
"Dan kamulah keturunan Prabu Ranajaya yang terakhir Wira!" sahut Ki Wanaraja.
Sudawira terdiam membisu tak terpikir olehnya, bahwa dirinya adalah keturunan dari dua alam berbeda( Alam manusia dan alam lelembut).
"Tapi kamu berbeda dengan keturunan yang lain!" tambah Ki Wanaraja.
"Maksud paman?" Sudawira tampak mengernyitkan kening.
"Dirimu adalah pertemuan dua gen istimewa yang menyatu. Kamu memiliki darah suci dari ayahmu. Dan dari ibumu kamu memiliki tubuh kesatria suci. Maka sesuai ramalan bahwa bertemunya darah suci manusia dengan kesaktian dewa, maka Parahiyangan akan kembali ke dalam masa kejayaan!" ucap Ki Wanaraja.
Sudawira manggut-manggut, dirinya kini mendapat rahasia baru. Namun dirinya merasa aneh dan curiga kenapa orang dihadapannya begitu mengetahui seluruh leluhurnya. Didesak rasa penasaran ia berkata sopan dan ramah.
"Kalau boleh saya mengetahui kenapa paman bisa mengetahui semuanya?" tanya Sudawira.
Ki Wanaraja tersenyum dia menarik napas dia sudah menerka pertanyaannya itu pasti akan terlontar juga. "Sebenarnya paman ini, masih leluhurmu, bahkan bisa dikatakan aku adalah anak pertama Prabu Ranajaya!"
Sudawira tersedak kaget seakan-akan jantung mau copot dari rongga dada saking terkejutnya. "Tapi ..."
"Kenapa aku masih hidup?" Itu yang akan kamu katakan potong Ki Wanaraja.
__ADS_1
Sudawira hanya menganggukkan kepala tak berkata.
"Aku adalah sisa kehidupan yang bersemayam di cincin yang kamu pakai!" kata Ki Wanaraja sambil menoleh ke tangan Sudawira.
Sudawira pun sama ia melihat cincin yang ada pada salah satu jari tangannya. Dia tidak menyangka selama ini cincin yang menurut gurunya adalah cincin pemberian ibunya. Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa seseorang bisa tinggal selama ribuan tahun didalam suatu cincin.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang kek?" tanya Sudawira.
"Kamu harus menyelesaikan tugasmu di alam manusia, sepertinya sekarang telah terjadi kekacauan akibat Ranggaseta (Utusan prabu Sanjaya)!" ujar Ki Wanaraja.
"Kenapa dia melakukan hal itu, bukankah tujuannya melenyapkan keturunan Prabu Ranajaya?" tanya Sudawira yang tampak kebingungan.
Sudawira menggeram marah wajahnya menjadi merah. Dia tidak menyangka bahwa orang yang tidak bersalah menjadi korban ambisi mahluk serakah da tamak. "Kurang ajar!" batinnya.
Ki Wanaraja melihat raut wajah Sudawira yang berubah dia segera menenangkan. "Kamu harus tenang Wira, musuhmu memiliki akal yang licik serta penuh tipu muslihat, jangan sampai kamu masuk perangkapnya!" ujarnya.
Sudawira segera mengendalikan emosi yang mulai tenang kembali. Terbesit dalam hatinya bagaimana pun caranya orang itu harus segera dilenyapkan.
"Sekarang kemana aku harus melangkah, kek?" tanya Sudawira.
__ADS_1
Melihat raut wajah Sudawira telah kembali. Ki Wanaraja tersenyum menatap, "Kamu tenang saja saat ini ada orang yang akan meringankan beban kamu!"
"Siapa kek?" tanya Sudawira penasaran.
"Dia mengenalmu tapi kamu tidak akan mengenal dia!" Ki Wanaraja tertawa.
Sudawira mengernyitkan keningnya sungguh aneh mana mungkin dia mengenal dirinya kalau tidak pernah bertemu sebelumnya.
Ki Wanaraja menepuk pundak. "Sudahlah, tak perlu dipikirkan kelak kamu akan mengetahuinya!" sahuhutnya.
Sudawira hanya menganggukkan kepala tidak berani menanyakan perihal orang yang akan membantunya.
"Sekarang pergilah lakukan tugasmu!" ujar Ki Wanaraja.
Sudawira hendak bertanya tapi ia urungkan.
Ki Wanaraja tertawa. "Jangan tanyakan aku akan kemana, tentunya aku akan pergi untuk tidak kembali karena tugasku telah selesai!" ujarnya sambil berdiri dan langsung berbalik badan lalu pergi ke pondoknya.
Sudawira pun segera bangkit untuk mengejar namun tiba-tiba seluruh tubuhnya diselimuti asap putih tak berselang lama tubuhnya telah berubah jadi asap dia pun tidak mengingat apa-apa lagi.
__ADS_1