
Melihat Adiwangsa terluka Lestari loncat untuk segera menghampiri Adiwangsa. Namun tiba-tiba sedikit lagi kalau dia tidak merendahkan tubuhnya wajah cantiknya terkena tongkat Ki Junhatra. Namu ia tidak sempat menghindar ketika sebuah tendangan mendarat diperutnya, Lestari terpental beberapa meter membentur dinding rumah mulutnya yang mungil mengeluarkan darah segar, tapi beruntung ia masih sadarkan diri.
Kemarahan Adiwangsa semakin memuncak ia bangkit dan loncat dan menyerang kembali.
"Aku akui usahamu anak muda, tapi sayang hasilnya tetap sama" Ki Junhatra berkata congkak seolah-olah dirinya telah memenangkan pertarungan.
Adiwangsa tersenyum dingin, "Simpan dulu angan-angan mu"
Adiwangsa menyerang namun kali ini serangannya seperti membentuk pola perlahan-lahan asap putih menyelimuti area pertarungan keduanya, ditambah kegelapan malam menyulitkan Ki Junhatra. Adiwangsa bisa muncul dari arah yang tidak bisa ditebak.
"Jurus tarian pedang penghancur" gumanya.
Namun sayang dirinya terlambat menyadari, sekarang tubuhnya yang keriput sudah dipenuhi luka sayatant mengeluarkan darah terasa perih dan panas ketika ia akan bergerak tubuhnya menjadi kaku. Adiwangsa muncul di depan Ki Junhatra dan tersenyum ketika pedangnya menghujam Ki Junhatra.
__ADS_1
Ki Junhatra menjerit kesakitan. Ia mengeluarkan darah dari lubang hidung dan mulut nya.
Adiwangsa tubuhnya lemas tak berdaya dia jatuh ketanah dan kesadaran nya hilang.
Lestari dengan cepat loncat menghampiri ia segera mendudukkan dan mengalirkan tenaga dalam nya yang tersisa. Dan ia lega ketika detak jantung kaka seperguruannya teratur kembali. Ia memasukan pil pemberian Sudawira untuk mengurangi rasa sakit tenaga dalam. Namun tiba-tiba kepalanya menjadi pening pandangan matanya pudar dan ia pun tak sadarkan diri.
*****
Malam semakin dingin menunjukkan semakin larut digerbang utama pasukan Senopati Lingga masih bertempur.
Senopati Lingga mengatur nafasnya kembali dan membersihkan noda darah dipegangnya, dia tersenyum melihat pasukannya sudah menguasai pertempuran kemenangan sudah di depan matanya.
Namun terdengar derap langkah kaki kearah mereka. Dan tidak lama puluhan pendekar bertopeng Hitam berloncatan ke area pertempuran.
__ADS_1
"Perguruan Lembah Hitam" Gumam Senopati Lingga.
Tidak berlangsung lama sekitar lima orang telah melingkari senopati Lingga dan menyerangnya. Pertarungan pun tidak bisa dihindari.
Harus diakui bahwa Pendekar perguruan Lembah Hitam memiliki kemampuan lebih dalam hal ilmu Kanuragan dibandingkan para pasukan. Maka sedikit menguntungkan dan semua pasukan agak sedikit terdesak.
Abiyasa sudah bertarung dengan salah satu Pendekar perguruan Lembah Hitam. Ia merapatkan giginya ketika menyadari kemampuan orang itu sangat tinggi.
Hasta tersenyum melihat Abhiyasa kewalahan menghadapinya.
"Apakah senopati kerajaan hanya bisa berloncat-loncat dan menghindar" Ejek Hasta yang terus memainkan pedang nya.
Abhiyasa memerah, "Kurang ajar" umpatnya.
__ADS_1
Namun perbedaan kemampuan terlihat Abhiyasa sudah mendapatkan beberapa luka sayatan. Bukan tanpa alasan karena sebagian tenaganya sudah hampir terkuras karena sebelumnya telah bertarung lebih dulu melawan para prajurit. Berbeda cerita kalau dirinya dalam keadaan prima dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya bukan tidak mungkin ia bisa mengimbanginya.
Kondisi yang sama terjadi kepada Senopati Lingga. Dengan tenaga tersisa akibat pertarungannya dengan Gumbirang. Dengan keadaan tidak prima kini ia harus berhadapan dengan lima tetua perguruan Lembah Hitam yang kesaktiannya terpaut satu tingkat dibawahnya, namun harus menghadapi lima orang bersamaan dengan keadaan tidak prima ia harus berjibaku menahan gelombang serangan dari berbagai arah. Noda-noda darah dari luka-luka sayatan mulai memenuhi baju nya.