dihadapannya dia teringat dengan pria paruh baya dipondok tengah hutan tempo hari.


Namun yang membedakannya pria paruh baya ini memakai pakaian yang sangat bersih yang sangat mahal tidak sama seperti pria paruh baya yang tempo hari.


"Aku baik-baik saja, jawab Sudawira, "Apa paman Ki Wanajara tempo hari?"


"Syukurlah, Tapi dimana aku paman dan kenapa aku bisa bertemu dengan paman?


Ki Wanajara tertawa sedikit, "Hehehe, Kamu berada di kediamanku dibukit Agung"


Sudawira hanya menarik nafas masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan namun menyimpan nya karena kondisi tubuhnya yang masih lemas.

__ADS_1


Di atas perbukitan dibawah malam langit tanpa bintang dua orang sedang terlibat dalam percakapan.


"Bagaimana keadaanmu Wira" Sahut seorang pria sepuh pemilik nama Ki Wanajara.


"Aku merasa lebih baik dari sebelumnya, Paman"


"Bagus, itu artinya tengamu telah pulih kembali"


Sudawira seperti ingin berkata-kata namun mengurungkan niatnya.


Melihat ekspresi Sudawira, Ki Wanajara segera berkata "Adakah yang ingin kamu katakan, Wira? Tanyanya.


"Sebenarnya, Banyak pertanyaan yang terus hadir dalam benakku, Aku merasakan ada sesuatu yang menarik seluruh tubuh ketika aku akan masuk ke perbukitan ini"


Ki Wanajara tampak tersenyum "Baiklah, Sebenarnya Bukit Agung ini, telah dipagari oleh rajah gaib"


"Rajah gaib" Sudawira mengkerutkan dahinya.


"Benar, Rajah untuk melindungi bukit ini, sebenernya tidak ada yang bisa menembus pagar gaib ini, tetapi sesuatu yang ada didalam tubuhmu telah memicunya menarik dirimu"

__ADS_1


Sudawira tampak berfikir apa bukit ini sangat penting sehingga harus dipagari rajah gaib.


Maka karena didesak rasa penasaran dia memberanikan "Apa alasan bukit ini sehingga harus dilindungi?"


__ADS_2