Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Jurus Tapak Lima Jari


__ADS_3

Ki Sadewa melompat mundur setelah sebuah pukulan hampir saja mendarat diperutnya. Namun tiba-tiba tubuhnya terjungkal terhempas ke depan ketika sebuah pukulan mendarat dipunggungnya.


Belum sempat memperbaiki posisi sebuah pukulan susulan mendarat didanya. Ki Sadewa terpental beberapa meter terhempas membentur bangunan perguruan.


Ketika dia mau bangkit seluruh tubuhnya panas dan terkunci tak mampu bergerak. Tidak lama ia memuntahkan darah hitam.


"Hahahaha, rasakan Jurus tapak lima jariku ketua!" teriak Orang bertopeng emas.


Ki Sadewa mendelik mau berucap tapi tidak bisa bahkan pandangan mulai buram. Kemudian pandangannya menjadi gelap.


Ki Brajadewa yang tidak jauh dari pertarungan keduanya. Sempat melihat sehingga konsentrasi nya menjadi buyar sehingga dia menjadi lengah.


Akhhhhhh


Ki Brajadewa terpental ketika sebuah sabetan mengenai bahunya.


"Kau ..." Ki Brajadewa melotot sambil memegang lukanya.


"Hahahha, salah dirimu juga, tidak pokus tua Bangka!"


Tiba-tiba terdengar suara bunyi melengking. Sontak seluruh pendekar bertopeng emas berloncatan pergi meninggalkan pertempuran.


****


Gantari menarik nafas didepan matanya kini terlihat tumpukan mayat. Dirinya tidak menyangka dirinya telah berubah menjadi iblis.


"Luar biasa, hihihi ..."


Seorang gadis cantik seusinya berdiri didepannya.

__ADS_1


"Kau ... Intan Sari" Gantari melotot tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Hihihi kenapa wajahmu, sepertinya kamu terkejut?" Ejek Intan Sari.


"Jadi ini semua rencana kamu!" bentak Gantari menatap dingin.


"Iya," jawab Intan Sari kecut.


"Kurang ajar, kamu tidak tahu terimakasih, ketua telah berbaik hati tidak membunuh seluruh keluarga mu,"


"Cuihhhh, apa kamu kira dengan tidak membunuh keluargaku, aku bisa memaafkan semuanya!"


"Apa kamu lupa, Orang tua ku mati oleh keserakahan ayahmu!"


"Hihihi ... baiklah mari kita selesaikan masalah keluarga kita!" Intan Sari melesat menyerang.


Gantari tersenyum dingin ia juga melesat menghadang.


Suara kedua logam terdengar.


Pertarungan pun tidak bisa dihidari. Dua gadis yang sama-sama memiliki dendam masa lalu. Gantari dengan lincah dan tangkas memainkan pedang nya. Gantari menggunakan jurus andalan, Jurus Tarian Rajawali.


Intan Sari ternyata lebih lihai menggunakan pedangnya


seakan-akan pedangnya menari-nari meliuk-liuk sangat cepat.


Maka tidak memerlukan waktu lama keduanya telah melakukan puluhan pertukaran gerakan jurus.


Gantari yang tidak mengenal jurus pedang yang digunakan Intan Sari. Beberapa kali surut karena Jurus itu sangat mematikan sangat kuat cepat.

__ADS_1


"Hihihi, Jurus pedang perenggut jiwa ku tidak akan kalah dengan jurus perguruan mu yang kalian banggakan," Intan Sari tertawa merasa diatasi angin.


"Jurus pedang perenggut jiwa, aku rasa tidak pernah mengenalnya,"gumamnya.


Tiba-tiba terdengar suara melengking seperti burung perkutut.


"Apa-apan ini, baru saja aku bermain-main sudah selesai," Intan Sari mendengus kesal ternyata suara itu kode untuk segera meninggalkan pertempuran.


Maka serangan Intan Sari semakin cepat membuat Gantari terdesak. Alhasil meninggalkan banyak celah.


Intan Sari tersenyum segera di ia memanfaatkan celah.


Akhhhhh


Gantari menjerit setelah sebuah tebasan mendarat ditubuhnya, ia terpental beberapa meter.


"Berterimakasih lah kepadaku, karena hari ini nyawamu masih tertolong!" Teriak Intan Sari tersenyum lalu melesat meninggalkan tempat pertarungan.


Gantari hanya menatap dia menghilang tubuhnya terasa nyeri sebuah luka tebasan yang dalam dibahunya.


Ajiseta menggeram marah ketika musuhnya melarikan diri ketika ia berniat mengejar. Dia mengurungkan niatnya karena melihat Ki Sadewa dan Ki Brajadewa sedang terluka segera menghampiri Ki Sadewa.


Kemudian ia memeriksa tubuh Ki Sadewa.


"Bagaimana keadanya?" Ki Brajadewa menghampiri.


Ajiseta menggelengkan kepalanya, "Keadanya keritis!" Sambil meminumkan beberapa obat.


"Apa ketua mengenal Jurus ini?" Ajiseta memperlihatkan tapak Lima jari didada Ki Sadewa.

__ADS_1


Ki Brajadewa melotot terkejut, "Luka ini!"


__ADS_2