Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Misi Penyelamatan


__ADS_3

Langkah rombongan Ki Sapto Aji terhenti manakala aura bertarung yang pekat membuat mereka tertahan.


Sudawira melayang dan mendarat didepan mereka. Aura bertarung itu keluar dari pemuda itu. Sudawira menarik aura bertarung nya. Sehingga mereka bisa bergerak lagi.


"Ada apa kenapa kalian berhenti?" Ki Sapto Aji menjulurkan kepalanya keluar.


"Ada yang menghadang jalan kita ketua." ujar Si Burma yang ketakutan karena dia mengenal pemuda itu.


Ki Sapto Aji keluar dari kereta kuda. Dia menatap tajam Sudawira. "Siapa Kisanak apa kita punya masalah?"


"Tidak sama sekali," jawab Sudawira sekenanya.


"Jika tidak punya masalah kenapa kisanak menghadang kami?" tanya Ki Sapto Aji curiga.


"Aku menginginkan gadis yang kalian bawa!" Sudawira menunjuk salah satu kereta kuda.


Ki Sapto Aji melotot dia memberi tanda. "Bunuh dia!"


Sontak seluruh anak buahnya melesat mengepung Sudawira. Pertarungan pun tak terelakkan Sudawira mendapatkan serangan dari segala arah. Namun sayang layaknya seekor serigala berada dikepungan sebuah domba. Sudawira mengunakan Jurus Tapak Matahari dengan leluasa. Hanya puluhan gerakan dia telah membinasakan setengah anak buah Ki Sapto Aji dengan luka gosong.

__ADS_1


Ki Sapto Aji menggeram marah dia segera melesat menyerang. Namun seseorang telah berdiri menghadangnya.


"Aku lawan mu!" Ki Suroto menyerang.


Pertarungan keduanya tak terelakkan lagi. Keduanya bertarung sengit setelah melakukan puluhan pertukaran jurus terlihat Ki Sapto Aji lebih menguasai pertarungan. Karena memang Ki Sapto Aji berada satu tingkat diatas kemampuan Ki Suroto.


Di sisi lain Sudawira telah menghabisi semua anak buah Ki Sapto Aji tanpa tersisa. Ia segera ke kereta untuk mencari Dewi Manik.


Ki Suroto yang mulai kelelahan memberikan celah kepada lawannya pada saat pedang Ki Sapto Aji menebas leher.


Akhhh ...


"Kau ... kau ..." Dia menatap Sudawira penuh benci. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk selamanya.


Sudawira segera membantu Ki Suroto yang sudah lemah. Dia mendudukkan Ki Surota kemudian mengalirkan tenaga dalam.


Ki Suroto bersama Sudawira telah kembali ke desa Tanjungsari. Kabar hancurnya markas kecil telah tersebar ke seluruh desa. Pada hari itu melakukan pertemuan dengan Kepala Desa.


"Cepat atau lambat markas cabang akan mengetahui hancurnya markas kecil mereka. Yang saya takutkan mereka akan menyerang desa ini kembali pendekar," ucap Kepala Desa yang bernama Ki Amongrogo.

__ADS_1


"Saya merasakan khawatiran yang sama seperti Ki Amongrogo. Namun apakah kita diciptakan harus berdiam diri ketika kita ditindas!" ujar Sudawira.


"Jadi maksud tuan pendekar kita akan melakukan perlawanan!" sahut Ki Surota.


Semua orang merasa tidak yakin bisa melawan pasukan markas cabang yang diketahui memiliki beberapa orang sakti. Bahkan pemimpin mereka sukar ada tandingannya di kadipaten Bumiayu.


"Kecuali jika tuan pendekar berkenan membantu kami!" Ki Amongrogo menatap Sudawira penuh harap.


Semua orang pun menatap Sudawira. Pemuda itu tersenyum. "Aku akan selalu siap membantu untuk menumpas segala ke angkara murka!" ujar Sudawira.


Semua orang merasa lega kini secercah harapan telah menyala diantara mereka.


Malam itu Sudawira duduk menikmati teh. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus diambil mau tidak mau dirinya diminta kepada desa untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.


"Tuan pendekar," Ki Surota berkata lirih.


"Iya Ki." Sudawira tersenyum ramah.


Ki Suroto menarik napas dalam-dalam sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun bingung memulainya dari mana.

__ADS_1


__ADS_2