Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Dewi Manik di Culik


__ADS_3

Ki Suroto beserta Sudawira menghetikan langkahnya di depan sebuah pondok. Namun keduanya mengernyitkan kening ketika mendapati pintu terbuka.


"Sepertinya ada yang aneh pendekar?" tanya Ki Suroto.


"Aku merasakan firasat buruk Ki, mari kita kedalam!" Sudawira masuk ke dalam pondok diikuti Ki Suroto dibelakang.


Alangkah terkejutnya keduanya ketika mendapati keadaan pondok yang berserakan seperti telah terjadi pertarungan sebelumnya.


Ki Suroto segera menyisir seluruh kamar dia menjatuhkan tubuhnya ketika melihat istrinya terbaring tidak bernyawa dengan beberapa luka ditubuhnya. "Apa yang terjadi kepada mu!" Ki Suroto tidak kuasa menahan air matanya keluar.


Sudawira mematung melihat kejadian yang tidak terduga dia mengepalkan tangannya.


Dia segera duduk disamping Ki Suroto. "Kita tidak bisa melawan sebuah takdir. Kita harus menerima apa yang sudah diguratkan sang pencipta!" lirih Sudawira.


"Kita harus segera menyelamatkan cucu saya beserta teman pendekar!" Ki Suroto yang tidak ingin terlalu larut dalam keadaan.


"Benar Ki, kita harus segera menguburkan jenazah Nini Mirah!" ujar Sudawira.


Setelah mereka menguburkan jenazah istri Ki Suroto. Keduanya segera bergegas ke markas kecil. Dugaan Ki Suroto mengarah kepada marakas kecil itu, karena selama ini mereka lah yang menginginkan cucunya yang di yakini memiliki darah suci.

__ADS_1


Di Markas kecil tertawa bahagia terdengar diantara anak buah Ki Sapto Aji. Karena buruan mereka selama ini telah di dapatkan.


"Hahahaha. Aku senang kerja kalian!" Ki Sapto Aji tertawa kemenangan. "Siapkan kereta hari ini juga! Kita antarkan gadis itu ke markas cabang!" perintah Ki Sapto Aji.


Markas cabang berada di kota kadipaten Bumiayu. Kediaman kadipaten sendiri yang menjadi markas cabang kelompok Pemuja Surga Dunia setelah mereka berhasil menaklukkan kadipaten tersebut.


****


Sudawira dan Ki Suroto langsung masuk ke markas kecil tersebut. Keduanya menghabisi setiap orang yang menghadang mereka.


Tidak menunggu waktu lama keduanya telah berhasil menghabisi nyawa anak buah Ki Sapto Aji. Namun sayang mereka tidak menemukan cucu Ki Sapto Aji.


"Ampun ... tuan ..." orang itu gemetar keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh.


"Sekali lagi aku katakan kemana ketua mu membawa cucuku?" Ki Suroto menekan pedangnya seketika leher orang itu mengeluarkan darah terasa perih.


"Kemarkas cabang tuan!" jawab orang itu terbata-bata.


Setelah selesai berkata orang itu langsung tak bersuara lagi untuk selamanya.

__ADS_1


"Kita harus cepat pendekar aku rasa mereka belum terlalu jauh!" ujar Ki Suroto.


Sudawira menganggukan kepala. Mereka pergi meninggalkan markas kecil tersebut. Namun sebelum pergi Ki Suroto membakar markas tersebut beserta para mayat didalamnya.


Dua kereta kuda dan sekitar empat puluh orang dibelakang yang mengawal. Mereka adalah rombongan Ki Sapto Aji menuju markas cabang yang berada dikadipaten Bumiayu.


Namun mereka dikejutkan dengan derap kaki kuda yang mengarah kepada rombongan. Si Burma segera menghadang orang tersebut, ternyata salah satu anak buahnya sendiri yang bertugas menjaga markas.


"Adapa kenapa kau kemari?" tanya si Burma.


"Gawat ... markas kita diserang dan dihancurkan oleh Ki Suroto beserta seorang pemuda!"


Si Burma segera melapor kepada ketuanya. "Kurang ajar!" Ki Sapto Aji melotot tidak percaya.


"Apa yang harus kita lakukan ketua?" tanya Si Burma.


"Secepat nya kita segera menuju markas cabang!"


Si Burma segera menyuruh anak buahnya mempercepat jalannya supaya tidak terkejar.

__ADS_1


__ADS_2