Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Perpisahan & Ki Wanaraja


__ADS_3

Sedangkan Sudawira dan Adiwangsa mereka mengobrol namun keduanya sempat menoleh Lestari yang terlihat murung.


"Apa kamu sakit Tari?" Tanya Adiwangsa sambil memegang dahi Lestari.


Membuat Lestari bingung harus menjawab apa.


"Aku tidak papa kakang" Sambil memaksakan dirinya tersenyum walaupun batinnya menjerit.


Sudawira juga merasa cemas, "Benar kamu tidak papa tari?"


Tari menganggukan kepalanya.


"Wira mungkin aku harus segera melanjutkan perjalanan kembali, terimakasih atas pertemuan kita mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi lain waktu" Adiwangsa bangkit menghampiri kuda dan membuka ikatan tali kudanya pada pohon dan naik ke punggung kuda.


Sudawira dan Lestari bangkit pula. Lestari gemetar dia tidak tertahankan lagi dia memeluk Sudawira sangat erat air matanya mulai membasahi wajahnya. Sudawira sebelumnya canggung ia segera membalas pelukannya dan membelai rambutnya.


Dengan suara yang terputus-putus terdengar "Aku mencintaimu" bisik Lestari.


Sudawira secara spontan terdengar berkata, "Aku juga"katanya.


Adiwangsa yang melihat kejadian itu dia membiarkan nya namun menjadi khawatiran sendiri membayangkan bagaimana hari-hari selanjutnya yang akan dijalani Lestari pasti akan dirundung kesedihan.


"Tari, mari" ucapnya.

__ADS_1


Lestari berbisik ke telinga Sudawira, "Setelah urusanmu selesai cari aku dibukit Manoreh"sahutnya.


Sudawira menganggukan kepalanya.


Lestari tersenyum dan mencium pipinya lalu melepaskan pelukannya, ia berlari dengan wajah merah merona kearah kudanya.


Sudawira tersenyum-senyum sendiri, "Huhhhh, jadi gini rasanya disun perempuan"Gumamnya dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Keduanya melambaikan tangan ke Sudawira terdengar, "Sampai jumpa lagi teman" ucap Adiwangsa.


Sudawira tersenyum dan membalas lambaian tangan mereka , "Semoga kalian selamat sampai tujuan" Teriak Sudawira.


Lestari menoleh sebentar menatap wajah Sudawira seakan-akan tidak mau berpisah namun tiba-tiba Sudawira mengedipkan matanya sambil tersenyum dengan kedua tangannya disatukan dan jarinya membentuk sebuah hati.


Sudawira menatapnya hingga mereka menghilang dibalik pohon-pohon besar.


Dia menarik nafas dalam-dalam.


Langit tertutup awan hitam suasana menjadi mendung mengatakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Saat tetesan air hujan mulai mengenai bajunya. Sudawira mengumpat sehabis-habisnya karena belum melihat tanda-tanda sebuah perkampungan atau desa.


Beruntung ia menemukan sebuah pondok kecil. Sebenarnya dia agak ragu pondok didalam hutan bukanlah suatu kebetulan. Namun tidak ada pilihan lagi karena tetesan air hujan semakin banyak.

__ADS_1


Setelah mengikat kudanya pada salah satu tiang. Ia melangkah mendekati pintu dan mengetuk beberapa kali namun nampak tidak ada jawaban terdengar dalam.


Dia mengintip lewat sela-sela bilik terlihat tampak tidak ada penghuni.


Tanpa pikir panjang dia membuka pintunya.


Lantas membuat perapian untuk menghangatkan tubuh nya.


Tidak lama kemudian langit memuntahkan air hujan yang turun mengguyur atap pondok. Pemandangan pun menjadi gelap gulita terhalang oleh derasnya air hujan yang turun.


Setelah dirasa tubuhnya telah hangat Ia duduk diatas balkon terbuat dari bambu.


Untuk mengisi waktu sambil menunggu hujan yang turun tidak kunjung mereda. Ia membuka salinan kitab kesatria suci kembali untuk memahaminya lebih dalam.


Sudawira bertekad bertambah kuat apalagi dengan kemunculan kekuatan kegelapan bisa membahayakan kehidupan manusia.


Tidak lama terdengar bunyi pintu yang diketuk Sudawira sedikit terkejut, "Siapa?" Tanya Sudawira.


Suara seorang pria yang sudah kedinginan.


"Bolehkah aku ikut mampir, aku kedinginan"


Sudawira segera melangkahkan kakinya namun ia tidak menghilangkan kewaspadaan.

__ADS_1


Saat dia membuka pintu tampak seorang pria paruh baya yang menggigil kedinginan karena semua bajunya sudah basah kuyup.


__ADS_2