
Sudawira terus menyerang sepasang Pendekar Perguruan Teratai Putih dengan meniru jurus-jurus mereka.
Dia memperagakan lebih lihai dan lincah serta tebasan-tebasan mengandung tenaga dalam sangat besar sehingga ketika pedang mereka bertemu makan tangan mereka akan bergetar.
Sudawira betul-betul sempurna menggunakan Jurus Tarian Pedang Penghancur.
Mereka melihat Sudawira terpana serasa melihat sesosok gurunya.
Adiwangsa dan Lestari loncat mundur "Aku menyerah tuan pendekar"
Sudawira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Luar biasa tuan mampu meniru jurus kami dengan sempurna?" Ucap Adiwangsa.
Sudawira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa menirunya. "Terimakasih tuan,Aku mohon maaf telah meniru jurus-jurus kalian"
"Ahhh, Sudahlah kami tidak mempermasalahkannya" Adiwangsa tersenyum lebar.
Disudut lain Tabib Narati bengong melihat Sudawira, mampu menggunakan Jurus Perguruan Teratai Putih yang terkanal sulit untuk dipelajari.
Sekarang Sudawira tampak sedang berfikir keras sehingga memunculkan persoalan baru. Namun dirinya percaya apapun yang terjadi kepadanya adalah sebuah takdir yang harus disyukuri.
"Suatu kebahagiaan bagi kami, apabila tuan pendekar mau mengajarkan kami?" Ucap Adiwangsa.
"Dengan senang hati tuan" Sudawira menganggukan kepalanya.
"Kami sangat berterimakasih kepada kemurahan hati tuan Pendekar"
__ADS_1
Sudawira tampak tersenyum sedikit canggung ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau kalian mau lihat, aku bisa menunjukkan Jurus tingkat akhir perguruan kalian"
Adiwangsa penasaran tampak tertarik. "Kalau begitu tunjukanlah! aku ingin melihat nya"
Sudawira berpikir sejenak namun terlanjur mengatakannya dia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah" Jawab Sudawira.
Dia melayang menjauhi keduanya sekitar 20 meteri berdiri ditengah-tengah pepohonan yg mengelilinginya.
Sudawira menarik nafas kemudian mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya sehingga tampak cahaya kebiruan mulai menyelimuti tubuhnya dan pedangnya.
Sudawira segera memperagakan "Jurus Tarian Pedang Penghancur Pelebur Jiwa" denga cepat dan lincah tubuhnya bergerak berpindah-pindah cepat seperti angin. Pedangnya meliuk-liuk setiap tebasan mengeluarkan kilatan cahaya kebiruan, suara-suara ledakan terdengar ketika kilat cahaya kebiruan itu menghantam sebuah batang pohon hingga tumbang.
Duarrrrrrrr
Bekasnya membuat sebuah kawah sebesar roda-roda kereta kuda. mengeluarkan asap putih.
Semua orang yang menyaksikannya begitu terpana sampai-sampai mulut mereka menganga.
"Luar biasa?" Gemuruh semua orang.
"Apa aku bermimpi" Adiwangsa sembari memukul-mukul wajahnya.
"Tidak kakang aku juga melihatnya" Ucap Lestari melihat kawah sebesar roda-roda kereta kuda yang mengeluarkan asap putih.
__ADS_1
"Bagaimana" Sudawira tampak tersenyum menghampiri keduanya yang masih bengong.
"Luar biasa, tuan aku masih belum percaya?" Adiwangsa tersenyum pula.
"Hahaha, Aku akan mengajarkannya kepada kalian"
Keduanya membungkukkan badan. "Terimakasih tuan Pendekar"
"Ahhh Sudahlah tidak perlu berterimakasih, Dan satuhal lagi, kalian cukup panggil aku Wira saja"
"Baiklah Wira, Aku setuju.Kamu boleh panggil aku sesukamu saja" Adiwangsa sembari terkekeh-terkekeh.
"Nahhhhh" Sudawira menoleh Lestari dengan genit. Sembari memukul-mukul jari telunjuk ke bibirnya.
Lestari menghunuskan pedangnya kewajah Sudawira karena memandangi sekujur tubuhnya dengan wajah genit.
"Jangan pikir macam-macam tentang aku"
"Tari, Jaga sikapmu" Ucap Adiwangsa.
Tari pun segera menyarungkan pedangnya. Dia memilih pergi meninggalkan tempat itu.
"Dasar lelaki semuanya sama saja"Gerutunya sembari melangkahkan kakinya.
"Wira, sungguh aku minta maaf"
Adiwangsa yang penuh penyesalan.
__ADS_1
"Ahhh, sudahlah aku yang salah" Sudawira tersenyum.