Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Kelompok Pemuja Surga Dunia Menarik Diri Dari Pertempuran


__ADS_3

Kemunculan pasukan bantuan dari aliansi pendekar aliran putih telah berhasil mengembalikan keadaan membuat pasukan kelompok Pemuja Surga Dunia menjadi terdesak.


Gurdata segera merapalkan ajian seketika tubuhnya diselimuti asap putih membuat seluruh tubuh dilahap asapa putih.


Tidak lama terdengar suara melengking memenuhi tempat pertempuran. Ternyata suara itu merupakan tanda dari Gurdata untuk segera melarikan diri benar saja setelah suara itu berhenti semua pasukan pihak musuh melesat pergi melarikan diri.


Patih Ajidarma menghela napas setelah melihat Gurdata telah lenyap dihadapannya.


Seseorang yang memakai topeng perak menghampiri dan memberi hormat.


"Maapkan keterlambatan saya kanjeng Patih!"


Patih Ajidarma menoleh sambil tersenyum ramah. "Kami sangat berterimakasih kepada para pendekar aliran putih yang telah mengulurkan bantuan!" ucap Patih Ajidarma.


"Sebaiknya kita kembali ke Kadipaten!" Adipati Abiyasa menimpali percakapan ayahnya.


Patih Ajidarma menganggukan kepala menyetujui. Adipati Abiyasa segera memerintah pasukan segera membersihkan tempat yang berserakan mayat-mayat yang sudah gugur dari pasukannya maupun pasukan pihak musuh.

__ADS_1


Beberapa pasukan bahu-membahu untuk mengumpulkan mayat-mayat. Mereka memisahkannya pasukan kadipaten segera dibawa ke kadipaten sedangkan pasukan musuh dikumpulkan untuk dibakar.


****


Hari yang cerah karena matahari menumpahkan sinarnya keseluruh penjuru bumi.


Di salah satu desa Tanjungsari yang berada dibawah kekuasaan kadipaten Bumiayu. Desa itu terlihat ramai sebagian orang bekerja sesuai pekerjaan mereka masing-masing. Di dalam sebuah rumah makan terlihat para pengunjung begitu ramai menandakan rumah makan itu sangat diminati. Memang cukup beralasan tempatnya bersih dan nyaman membuat semua pengunjung betah.


Kabar pertempuran Di Kadipaten Majapada cepat tersebar luas, menjadi perbincangan hangat semua orang. Di dalam rumah makan itu juga nampak beberapa orang sedang membicarakan berita hangat itu.


"Apanya yang sayang Karyo?" tanya kawanya kepada orang yang bernama Karyo tersebut.


Karyo menoleh kawannya memasang wajah serius. "Apa kamu belum mengetahui pertempuran di kadipaten Majapada!"


"Tentunya aku mengetahuinya!" tegas kawannya.


"Kelompok itu benar-benar ingin menguasai negeri ini!" ujar temannya yang lain.

__ADS_1


"Hussst, kamu jangan bicara sembarangan! Kalau anggota mereka berada disini mati kau!" Karyo memperingati kawan-kawannya.


Mereka juga baru sadar membahas sesuatu yang bisa nyawa mereka melayang. Mereka segera berlari ke percakapan yang lain.


Tanpa sepengetahuan ternyata ada yang menguping percakapan mereka, yaitu seorang pemuda memakai caping tengah duduk menikmati minuman tuak di sudut rumah makan. Pemuda itu mengernyitkan keningnya ketika mendengar kelompok yang didengarnya. "Sungguh negeri ini telah banyak berubah. Aku rasa kelompok itu sangat ditakuti semua orang!" batin pemuda itu, sambil meminum tuak.


Tiba-tiba muncul dua laki-laki berpakaian serba kuning. Tubuhnya besar, tinggi, kekar serta berotot kumis serta jenggot yang tebal membuat wajah mereka tambah angker. Keduanya terlihat seorang pendekar karena sebilah pedang dipunggung.


Keduanya menghampiri pemilik rumah makan yang ketakutan agaknya pemilik rumah makan tersebut telah mengenal dua pendekar itu.


"Kamu sudah mengerti maksud kedatangan kami berdua!" bentak salah satu dari mereka.


Pemilik rumah makan dengan gemetar meminta pelayan untuk segera mengambil yang diminta oleh dua pendekar itu. Tidak lama pelayan datang dengan membawa satu kantong uang. Kemudian pemilik rumah makan segera memberikan kantong itu kepada dua pendekar.


Dengan wajah berbinar-binar dua pendekar tertawa. "Bagus, sepertinya nyawamu masih tertolong sampai hari ini!" Kedua pendekar itu pergi setelah menerima apa yang diinginkannya.


Pemilik rumah makan hanya menghela napas setelah penghasilannya harus diserahkan kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2