
Adiwangsa tersenyum dia bergerak cepat seperti angin dan muncul sejengkal dihadapan Pramudya dengan Pedang nya sudah menembus tubuh Pramudya sampai ke punggung nya.
Pramudya tersenyum dia bergumam, "Maapkan aku kakang, tidak bisa membalaskan kematian mu"
Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Adiwangsa mencabut pedangnya, Ia menarik nafasnya beberapa kali.
Namun tiba-tiba tubuh mereka semua orang gemetar. Butuh beberapa saat Adiwangsa dan Lestari untuk menyesuaikan.
Terlihat seorang melayang dan mendarat ditanah. Seorang kakek tua wajahnya tampak mengkerut namun matanya masih sangat tajam dan menakutkan. Rambutnya terlihat hampir seluruhnya menjadi putih dengan ikat kepala berwarna merah melambangkan dirinya dari perguruan Iblis Merah. Ia menggenggam sebuah tongkat berwarna hitam dengan garis merah yang terukir menghiasi pinggir nya dan terdapat kepala tengkorak berwarna merah diujung nya.
"Tadinya aku tidak ingin berurusan dengan kalian, karena tujuan utama aku adalah Patih Ajidarma, tapi setelah apa yang kamu lakukan kepada murid ku tidak ada alasan bagiku untuk tidak membunuh kalian" Suaranya berat mengandung tenaga dalam membuat orang yang mendengarnya bergidik.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Adiwangsa dia menggertakkan giginya darahnya mendidih amarahnya memuncak. Bukan tanpa alasan Ia menyimpan dendam membara karena kematian kedua orangtuanya disebabkan oleh Ketua perguruan Iblis Merah. Dan sekarang orang tersebut ada dihadapannya. Karena itu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menuntut balas.
"Dengan senang hati orang tua"ucap Adiwangsa.
"Hahaha, ternyata pendekar muda seorang pemberani juga" Ki Junhatra tertawa.
"Bersiaplah menyambut kematian mu orang tua" Adiwangsa melesat cepat mengarahkan pedannya ke dada Ki Junhatra. Namun sebelum sampai Ki Junhatra menghilang pedangnya menembus angin. Ki Junhatra sudah berada dibelakang dan mendarat tongkat nya ke punggung Adiwangsa yang tidak sempat menghindar dia terdorong kedepan.
Adiwangsa mengumpat serapah lawannya kali ini cepat seperti angin.
Dengan demikian keduanya terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit. Awalnya Adiwangsa kesulitan dengan gerak cepat Ki Junhatra namun lama-lama dia bisa mengikutinya.
Ki Junhatra tersenyum, "Cukup menarik, kemampuan mu boleh juga"
__ADS_1
Namun Adiwangsa tidak memperdulikan ocehannya, dia terus melancarkan serangan yang membabi-buta seperti seekor macan yang ngamuk.
"Dirimu terlalu bersemangat anak muda, Apakah kita memiliki masalah pribadi" Insting seorang pendekar yang malang melintang di dunia persilatan, Ki Junhatra merasakan bahwa anak muda didepannya seperti ingin membinasakan nya.
"Apa kamu lupa dengan Sharkuti dan Nharati"Jawab Adiwangsa.
Ki Junhatra wajahnya serius mendengar nama-nama yang disebut Adiwangsa, "Apa hubungan mu dengan keduanya?"
"Aku putranya" jawab Adiwangsa.
Ki Junhatra merapatkan giginya, lalu terdengar, "Bagus, tidak repot-repot aku mencari sisa-sisa keluarganya"
Ki Junhatra lebih cepat mempercepat serangan nya membuat Adiwangsa terdesak dan terpaksa bertahan tanpa bisa membalas serangan. Tongkat nya berputar-putar menyambar-nyambar. Lama-lama tongkatnya mengeluarkan cahaya merah setiap sentuhannya mengandung tenaga dalam gerakannya yang memutar membuat Adiwangsa kesulitan sehingga memberikan celah tidak membuang kesempatan Ki Junhatra mendaratkan tongkanya didada.
__ADS_1
"Pukulan Tongkat Iblis Merah"
Adiwangsa menjerit dan ia terpental jauh membentur dinding rumah. Dia tersungkur memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dia meraba dadanya terlihat luka yang perih sangat panas.