
Pasukan markas cabang sudah mulai memasuki desa Tanjungsari. Namun aneh tidak ada tanda-tanda pergerakan dari pihak musuh.
"Apa mereka telah kabur kakang?" tanya Iblis Botak menoleh ke Iblis Terbang. Yang berjalan disampingnya. Kenapa Iblis Terbang mendapatkan julukan demikian. Karena dia berjalan tidak menyentuh tanah ia melayang satu jengkal dipermukaan tanah.
"Hahahaha ... bagus itu artinya kita tidak perlu capek-capek berperang kita cuma bakar rumah mereka!" Iblis Terbang tertawa.
Ternyata kemampuan mereka saja yang kuat namun tidak dengan otaknya. Tentu saja mereka telah masuk perangkap Sudawira.
"Tunggu kakang apa tidak aneh mereka menghilang secara mendadak!" Iblis Botak merasa curiga.
"Benar, jangan-jangan ini ..." keduanya saling pandang.
Benar saja terdengar suara mirip burung perkutut melengking. Bersamaan dengan hilangnya suara itu. Terlihat hujan ribuan anak panah melesat kearah pasukan markas cabang. Mereka yang tidak sempat menghindar harus rela nyawanya melayang terkena panah. Suara jeritan terdengar. Pasukan markas cabang menjadi kalang kabut. Hujan panah tersebut belum berhenti.
Dua wakil ketua markas cabang menggeram marah setelah mendapati pasukannya terkena perangkap musuh. Puluhan pasukannya terbunuh sia-sia tanpa perlawanan. Ketika pasukan tengah disibukan dengan hujan panah terlihat puluhan orang melesat ke arah pasukan markas cabang. Terjadilah pertempuran sebenarnya.
__ADS_1
Semangat yang berkobar dari pemuda desa mereka melesat bagaikan ombak menggulung batu karang. Tidak memiliki rasa takut sama sekali. Kiranya Sudawira telah berhasil menanamkan semangat juang kepada pemuda-pemuda desa.
Dua wakil ketua iblis melihat pasukannya hancur mereka segera melesat untuk membantu pasukannya. Namun mereka menghetikan langkahnya ketika seorang pemuda tersenyum sinis menghadang mereka.
"Jadi kau biangkerok nya!" Iblis Botak menatap Sudawira penuh kebencian.
Sudawira tidak berkata apapun dia hanya tersenyum.
Pertarungan pun tidak terelakkan Sudawira melawan dua wakil ketua markas cabang. Seperti sudah mengalami pertarungan bersama dua wakil ketua markas cabang bekerjasama saling mengisi. Namun dari puluhan pertukaran jurus sudah membuktikan Sudawira memiliki kemampuan diatas mereka.
"Kurang ajar bocah ini memiliki kemampuan cukup tinggi," gumam Iblis Botak.
Pasukan markas cabang telah hancur berantakan strategi dan siasat Sudawira telah berhasil menghancurkan mereka. Meski bagi para pemuda desa pertempuran ini merupakan pertama kalinya. Namun strategi yang diterapkan Sudawira mampu dijalankan mereka dengan baik.
Pertarungan antara Sudawira dan dua wakil ketua markas cabang. Telah hampir selesai dua orang itu sudah mulai lemah. Sudawira menggabungkan ajian panglimunan dan jurus tapak matahari. Dia dapat berpindah tempat menyerang dari mana saja. Sengatan pukulan tapak matahari. Tidak ada kata lagi untuk membayangkan betapa mengerikannya.
__ADS_1
Mereka hanya menunggu Sudawira mencabut nyawa mereka.
Sudawira tersenyum sebelum menghilang dari pandangan.
"Akhh ... akhhh"
Dua orang itu terpental terhempas ke bangunan rumah dengan kondisi gosong dan tak bernyawa lagi.
Sudawira mengatur napasnya kembali. Dia mengubah perhatiannya ke tempat pertempuran pasukannya. Terlihat mayat-mayat bergelimpangan bau anyir darah jangan ditanya lagi.
"Berhenti!" teriak Sudawira mengandung tenaga dalam sehingga terdengar keseluruh penjuru pertempuran.
Semua yang sedang bertarung segera berhenti.
"Dengar pimpinan kalian telah mati, sekarang kalian menyerahlah!" ujar Sudawira.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu semua pasukan markas cabang segera menjatuhkan senjata dan berlutut. "Kami menyerah!" Secara serentak mereka berkata.
Ki Suroto menghampiri Sudawira. "Kita apakan mereka Wira?"