Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Kadipaten Majapada


__ADS_3

Kadipaten Majapada merupakan wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Ramapala. Kadipaten itu merupakan wilayah yang strategis bahkan bisa dibilang Kadipaten paling maju daripada kadipaten yang lain. Semua itu tidak terlepas dari kekayaan alam yang dimiliki mereka bisa mendapatkan sumber makanan dari hasil bumi maupun laut. Makan kadipaten Majapada menjadi pusat kota kedua setelah Kotaraja. Banyak para pedagang dari daerah lain bahkan dari negara tetangga yang menjajakan dagangannya ke Kadipaten ini. Maka kadipaten ini menjadi sangat ramai karena banyaknya pendatang dari luar daerah.


Keramaian itu kini menjadi seperti kota mati karena seminggu yang lalu seluruh kegiatan yang ada wilayah kadipaten di berhentikan dan aksek keluar masuk telah ditutup bersamaan bahawa akan ada peperangan besar di Kadipaten itu.


Senopati Abiyasa yang ditujuk menjadi adipati untuk menjadi penguasa di kadipaten Majapada.


Malam itu senopati Abiyasa tampak berjalan mondar-mandir didalam ruangan seperti ada yang ditunggu.


Tidak berselang lama ada seorang yang mengetuk pintu.


"Masuk!" Perintah adipati Abiyasa.


Tidak lama pintu berderit tampak seorang pasukannya datang lalu memberi hormat.


"Bagaimana apa sudah ada kabar dari pihak istana?" tanya adipati Abiyasa tegas.


"Sudah kajeng, bahkan gusti patih telah mengirimkan empat ribu pasukan beserta beberapa senopati agung!" ujar orang itu.


Adipati Abiyasa menarik napas dia akhirnya merasa lega karena mendapatkan bantuan dari pihak istana.


"Lantas bagaimana dengan pergerakan musuh?"

__ADS_1


"Mereka sudah semakin mendekat kanjeng!" jawab orang itu.


"Terimakasih, sekarang aku akan berkeliling untuk memantau pasukan kita disetiap perbatasan, cepat siapkan kuda!" Perintah Abiyasa Lingga.


Orang itu memberi hormat lalu pergi meninggalkan adipati Abiyasa.


Adipati Abiyasa mengepalkan tangannya sambil memejamkan kedua matanya. "Aku akan berjuang mempertahankan apa yang diamanatkan yang mulia!" batinnya. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan ruangan.


Adipati Abiyasa berkeliling untuk memastikan kesiapan pasukannya yang sudah berada di benteng pertahanan.


Keadaan dibenteng pertahanan cukup siaga semua pasukan sudah siap berperang. Dari kejauhan terlihat kereta kuda yang menghampiri mereka semakin lama semakin mendekat dan akhirnya kereta kuda tersebut berhenti.


"Selamat datang kanjeng Adipati!" Sapa seorang memberi hormat.


"Terimakasih senopati!" Adipati Abiyasa keluar dari kereta kuda.


"Bagaimana pasukan mu senopati?" tanya Adipati Abiyasa.


"Semua telah saya instruksikan sesuai arahan kanjeng Adipati!" jawab senopati.


"Bagus, aku dengar pasukan musuh sudah hampir mendekat!" sahut Adipati Abiyasa.

__ADS_1


"Benar Kanjeng!" jawab senopati.


Adipati Abiyasa segera memeriksa kesiapan pasukannya tidak lupa ia naik ke tempat pengintai. Dia sempat menoleh ke belakang tampak kota yang megah di hiasi cahaya lampu yang gemerlap sangat indah. Dia tidak bisa membayangkan kota itu akan menjadi tempat pertempuran.


"Kanjeng Adipati." Seseorang mengagetkan lamunan adipati Abiyasa.


"Ada apa senopati?" Adipati Abiyasa menoleh.


"Pasukan bantuan akan segera tiba!" ujar senopati Argadana.


Adipati Abiyasa menoleh ke arah luar kadipaten, tampak sekitar seratus meter terlihat beberapa kereta kuda beserta para prajurit kerajaan dibelakang masuk ke arah kadipaten.


"Mari kita sambut!" ujar Adipati Abiyasa sambil turun dari tempat pengintai.


Tidak lama kemudian empat ribu prajurit kerajaan beserta kereta kuda memasuki gapura kadipaten Majapada.


"Berhenti!" teriak seseorang melengking terus disusul beberapa orang dari belakang mengatakan hal yang sama.


Semua prajurit segera berhenti, tidak lama seseorang keluar di ikuti beberapa prajurit pelindung kerajaan.


Adipati Abiyasa diikuti seluruh pasukannya membungkukkan badan memberi hormat. "Selamat datang Gusti Patih!"

__ADS_1


__ADS_2