Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Keberanian Mayangsari


__ADS_3

Suara pertempuran masih terdengar. Suara jeritan-jeritan menggema memenuhi seluruh penjuru perguruan. Tercium bau amis darah dari mayat-mayat murid perguruan yang telah gugur.


Nampak seorang gadis sedang memapah seorang lelaki setengah tua tergesa-gesa pergi meninggalkan Perguruan atas angin.


"Ayah kita harus segera pergi dari sini!" Mayangsari memapah Ki Surapati yang sedang sakit.


Ki Surapati hanya terdiam tidak mampu berbicara. Batinnya menjerit-jerit melihat perguruanya diporak-porandakan oleh orang yang tidak memiliki belaskasihan.


****


"Bagaimana apa kalian melihatnya?" ujar Kuntoaji.


"Maap tuan kami sudah memeriksa semua tempat namun mereka tidak kami temukan!"


"Kurang ajar! Mereka sudah melarikan diri! Aku yakin mereka belum jauh dari sini! Kita kejar mereka!" ujar Kuntoaji.


****


"Hahahaha ... mau lari kemana manis."


Orang-orang berpakaian serba hitam mengepung Mayangsari.


"Siapa kalian?" tegas Mayangsari meningkatkan kewaspadaan.

__ADS_1


"Hahahaha ... hahahaha kami adalah perampok!" ujar seorang pria jangkung.


"Kami tidak memiliki harta jadi berikan kami jalan!" ucap Mayangsari.


Semua perampok tertawa terbahak-bahak.


"Kami tidak memerlukan harta bisa memiliki kamu bisa membuat kami senang! Jadi marilah ikut dengan kami untuk bersenang-senang!"


"Cuihhhh ... kurang ajar!" Mayangsari memerah


"Ahhhh dia membuat aku terangsang kakang!"


Hahahaha ... hahahaha ... hahahaha


"Kalian pantas dimusnahkan!" Mayangsari mencabut pedang yang terselip di pinggangnya dan loncat melakukan serangan.


Pertarungan pun tak dapat dihindarkan para perampok berjumlah sepuluh orang tersebut segera mengepung Mayangsari. Kemampuan Mayangsari tidak bisa dianggap remeh karena dia sudah terlatih sedari kecil. Meskipun ia memiliki kemampuan yang tinggi tapi dirinya minim akan pengalaman membuat dirinya kesulitan apalagi ini merupakan pertarungan pertamanya menghadapi musuh sesungguhnya. Sedangkan biasanya ia hanya berlatih tanding melawan murid-murid perguruan.


Terdengar disela-sela pertarungan, "Boleh juga kamu manis."


Ki Surapati meneteskan air mata melihat putri yang disayang dan dimanjakannya itu sekarang sedang berjuang untuk hidup. Dia amat menyesal karena keadaannya yang membuat tidak bisa melakukan apa-apa.


****

__ADS_1


Satria tersungkur ketanah kedua tangannya dikepalkan melihat kepulan asap dari bekas bangunan-bangunan yang telah terbakar. Dirinya segera bangkit dan perlahan masuk ke reruntuhan bangunan berharap masih ada orang yang masih hidup. Namun, tidak ada seorang pun yang selamat yang ada beberapa jasad yang berserakan yang gosong sangat mengerikan.


Satria mengepalkan telapak tangan dan berteriak histeris memanggil gurunya.


"Tuan ... tuan .. tuan," terdengar suara seorang yang memanggilnya.


Satria membuka kedua matanya dia merasakan seluruh pakaiannya basah karena berkeringat.


Dia mengatur napas perlahan-lahan, "Ternyata aku cuma bermimpi," ucapnya lirih.


Dia segera menuju pintu kamar dan membukanya. Nampak seorang pelayan penginapan berdiri.


"Makanan yang tuan pesan telah kami siapkan," ucap pelayan tersebut menunjukkan tempat makan yang berada dilantai bawah.


"Terimakasih kisanak!"


Pelayan tersebut pergi kembali. Satria pun cepat turun ke lantai bawah untuk makan karena perutnya sudah menagih.


Satria memang memutuskan untuk beristirahat dulu di salah satu penginapan. Karena perjalanan ke perguruannya masih cukup jauh.


Dia pun duduk ditempat yang sudah disediakan yang memang sudah dipenuhi makanan yang dipesannya.


"Hahahaha akhirnya sekian lama aku tidak makan enak." Tanpa basa-basi lagi dia segera menyantap makanan tersebut dengan lahap.

__ADS_1


Walaupun waktu dimalam hari namun pengunjung penginapan itu terus berdatangan. Dari mulai para bangsawan, para pedagang, para pendekar dan lain-lain.


__ADS_2