
Di ruangan pertemuan sudah hadir Prabu Surasesa dan para senopati, Patih Ajidarma,Sudawira, pendekar teratai putih pula turut hadir pada pertemuan penting tersebut.
Semua orang manggut-manggut mendengarkan rencana dari Patih Ajidarma.
Mereka pun turut memberikan pendapatnya masing-masing.
*****
Prabu Kamandaka duduk di singgasananya.
Dihadapannya terlihat beberapa pejabat kerajaan.
"Gumbirang" Ucap Prabu Kamandaka pada salah satu senopatinya.
"Hamba Yang Mulia" Jawab seorang pria masa muda terlihat seorang prajurit sehingga perawakannya yang berotot.
"Bagaimana kabar prajurit yang dikirim untuk mencari persembunyian Prabu Surasesa?" Tanya Prabu Kamandaka.
"Maap Yang Mulia mereka belum kembali dan tliksandi juga tida berhasil menemukan tempat persembunyian mereka" Sahut Gumbirang.
Prabu Kamandaka menggeram tidak habis pikir Prabu Surasesa bisa menghilang bak ditelan bumi. Dia bahkan tidak mampu menangkap antek-anteknya. Karena itu pula menyebabkan drinya belum merasakan ketenangan dia selalu dibayangi perasaan takut, takut mereka menyerang secara tiba-tiba.
"Aku ingin perketat pengamanan jangan sampai lengah aku takut mereka akan menyerang secara tiba-tiba" Sahutnya.
Gumbirang menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia" jawabnya.
Prabu Kamandaka segera beranjak dari singgasana dan meninggalkan aula pertemuan semua orang berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat.
*****
Prabu Surasesa berdiri didepan semua prajurit dengan suara lantang ia berkata, "Hari ini kita akan mengawali perjuangan yang kita tunggu-tunggu selama ini, Aku menginginkan semua nya berjuang dengan sungguh-sungguh karena ini adalah untuk mengambil hak kita kembali dan ingat lebih baik mati sebagai seorang pejuang daripada berdiam diri seperti pecundang"
Kata demi kata keluar seperti api yang membakar semangat juang para prajurit dengan suara serempak mereka berteriak terdengar "Hidup Prabu Surasesa, Hidup Kerajaan Ramapala".
Senopati Lingga segera menginstruksikan para semua prajurit segera memisahkan diri menjadi beberapa kelompok yang memang sudah diatur sebelumnya.
****
Yudana berjalan mondar-mandir terlihat gelisah.
"Masuk" Sahutnya.
Tidak lama seseorang masuk dan memberi hormat.
"Bagaimana?" Tanya Yudana.
"Semua telah bergerak lewat hutan larangan sebelah timur" jawabnya.
"Bagus malam ini akan menjadi malam menentukan bagi rakyat Ramapala, Aku ingin kamu segera perintahkan para prajurit Awan Putih segera mendekati istana dan menunggu perintah"
__ADS_1
Prajurit tersebut menganggukan kepalanya dan meninggalkan Yudana.
****
Prabu Kamandaka duduk bersama Dewi Utari yang memijit-mijit badannya. Sambil melihat ikan-ikan bekejaran dikolam yang dipenuhi bunga teratai.
"Apakah kanda sedang memikirkan sesuatu?" Ucap Dewi Utari melihat Prabu Kamandaka seperti sedang gelisah.
Prabu Kamandaka memang merasakan akhir-akhir ini perasaan dihantui kegelisahan. Namun ia tidak mengatakan kegelisahan nya kepada permaisurinya
"Ahhh tidak ada apa-apa Dinda" jawabnya.
Dewi Utari mendekat dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Prabu Kamandaka.
"Aku harap selamanya kita akan seperti ini kakang" lirihnya.
Prabu Kamandaka mengelus rambut Dewi Utari terdengar, "Tentu Dinda" ucapnya.
Tidak bisa di pungkiri perasaan cemas selalu ada dalam pikirannya, bukan tanpa alasan Prabu Surasesa yang masih hidup bisa saja menyerang kapan saja. Namun ia masih sedikit tenang karena ada beberapa orang yang menjadi bentengnya.
Tiba-tiba seorang dayang datang dan berlutut.
"Ada apa?" Tanya Prabu Kamandaka.
"Anu Yang Mulia, ada prajurit yang ingin menghadap" Dengan gugup dayang tersebut mengatakan maksudnya.
__ADS_1
"Persilahkan dia masuk"
Dayang tersebut segera meninggalkan tidak lama kemudian seorang prajurit datang menghadap dan berlutut.