
Di dalam keremangan malam dibawah cahaya bulan beberapa orang sedang duduk dibawah pohon yang rindang.
Patih Ajidarma tiba-tiba berkata, "Aku sudah mendengar para pendekar yang ada dihadapanku ini" katanya, "Aku sangat berterimakasih karena kalian sudah mau ikut membantu kami"
"Itu sudah kewajiban sesama manusia untuk saling tolong menolong tuan patih" uacap Adiwangsa.
"Benar apa yang dikatakan anak muda" Patih Ajidarma mengangguk-anggukkan kepalanya.
Semua akhirnya bercerita satu sama lain gelak tawa seringkali terdengar memecahkan kesunyian malam, hingga satu persatu mereka meninggalkan tempat itu untuk beristirahat menyisakan Patih Ajidarma Senopati Lingga dan Sudawira.
"Sungguh luar biasa" desis Patih Ajidarma sambil menatap tubuh Sudawira.
"Apa yang luar biasa tuan" jawab senopati Lingga.
"Temanmu ini memiliki tubuh istimewa"
"Tubuh kesatria suci" Tanya Senopati Lingga.
"Iya" jawab Patih Ajidarma singkat.
Sudawira yang belum memahami perkataan keduanya terdengar "Apa itu tubuh kesatria suci"
"Tubuh yang semua pendekar menginginkannya bahkan berusaha untuk membangkitkannya" jawab Patih Ajidarma.
"Apa begitu hebatnya hingga semua orang ingin memiliki nya" Desis Sudawira.
Sekarang Patih Ajidarma yang keheranan "Apa gurumu Ki Banyu Rekso tidak pernah mengatakan nya kepada mu?"
__ADS_1
Sudawira menggelengkan kepalanya.
Patih Ajidarma menarik nafas dalam-dalam "Hem" lirihnya, "Dengan tubuh kesatria suci kamu akan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain"
"Contohnya?" potong Sudawira.
"Ilmu Desandria yang telah kamu bangkitkan"
"Pantas saja aku bisa meniru semua jurus orang lain hanya dengan satu kali melihat" gumamnya.
"Dan untuk menunjang nya maka ada kitab yang bernama Kitab Kesatria Suci"
"Apa kitab itu benar-benar ada?" tanya senopati Lingga.
"Aku juga sempat berpikir sama dengan mu, namun setelah aku melihat tubuh kesatria suci dihadapan ku maka keyakinan ku semakin kuat" jawab Patih Ajidarma.
"Terus dimana kitab itu berada?"
Sudawira hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan percakapan keduanya.
Malam semakin larut akhirnya mereka pergi untuk beristirahat.
Di perjalanan Sudawira menatap langit yang mulai larut kini dirinya dihadapkan berbagai pertanyaan yang mulai bermunculan.
Melihat Sudawira banyak diam tidak seperti dari biasanya. "Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
"Aku masih belum tau apa kelebihan ini akan menjadi kebaikan atau malah membawa petaka" jawab Sudawira.
__ADS_1
Senopati Lingga memahami situasi Sudawira "Kamu hanya perlu bersyukur tuhan tidak semata-mata memberikan kelebihan kepada mu melainkan ada tujuan tertentu"
"Itu lah yang ku pikirkan paman apa tujuan itu"
"Suatu hari kamu akan menemukan jawabannya"
Mereka pun sampai digubuknya dan beristirahat.
Namun Sudawira masih belum bisa memejamkan matanya dia masih terbayang apa yang akan dihadapi nya kedepan.
******
Perguruan Lembah Hitam terlihat seorang sedang duduk dia menoleh ketika orang sepuh masuk.
"Paman Jumantara"
"Ada apa ketua memanggil paman?"
"Ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan kepada paman"
Ki Jumantara keheranan tidak seperti biasanya ketuanya memintanya untuk bertemu dan bertanya. "Mengenai apa ketua?"
Ki Maruli menarik nafas panjang "Apa paman masih ingat kitab yang diincar dunia persilatan?"
Ki Jumantara terkekejut dengan pertanyaan yang dilontarkannnya "Kitab Kesatria Suci"
"Iya" jawab Ki Maruli singkat.
__ADS_1
"Apa ketua ingin mencarinya?"
"Benar aku ingin meneruskan cita-cita ayahku".