
Malam terang bermandikan cahaya bulan purnama yang menerangi seluruh bumi.
Dibawah sinar cahaya bulan purnama tampak dua orang sedang duduk di atas pelupuh bambu didalam pondok.
"Sekarang kamu ceritakan kejadian selama kamu bersemedi!" kata Ki Wanaraja menatap tersenyum.
Maka Sudawira menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya saat melakukan semedi didasar danau. Dengan sangat gamblang tidak ada yang terlewat.
Ki Wanaraja manggut-manggut mendengarkan cerita. Sambil menelaah pelajaran-pelajaran yang bisa diambil.
Setelah selesai bercerita Sudawira menarik nafas.
"Begitulah ceritanya guru!"
"Luar biasa, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil," katanya sambil memegang bahu Sudawira.
"Ada 4 poin yang bisa kita ambil dari ceritamu yaitu, kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, serta keputusasaan. Ke 4 poin itu akan selalu datang dalam kehidupan kita. Dimana ada ketakutan maka disitu kita akan menghadapi keputusasaan ketika keputusasaan menghampiri kita akan dilanda kesedihan, tapi kamu harus ingat dibalik kesedihan akan selalu datang kebahagiaan. Intinya jangan pernah menyerah kepada ketakutan, keputusasaan, serta kesedihan. Karena ketika kita terus melawan maka semuanya akan berubah menjadi sebuah kebahagiaan."
__ADS_1
Sudawira memejamkan mata. Kini ia tersadar bahwa perjalanan hidup tidak selamanya berjalan lurus akan selalu ada tikungan atau ada jalan yang terjal harus dilewati. Namun terlepas dari itu kalau kita tidak mudah menyerah maka kita akan sampai kepada tempat tujuan.
Ke esok harinya Sudawira mulai berlatih ilmu kanuragan. Dia mulai mempelajari kitab kesatria suci dengan bimbingan Ki Wanaraja.
****
"Selamat datang tuan Batara." Ki Sadewa memberi hormat kepada orang yang baru datang. Serta mempersilahkan duduk.
"Hahaha, rasanya telah lama kita tidak bertemu," ucap Batara.
Batara adalah salah satu tetua dari Perguruan Bambu Kuning.
Setelah para ketua perguruan yang mendapatkan undangan telah hadir. Maka pertemuan pun dibuka langsung oleh ketua Perguruan Rajawali Putih.
"Kejadian ini sangat penuh kehangatan," ucap Ki Sadewa.
"Maksud ketua?" tanya Ki Brajaseta. Ketua dari Perguruan Teratai Putih.
__ADS_1
"Kita semua tahu, bahwa Perguruan Angin Timur sudah lama tidak ikut campur dalam dunia persilatan!"
Semua saling pandang, memang benar adanya bahwa Perguruan Angin Timur sudah lama menutup diri. Perguruan itu sudah tidak ikut campur urusan dunia persilatan.
"Aku yakin ini sebuah peringatan, bisa juga sebagai ancaman untuk golongan putih," kata Batara.
"Bisa juga, namun kita jangan terlalu larut kesana. Kita tidak tahu mungkin saja Perguruan Angin Timur memiliki musuh." Ajiseta berkata acuh tak acuh.
Ajiseta merupakan ketua dari Perguruan Tapak Sakti golongan putih.
"Saya tidak sependapat dengan ketua Ajiseta, seolah-olah tuan ingin menghilangkan masalah ini," ucap Batara menatap Ajiseta curiga.
Ajiseta merasa tersinggung dia berdiri dengan tatapan dingin. "Apa kamu menuduh aku pelakunya!" bentaknya.
Susana menjadi tegang. Ajiseta yang tersulut emosinya, karena mendengar perkataan Batara yang menyudutkannya.
"Sabar ... sabar, jangan terbawa emosi kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin!" Ki Sadewa menengahi keduanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Suasana menjadi sediakala lagi. Setelah Ki Sadewa merelerai perselisihan antara Batara dan Ajiseta yang sempat terjadi ketegangan dalam pertemuan itu.