
Gardana mundur beberapa langkah muncul aura merah darah ditubuhnya.
"Ajian Iblis Pencabut Nyawa"
Gardana menghilang dari pandangan dia bergerak cepat mengarahkan pukulan.
Patih Ajidarma tersenyum secepat apapun gerakan lawannya dirinya mampu membaca.
Dia merapalkan. "Ajian Lembu Sekilan" Tubuhnya diselimuti auara biru muda.
Pada saat pukulan Gardana mendarat Patih Ajidarma tidak menghindar, maka dua kekuatan bertemu menghasilkan suara ledakan yang mengisi seluruh Hutan.
Gardana terpental beberapa meter dan membentur batang pohon terdengar jeritannya memuntahkan darah segar dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah segar, ia berusaha bangkit namun tubuhnya susah digerakan dan terasa lemas yang terasa adalah rasa sakit didaerah perutnya perlahan-lahan pandangannya menjadi pudar dia mulai menutup matanya dan akhirnya dia kehilngan kesadarannya.
Patih Ajidarma mengatur nafasnya dia melayang pergi meninggalkan pertempuran.
******
Di dalam Kedai yang lumayan luas dan terawat dan sangat ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan diantaranya para pendekar, karena letak kedai tersebut sangat strategis letaknya, sehingga membuat semua orang untuk singgah.
__ADS_1
Bukan hanya sekedar singgah saja mereka juga bisa mengistirahatkan badan bagi para pendatang yang sudah melakukan suatu perjalanan.
Didalam kedai itu nampak sepasang pendekar muda berpakaian serba putih dengan ikat kepala berwarna putih. Mereka sepasang pendekar dari Perguruan Teratai Putih. Adiwangsa memiliki perawakan yang kekar sorot matanya yang tajam ditambah dengan ketampanan wajahnya menjadi kan lirikan wanita yang ada, sedangkan Lestari memiliki tubuhnya yang langsing ditambah wajahnya memiliki paras yang cantik dan matanya yang agak kebiru-biruan tajam bisa membuat orang betah memandangi wajah nya.
Mereka sedang asik makan dengan sangat lahapnya mungkin mereka telah melakukan perjalanan yang jauh. Tiba-tiba datang tiga orang bertubuh kekar dengan wajah sangar.
Lestari setengah berbisik kepada Adiwangsa.
"Kakang bukankah mereka Tiga Pendekar Dari Bukit Tenggarong" bisiknya.
Adiwangsa meminta adiknya tidak memperdulikan nya."Benar" jawabnya singkat.
Gagak hitam yang menyadari ada yang sering melihat mereka iia bangkit dan berjalan menghampiri keduanya. seorang bertubuh tinggi besar dan berotot wajah garang dengan jenggot tebal dan sorot mataanya seperti seekor elang tajam.
"Kakang" sahut Lestari.
Adiwangsa meras kekhawatiran adiknya terdengar "Tenang lah jangan melakukan apapun" katanya.
"Bukankah kalian Murid dari perguruan Teratai putih nona manis" Subarna.
__ADS_1
"Maapkan kisanak apa diantara kita ada keperluan?" Jawab Adiwangsa.
"Tentu Aku punya keperluan" Subarna yang terus memandang seluruh tubuh Lestari.
Sehingga membuat gadis itu merasa jijik dia dia memegang pangkal pedanngnya, namun Adiwangsa menggelengkan kepalanya.
Adiwangsa menenangkan hatinya ia juga melihat kerisihan adiknya, berkata katanya, "Keperluan apa tuan?".
Subarna sambil menjilati bibirnya.
"Keperluanya gampang kamu silahkan pergi dari sini dan tinggalkan nona manis ini bersama kami untuk menemani kami.
"Kurang ajar" Sahut Lestari.
Lestari yang sudah tidak sabar lagi langsung mencabut pedangnya dan menghunuskan ke arah jantung ia yang mendapat kan serangan tiba-tiba langsung loncat surut sedikit lagi kalau ia tidak cepat mungkin jantung nya sudah tertusuk.
Semua tamu kedai berhamburan keluar. karena bakal ada pertarungan dikedai itu.
Adiwangsa langsung memegang tangan Lestari dan menariknya keluar.
__ADS_1
Subarna loncat mengejar keduanya. Dan kedua rekannya tanpa diperintah pun ikut menyusul mengejar Adiwangsa dan Lestari.