
Malam semakin larut awan-awan hitam mulai menutupi langit. Pesta ditutup dengan sambutan-sambutan Prabu Surasesa mengucapkan terimakasih kepada seluruh tamu yang hadir.
Satu persatu semua orang meninggalkan pesta, beberapa rakyat yang turut menyaksikan telah kembali ke rumahnya masing-masing, para tamu undangan telah pergi ke tempat peristirahatan, para prajurit berjibaku membersihkan tempat bekas acara pesta.
Setelah semua selesai para prajurit kembali ketempat peristirahatan mereka untuk mengistirahatkan badan setelah seharian bekerja.
Keadaaan pun menjadi hening yang terdengar cuma beberapa para prajurit yang berjaga-jaga.
Karena sebagian orang telah tertidur pulas karena kelelahan.
Disudut istana didalam kamar yang lumayan luas nampak Sudawira sedang membaca kitab yang diberikan Patih Ajidarma kepadanya.
Kitab tersebut hanya ada seratus halaman saja.
Halaman pertama berisi kalimat pembuka dan sebagian sudah dijelaskan oleh Patih Ajidarma karena merasa tidak penting ia melewatinya ke halaman selanjutnya dan terus membuka halaman ke halaman sampai akhirnya ia selesai kepada halaman terakhir. Ia menutup kembali kitab itu dan menarik nafas panjang.
__ADS_1
Walaupun kitab ini cuma salinan tapi jika seseorang bisa menguasainya secara sempurna, orang itu akan dipastikan menjadi jagoan persilatan ditanah Jawadwipa.
Sudawira menyimpan kembali Kitabnya dibalik baju. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur ia menguap beberapa kali, tanda dirinya sudah mengantuk dan perlahan-lahan matanya tertutup dia tidur sangat pulas disisa malam.
*****
Tiga pendekar muda membungkukkan badan memberikan hormat kepada Prabu Surasesa.
Sudawira, Adiwangsa dan Lestari berpamitan mereka akan pergi meninggalkan istana Kerajaan Ramapala.
Ketiga nya naik ke punggung kuda mereka mulai memacu kudanya melewati para prajurit yang berjajar rapi disetiap sisi jalan sampai ke luar gerbang utama lambaian tangan dan teriakan prajurit-prajurit mengisi keseluruh penjuru istana, Ketiganya pun membalas dengan senyuman dan lambaian tangan pula.
"Semoga kamu menjadi pendekar terkuat wira" Gumam Patih Ajidarma yang menatapnya hingga Sudawira menghilang diantara bangunan-bangunan kota raja.
Setelah setengah hari mereka sampai di penghujung Bumi Kotaraja mereka menghentikan langkah kudanya. Ketiganya beristirahat di persimpangan jalan dibawah pohon beringin yang cukup besar dan rindang.
__ADS_1
Setelah mengingatkan tali kudanya ke salah satu pohon kecil ketiganya duduk bersampingan. Sudawira mengambil kendi tempat air untuk menghilangkan dahaga.
Adiwangsa dan Lestari pun melakukan hal yang sama.
Persimpangan ini merupakan akhir dari kebersamaan mereka karena mereka akan pergi berlawanan Sudawira akan pergi barat sedangkan Adiwangsa dan Lestari pergi timur. Ini lah yang membuat Lestari menjadi banyak diam karena perasaannya yang bergejolak baru kali ini ia merasakan sakitnya suatu perpisahan dengan seseorang yang terlanjur dia sayangi. Ingin rasanya ia menangis namun ia masih bisa menguasai dirinya.
****
Saya sebagai author sangat banyak berterimakasih kepada teman semua yang telah membaca novel ini.
Mungkin ada beberapa cerita yang diubah namun tidak akan mengubah alur cerita.
Maka dari itu saya sangat bergembira bila mana temen-temen terus mendukung saya.
Saya juga selalu tanpa henti meminta kritik saran untuk disertakan di kolam komentar agar saya bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada pada setiap chapter.
__ADS_1
Terus jaga kesehatan jaga jarak lindungi keluarga anda dirumah.
#Salam dari saya untuk teman-teman semua