
"Apakah dua hal tersebut telah muncul?" tanya Lasmini penasaran.
"Belum! namun segera akan menampakkan diri! Satria memiliki tanda bulan bintang di dadanya. Maka, eyang guru meyakini bahwa pendekar bulan bintang itu tidak lain adalah Satria, anak yang kita temukan 15 tahun silam di hutan seribu bunga."
"Jadi-"
"Anak itu adalah anak yang diceritakan eyang guru!"
"Lantas apa isi pesan dari eyang guru?" tanya Lasmini.
"Eyang guru berusah menyembunyikan tanda lahir yang dimiliki Satria. Sehingga tanda lahir tersebut hanya muncul setiap bulan purnama saja. Namun, kini seiring dengan bertambahnya usia tanda lahir tersebut tidak dapat lagi di segel! Eyang guru khawatir keberadaan Satria akan segera di ketahui oleh para pendekar dunia persilatan. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkannya untuk mencapai tujuan mereka"
****
Sementara itu di salahsatu perguruan aliran hitam sedang terjadi pertemuan.
"Kita harus segera menentukan sikap!"
"Benar guru ... apalagi kita akan mendapatkan banyak keuntungan jika kita ikut beraliansi dengan tuan Ajisaka!" tegas Badrawa menanggapi perkataan gurunya. Ki Gunturbumi.
"Hahahaha ... aku yakin kesempatan untuk menguasai dunia persilatan akan semakin terbuka lebar," ujar Ki Gunturbumi diiringi tertawa lepas.
"Lantas siapa yang akan guru utus untuk menghadiri undangan tuan Ajisaka?" tanya Badrawa.
"Aku sendiri! Aku perintahkan selama aku tiada perguruan lereng api dipegang oleh Badrawa!" tegas Ki Gunturbumi.
Secara spontan semua murid perguruan menundukkan kepala. "Perintah akan kami laksanakan!"
__ADS_1
****
Nampak suatu pasukan sedang mengepung sebuah perguruan aliran putih. Perguruan tersebut bernama Perguruan Atas angin.
Terdengar teriakan seorang pria yang memiliki tubuh kekar serta mempunyai wajah sangar, "Surapati! cepat keluar!"
Mendengar teriakkan yang terdengar hampir keseluruh penjuru perguruan membuat seluruh murid perguruan berhamburan menuju arah suara itu.
"Kurang ajar ... Lancang sekali kamu datang keperguruan kami!" Seseorang pemuda loncat dan berdiri menghadap Kuntoaji pemimpin pasukan.
"Mana gurumu? aku memiliki salam dari tuan Ajisaka!" tegas Kuntoaji
Cuiiihhh cuihhhh cuihhhh
"Tidak pantas bagi guru kami bertemu dengan orang-orang pemberontak seperti kalian!" Sadewa dengan suara meninggi.
"Setan alas! berani kau menghina kami bocah! akan aku robek mulutmu! Hancurkan perguruan atas angin!" teriak Kuntoaji memberikan perintah kepada seluruh pasukannya.
Pertempuran tidak dapat lagi ditahan karena memang kedua belah pihak sudah siap maka ketika ada perintah untuk melakukan serangan tanpa basa-basi mereka langsung menyerang.
Trang .... trang ...
Suara logam-logam beradu ditambah suara jeritan orang-orang yang tumbang maka tidak membutuhkan waktu yang lama perguruan atas angin sudah berubah menjadi lautan darah.
Sadewa menggemgam erat pedangnya untuk menahan senjata tombak milik Kuntoaji.
Hiattt ... hiattt
__ADS_1
Trang ... tranggg
Keduanya sama-sama memiliki gerakan yang sama cepat.
"Tidak kusangka kau sampai detik ini masih mampu menaha serangan senjata andalanku!" ujar Kunto aji tanpa kendor melakukan serangan.
"Baru kali ini aku menghadapi musuh yang kuat!" desus Sadewa. "Hahahaha kenapa kamu takut?"
"Cuihhhhhh ... jangan sombong anak muda! Aku masih menyimpan sebagian kemampuan terbaik ku!" tegas Kuntoaji.
Kuntoaji tidak mau berbasa-basi lagi dia mempercepat serangannya.
"Rasakan ini! hiattt."
Sadewa segera mundur kerena baju bagian dadanya robek.
Dia meraba dan merasakan luka sayatan yang terasa perih. "Kecepatannya aku tidak mampu menebak," gumamnya dalam hati.
"Hahahaha apa kamu takut!" Kuntoaji tertawa penuh kemenangan.
"Pantang bagi murid perguruan atas angin untuk menyerah!" Sadewa loncat menyerang menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya.
"Berani juga kau!"
Hiattttt ... hiatttt
Keduanya kembali bertarung namun sudah nampak terlihat perbedaan kemampuan dari mereka. Kuntoaji dengan gagah perkasa menyerang dengan buasnya seperti seekor harimau memangsa buruannya.
__ADS_1
Ahhhh ... ahhhh ... ahhhh
Terdengar Sadewa menjerit ketika sebuah tombak menghujam dadanya.