
"Mari Paman" Sudawira mempersilahkan.
"Terimakasih anak muda"Terucap dari bibirnya yang menggigil.
Pria paruh baya tersebut masuk mengikuti Sudawira.
Dia segera membuka bajunya dan menjemur nya diatas perapian dia duduk sambil mengeringkan tubuhnya yang kedinginan.
Setelah dirasa ia tidak kedinginan ia beranjak dan duduk disamping Sudawira.
"Terimakasih kisanak, karena sampean telah mengijinkan aku berteduh, kalau tidak aku bisa mati kedinginan" Ucap pria paruh baya itu.
"Sudah lah paman, lagi pula pondok ini bukan milikku, aku juga kebetulan lewat" Jawab Sudawira.
Sudawira tersenyum memandangi pria tersebut, ia menggunakan ilmu Desandria nya untuk mengukur kekuatan pria dihadapannya namu dia tidak melihat tanda-tanda bahkan pria paruh baya itu tidak memiliki tenaga dalam.
Berbeda dengan pria paruh baya dia melihat tubuh Sudawira yang dilindungi cahaya biru."Tubuh kesatria suci telah muncul"Gumamnya dalam hati.
"Namaku Ki Wanaraja, lantas siapa namamu tuan muda?" Ki Wanaraja memperkenalkan dirinya.
"Namaku Sudawira paman bisa memanggilku Wira"Jawab Sudawira.
__ADS_1
"Lantas kemana tujuan mu Wira" Tanya Ki Wanaraja.
"Aku seorang pengelana paman, Aku tidak memiliki arah tujuan pasti"sahut Sudawira.
"Ohhhhh" Ki Wanaraja manggut-manggut.
"Gini kalau kamu tidak keberatan tidak jauh dari sini ada sebuah bukit bernama bukit Gunung Agung, pergilah kesana karena disana ada tempat yang bisa dijadikan untuk memperdalam ilmu Kanuragan" Ucap Ki Wanaraja.
Sudawira kaget darimana pria tersebut tau dirinya sedang memperdalam ilmu kanuragaan. Maka dari itu ia terlihat ragu untuk menjawab.
Melihat keraguan diwajah Sudawira lantai Ki Wanaraja segera berkata.
Sudawira segera meningkatkan kewaspadaannya dia menyadari orang dihadapannya bukan orang yang sembarangan dia bisa menyembunyikan kekuatannya.
"Dengar Wira tidak sulit bagiku mengambil kitab itu darimu"
Ki Wanajara mengeluarkan kekuatan menekan Sudawira.
Sudawira kaget seluruh tubuhnya kaku tidak bisa bergerak seperti ada yang mengunci tubuhnya.
"Siapa sebenarnya kisanak, apa yang kisanak rencanakan?"
__ADS_1
"Dengar Wira aku tidak punya banyak waktu, cepat pergi ke bukit Agung dan perdalam ilmu kanuragan mu, karena kekuatan kegelapan sudah muncul" Ucap Ki Wanaraja suaranya menggelegar bagaikan sambaran petir.
Kemudian orang yang menamakan Ki Wanaraja tersebut menghilang menjadi butiran-butiran cahaya kuning.
Sudawira menga-nga mulutnya terkunci.
Dia membuka matanya mengucek kedua bola matanya, "Hanya mimpi" Gumamnya.
Namun Sudawira merenungkan kembali kejadian barusan ia menoleh ke sampingnya dirabanya bekas tempat duduk Ki Wanaraja. Namun terasa masih hangat bekas seorang duduk. Sudawira pun yakin barusan bukan lah sebuah mimpi, "Apa boleh buat aku akan mengikuti petunjuk itu" Gumamnya dalam hati.
Sudawira bangkit setelah hujan telah reda ia mengintip dari sela-sela bilik pondok tampak hujan sudah tidak turun lagi namun waktu sudah memasuki malam. Ia akan bermalam dipondok itu dan besok akan pergi ke bukit agung tersebut.
Langkah kaki kuda berhenti dipinggir ladang tepat sepasang suami istri sedang bercocok tanam.
Sudawira turun dari kudanya ia menyapa dengan ramah, "Maap paman, Apa Bukit Agung masih jauh dari sini?"
Sepasang suami isteri yang memang sudah melihat pemuda dihadapannya seorang pendekar karena pedang dipunggungnya.
Dengan sangat hati-hati menunjuk sebuah perbukitan disebelah selatan, " Disana tuan, Dengan hanya menggunakan kuda tuan akan sampai tidak sampai setengah hari"Kata Pria paruh baya.
"Ohhh, Terimakasih kasih paman" Sudawira membungkukkan badan memberi hormat.
__ADS_1